
Pakar PBB serukan pencabutan lebih awal sejumlah sanksi terhadap Suriah

Geir Pedersen (tampak di layar), utusan khusus Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk Suriah, memberikan penjelasan dalam pertemuan Dewan Keamanan tentang situasi kemanusiaan di Suriah melalui tautan video di markas besar PBB di New York, pada 25 Oktober 2022. (Xinhua/UN Photo/Loey Felipe)
Sanksi sepihak terhadap Suriah telah menyebabkan 90 persen penduduknya saat ini hidup di bawah garis kemiskinan, dengan akses yang terbatas ke makanan, air, listrik, tempat tinggal, bahan bakar, transportasi, dan perawatan kesehatan.
Jenewa, Swiss (Xinhua) – Sanksi-sanksi sepihak terhadap Suriah harus dicabut sesegera mungkin, demikian dikatakan seorang pakar Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada Kamis (10/11).Sanksi-sanksi tersebut berkontribusi pada kehancuran dan trauma yang diderita oleh rakyat Suriah, kata Alena Douhan, Pelapor Khusus PBB (UN Special Rapporteur) untuk tindakan pemaksaan sepihak dan hak asasi manusia.Setelah kunjungannya selama 12 hari ke Suriah, Douhan mengaku terkejut akan dampak kemanusiaan dari sejumlah tindakan yang diberlakukan terhadap Suriah, sebuah negara yang berusaha untuk bangkit kembali pascaperang selama satu dekade.Douhan mengatakan bahwa 90 persen penduduk Suriah saat ini hidup di bawah garis kemiskinan, dengan akses yang terbatas ke makanan, air, listrik, tempat tinggal, bahan bakar, transportasi, dan perawatan kesehatan. Negara tersebut sedang menghadapi pengurasan keterampilan atau "brain-drain" dalam skala besar karena meningkatnya kesulitan ekonomi, katanya."Dengan lebih dari separuh infrastruktur vital hancur total maupun rusak parah, penjatuhan sanksi sepihak terhadap sektor-sektor ekonomi utama, termasuk minyak, gas, listrik, perdagangan, konstruksi, dan rekayasa, telah menghapus pendapatan nasional, dan melemahkan upaya menuju pemulihan dan rekonstruksi ekonomi," imbuh Douhan."Dalam situasi kemanusiaan yang kritis dan masih memburuk saat ini, di saat 12 juta warga Suriah bergulat dengan kerawanan pangan, saya mendesak pencabutan segera semua sanksi sepihak yang sangat merugikan hak asasi manusia dan menghalangi segala upaya untuk pemulihan dini, pembangunan kembali, dan rekonstruksi," tegasnya.
Seorang pengungsi Suriah mengemasi barang-barang ke atas truk saat persiapan untuk kembali ke Suriah di Kota Arsal, Lebanon, pada 26 Oktober 2022. (Xinhua/Ali Hashisho)
Bagikan

Komentar
Berita Terkait

Jumlah warga Palestina yang tewas di Gaza bertambah jadi 27.708
Indonesia
•
08 Feb 2024

Badan-badan bantuan sebut konflik perburuk situasi kemanusiaan di Somalia
Indonesia
•
08 Mar 2023

Sebagian besar wilayah Swedia lumpuh akibat badai salju
Indonesia
•
22 Nov 2022

22 warga Palestina tewas dalam serangan Israel di Gaza
Indonesia
•
11 Nov 2024


Berita Terbaru

Feature – Hewan terancam punah ini kini menjadi bintang persiapan piala dunia 2026
Indonesia
•
06 Jun 2026

Feature – Saat banyak orang berhenti belajar di usia 40, mereka justru baru memulai
Indonesia
•
06 Jun 2026

Festival Kuliner Indonesia di China diserbu pengunjung, rendang paling digemari
Indonesia
•
06 Jun 2026

Polandia larang ponsel pintar di sekolah dasar untuk cegah kecanduan digital
Indonesia
•
06 Jun 2026
