Feature – Tren makanan kukus dan rebus meningkat di Jakarta, warga urban mulai tinggalkan gorengan

Foto menunjukkan lapak makanan kukus dan rebus yang ada di sebuah stasiun kereta rel listrik (KRL) di Jakarta pada 19 Juni 2026. (Xinhua/Ferdi)

Jakarta (Xinhua/Indonesia Window) – Matahari baru saja menyembul di ufuk timur Jakarta, membawa hawa sejuk yang perlahan terkikis oleh riuh rendah langkah kaki para pekerja komuter. Di salah satu stasiun tersibuk di ibu kota, Ella (45) melangkah keluar dari gerbong kereta rel listrik (KRL) yang padat.

Sebagai seorang karyawati swasta yang sehari-hari beraktivitas di kawasan Sudirman, ritme pagi yang serba cepat sudah menjadi makanan sehari-hari baginya. Namun, belakangan ini ada satu ritual baru yang tak pernah dilewatkannya sebelum ke kantor.

Dia melipir sejenak ke arah kepulan asap hangat yang membubung dari sebuah lapak kuliner di sudut area stasiun. Di sana, berjejer rapi jagung manis, ubi jalar, kentang, telur, dan kacang tanah yang tampak mengepul matang.

Ella mengeluarkan dompetnya. Hanya dengan beberapa belas ribu rupiah, dia sudah mendapatkan seporsi jagung manis dan ubi kukus hangat untuk sarapan sebelum memulai rutinitas kerja yang padat.

"Alasan utamanya tentu kesehatan," ujar Ella saat berbincang dengan Xinhua di Jakarta pada Jumat (19/6) mengenai kebiasaan barunya itu. Ditanya tentang pilihannya, dia mengaku metabolisme tubuhnya di usia kepala empat sudah banyak berubah.

"Jujur di usia saya yang sudah 40 plus ini, metabolisme tubuh kan sudah gak kayak dulu lagi. Harus pintar-pintar kurangi gorengan dan makanan tinggi minyak atau gula. Makanan kukus dan rebus begini kan alami, minim proses, jadi merasa lebih aman saja di badan. Selain itu, ubi atau jagung itu seratnya tinggi, jadi kenyangnya awet tapi gak bikin begah," tambah wanita yang bekerja di sebuah institusi pendidikan di Jakarta itu.

Bagi pekerja komuter seperti Ella, kepraktisan adalah segalanya. Membeli rebusan di stasiun tidak memakan waktu lama karena pedagang sudah siap mengemasnya, makanannya bersih, dan tidak membuat tangan berminyak. Dari segi ekonomi, harganya pun sangat ramah di kantong, berkisar antara 10.000 hingga 15.000 rupiah per porsi. Jauh lebih hemat dan sehat dibandingkan membeli kopi susu kekinian atau camilan di kafe mal dekat kantornya.

Geliat bisnis kukusan dan rebusan

Peluang pasar dari meningkatnya kesadaran kesehatan kaum urban ini ditangkap dengan cerdik oleh para pelaku usaha mikro di area transportasi publik. Salah satunya adalah Hartono (48), pemilik lapak yang berlokasi di Stasiun Manggarai, Jakarta Selatan.

Berjualan sejak akhir tahun 2022, tepat saat pembatasan pandemi mulai dicabut, Hartono menyaksikan sendiri bagaimana stasiun KRL menjelma menjadi episentrum perputaran ekonomi baru.

"Alasan saya berjualan makanan kukus dan rebus ini sebenarnya cukup taktis," ujar Hartono kepada Xinhua di Jakarta pada Jumat yang sama.

Menurutnya, modal minyak goreng yang sempat naik-turun menjadi pemicu awal. Selain itu, gorengan cenderung kurang menarik jika sudah dingin. Ini berbeda dengan sistem kukus atau rebus di mana makanan selalu hangat di dalam dandang, sehingga aromanya terus menggugah selera.

Variasi menu yang ditawarkan Hartono terbilang lengkap agar pembeli tidak bosan, antara lain jagung manis rebus, kacang tanah rebus, ubi kukus, telur rebus, singkong rebus, dan talas rebus.

Dengan harga yang dipatok bersahabat, mulai 5.000 hingga 15.000 rupiah, lapak Hartono kerap dipadati antrean panjang, terutama pada jam padat pulang kerja. Omzet hariannya pun terbilang menggiurkan. Pada hari kerja, dia mampu mengantongi 800.000 hingga 1,2 juta rupiah per hari.

"Tren sehat ini menurut saya bukan musiman, tapi sudah jadi kebutuhan orang kota yang sibuk," tuturnya dengan nada optimistis.

Bukan monopoli generasi tua

Meskipun makanan rebusan identik dengan kuliner tradisional atau konsumsi generasi tua, survei terbaru dari salah satu media daring nasional menunjukkan adanya perubahan.

Menurut survei IDN Research Institute dalam Indonesia Millennial and Gen Z Report (IMGR) 2027 yang dimuat IDN Times, makanan rebus dan kukus kian populer di kalangan anak muda Indonesia.

Sebanyak 85,2 persen dari 628 responden dari generasi milenial dan generasi Z pernah membeli makanan rebus atau kukus sebagai pengganti camilan dalam enam bulan terakhir. Sementara, sebanyak 25 persen mengonsumsinya secara rutin dan 47 persen lainnya mengonsumsi makanan rebus atau kukus setidaknya sekali dalam sepekan.

Survei tersebut juga mengungkapkan alasan utama responden memilih makanan rebus dan kukus adalah demi kesehatan. Sebanyak 56,3 persen responden memilih makanan rebus atau kukus karena lebih sehat dan membantu menghemat pengeluaran.

Tren ini berjalan beriringan dengan maraknya kampanye gaya hidup sehat, gerakan berkebun mandiri di rumah (grow your own food), serta meningkatnya kesadaran lingkungan di kalangan generasi muda urban.

Bagi mereka, mengonsumsi makanan minim proses (minimally processed food) bukan sekadar urusan diet, melainkan bagian dari identitas gaya hidup yang modern dan bertanggung jawab.

Melihat fenomena mengurangi konsumsi gorengan dan makanan berminyak pada pagi hari yang kian populer, freelance nutritionist Milda Hasna, S.Gz. (25) memberikan catatan penting.

Dia memandang tren ini sebagai sinyal positif meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap makanan rendah kalori dan rendah lemak jenuh.

Namun, dirinya mengingatkan agar masyarakat tidak terjebak dalam rasa bersalah berlebih atau menghindari minyak secara ekstrem.

"Secara ilmu gizi, asupan lemak tetap harus dipenuhi oleh setiap individu. Mengurangi asupan lemak secara berlebihan tanpa perhitungan justru merugikan tubuh," jelas Milda dalam wawancara dengan Xinhua pada Ahad (21/6).

Dampak jangka panjang dari eliminasi lemak secara total meliputi gangguan penyerapan vitamin larut lemak (vitamin A, D, E, K), ketidakseimbangan produksi hormon, hingga kekurangan energi kronis yang dapat mengganggu metabolisme tubuh.

Menurut Milda, ada empat panduan penting untuk memulai tren makanan kukus dan rebus ini.

"Yang pertama, perhatikan variasi makanan. Mayoritas menu rebusan di pasaran didominasi karbohidrat, seperti ubi, singkong, jagung, kentang. Penting untuk menambahkan sumber protein seperti telur rebus, tahu, tempe, atau kacang kedelai rebus agar sarapan menjadi seimbang," paparnya.

Panduan yang kedua adalah mencukupi kebutuhan serat. Kita bisa menambahkan konsumsi buah potong atau pecel sayur sebagai pelengkap hidangan, imbuhnya.

"Yang ketiga, batasi cocolan tinggi kalori. Hindari penggunaan saus kemasan atau mayones secara berlebihan yang justru merusak esensi sehat dari makanan kukus-rebus," kata Milda.

Panduan yang terakhir menurut Milda adalah harus selektif dan higienis. Untuk menghindari risiko gangguan pencernaan atau keracunan, kita harus memperhatikan kebersihan tempat berjualan dan kesegaran makanan.

Pola hidup sehat berkelanjutan

Salah satu alasan utama mengapa orang menyerah di tengah jalan saat mengonsumsi makanan rebusan adalah rasanya yang cenderung hambar. Milda menyarankan pemanfaatan rempah-rempah alami seperti bawang putih, bawang merah, jahe, kemiri, lada, ketumbar, daun jeruk, dan daun salam.

Selain mendongkrak cita rasa, rempah tersebut kaya akan antioksidan. Penggunaan garam dan kaldu bubuk pun diperbolehkan, asalkan ditaburkan setelah masakan matang agar rasanya lebih pekat dan kuantitasnya bisa ditekan.

Bagi penderita diabetes yang kerap memanfaatkan umbi rebusan karena indeks glikemik (GI) yang lebih bersahabat, Milda mengingatkan untuk tetap memperhatikan beban glikemik (glycemic load) atau porsi yang dikonsumsi agar tidak memicu lonjakan gula darah.

"Penderita diabetes dianjurkan menerapkan konsep 3 TJ. Pertama, tepat jenis dalam memilih karbohidrat dengan GI rendah dibanding karbohidrat kompleks olahan. Kedua, tepat jumlah dalam mengontrol porsi makanan dan mengimbanginya dengan porsi protein serta serat yang adekuat. Dan, ketiga, tepat jam dalam mengatur waktu makan secara konsisten demi menjaga kestabilan kadar glukosa darah," urainya.

Pada akhirnya, metode memasak dengan cara dikukus atau direbus memang sangat dianjurkan, terutama bagi individu yang sedang mengontrol berat badan karena dapat memangkas asupan kalori dari minyak secara signifikan.

Namun, penurunan berat badan yang berkelanjutan tetap membutuhkan dukungan faktor lain seperti olahraga, kualitas tidur, tingkat stres, dan kecukupan air putih.

Milda menegaskan prinsip "diet should be fun". Jangan sampai pembatasan makanan memicu stres berlebih yang justru berujung pada fenomena diet yoyo, saat berat badan naik-turun drastis akibat diet ekstrem yang memicu relapse ke pola makan lama, tuturnya.

Kembali ke penganan lokal yang minim proses seperti yang dilakukan Ella dan difasilitasi oleh pedagang seperti Hartono dapat menjadi salah satu langkah awal menuju pola makan yang lebih seimbang.

Selama dijalani dengan konsep gizi seimbang dan tanpa obsesi berlebih, tren makanan kukus dan rebus ini berpotensi besar bergeser dari sekadar tren musiman menjadi sebuah investasi kesehatan seumur hidup bagi masyarakat Indonesia.

Selesai

Penulis: Ferdiyanto

Bagikan

Komentar

Berita Terkait