Fokus Berita – Operasi Taufan Al-Aqsa ungkap keburukan Israel dan sekutu Baratnya

Direktur Yayasan Persahabatan dan Studi Peradaban (YPSP), Dr. Ahed Abu Alatta (kedua dari kiri); Ketua Bidang Hubungan Luar Negeri dan Kerja Sama Internasional Majelis Ulama Indonesia (MUI), Prof. Dr. Sudarnoto Abdul Hakim (tengah); pakar Timur Tengah Universitas Indonesia, Yon Machmudi, PhD. (kedua dari kanan); dan penulis dan produsen film, Asma Nadia (paling kanan), dalam diskusi bersama bertema 'Ramadhan Bersama Gaza: Peran Kita Dalam Meringankan Beban Gaza' yang digelar oleh YPSP di Jakarta...
Operasi Taufan Al-Aqsa atau Operasi Badai Al-Aqsa yang diluncurkan oleh faksi perlawanan di Gaza, Hamas, terhadap pihak Israel di Palestina sejak 7 Oktober setahun silam telah mengungkap sejumlah besar kebobrokan dan kebusukan pemerintahan zionis berikut para sekutu Baratnya, serta rusaknya sistem keadilan dan standar moral global.
Jakarta (Indonesia Window) – Operasi Taufan Al-Aqsa atau Operasi Badai Al-Aqsa yang diluncurkan oleh faksi perlawanan di Gaza, Hamas, terhadap pihak Israel di Palestina sejak 7 Oktober setahun silam telah mengungkap sejumlah besar kebobrokan dan kebusukan pemerintahan zionis berikut para sekutu Baratnya, serta rusaknya sistem keadilan dan standar moral global.Hal tersebut ditegaskan oleh Direktur Yayasan Persahabatan dan Studi Peradaban (YPSP), Dr. Ahed Abu Alatta, dalam diskusi bersama bertema 'Ramadhan Bersama Gaza: Peran Kita Dalam Meringankan Beban Gaza' yang digelar oleh YPSP di Jakarta, Jumat (5/4)."Operasi Badai Al-Aqsa telah memasuki hari ke-182, dan korban terus berguguran," ujarnya, seraya menambahkan, perjuangan di Gaza saat ini membongkar banyak hal.Operasi Taufan Al-Aqsa membongkar kedok negara-negara Barat yang selama ini menggembar-gemborkan diri sebagai yang paling menjaga dan menjunjung tinggi kemanusiaan, ternyata justru merusak dan menghancurkan sendi-sendi kemanusiaan di Gaza, terangnya.Selanjutnya, kata Dr. Alatta, Operasi Badai Al-Aqsa membongkar niat dan rencana busuk Israel untuk menguasai Tanah Palestina serta menghancurkan masjid dan situs suci ketiga Umat Islam Al-Aqsa di Al-Quds atau Yerusalem.Di sisi lain, bergemingnya negara-negara Muslim besar di dunia terhadap kebiadaban Israel dan penderitaan warga Palestina, khususnya di Gaza, menunjukkan bahwa gerakan perlawanan terhadap rezim zionis yang dipimpin Hamas mengungkapkan kelemahan pemerintahan negara-negara Muslim."Bahkan tidak sedikit negara-negara ini yang justru menjalin kerja sama dengan Israel. Sebagian lainnya diam atau tidak mampu mencegah kejahatan Israel. Mereka akan muncul nanti jika permasalahan di Palestina hampir padam," ujar Dr. Alatta.Dia menegaskan bahwa pemerintah dan negara-negara Muslim memiliki peran penting dalam menghentikan penjajahan Israel."Sudah cukup kecaman dan pengutukan. Kita membutuhkan persatuan Umat Islam di bawah kepemimpinan yang kuat untuk melawan Israel," kata Direktur YPSP yang merupakan warga Gaza tersebut.
Direktur Yayasan Persahabatan dan Studi Peradaban (YPSP), Dr. Ahed Abu Alatta, menjawab pertanyaan wartawan usai diskusi bersama bertema 'Ramadhan Bersama Gaza: Peran Kita Dalam Meringankan Beban Gaza' yang digelar oleh YPSP di Jakarta, Jumat (5/4/2024). (Indonesia Window)
Warga Palestina melaksanakan salat Jumat terakhir di bulan suci Ramadan di Kota Rafah, Jalur Gaza selatan, pada 5 April 2024. (Xinhua/Yasser Qudih)
Sejumlah orang berkumpul di antara reruntuhan bangunan yang hancur pascaserangan udara Israel di kamp pengungsi Maghazi, Jalur Gaza tengah, pada 4 April 2024. Kementerian Kesehatan di Jalur Gaza pada Kamis (4/4) mengumumkan bahwa jumlah warga Palestina yang tewas akibat serangan Israel yang masih berlangsung telah menembus angka 33.000. (Xinhua)
Bagikan
Komentar
Berita Terkait

Tanah longsor di Tana Toraja, Sulawesi Selatan, tewaskan 14 jiwa
Indonesia
•
14 Apr 2024

Mendag harapkan Jakarta Fashion Week 2023 tumbuhkan industri fesyen Indonesia
Indonesia
•
25 Oct 2022

Pertamina yakin capai target pengeboran 161 sumur di Blok Rokan
Indonesia
•
19 Aug 2021

Indonesia nikmati Visa ASAN Azerbaijan
Indonesia
•
06 Nov 2019
Berita Terbaru

Perkuat kemitraan strategis, Indonesia-Australia tandatangani Traktat Keamanan Bersama
Indonesia
•
07 Feb 2026

Opini – Direktur UKW: Wartawan di masa Orde Baru relatif lebih gigih, ketimbang jurnalis era Gen Z
Indonesia
•
06 Feb 2026

Presiden tegaskan komitmen perjuangkan kemerdekaan Palestina melalui Board of Peace
Indonesia
•
05 Feb 2026

Presiden tegaskan diplomasi realistis, prinsip kehati-hatian Indonesia dalam BOP
Indonesia
•
05 Feb 2026
