
Peneliti China kembangkan ‘alat penanda nano’ untuk imunoterapi kanker

Para ilmuwan dari Institut Teknologi Mutakhir Shenzhen (Shenzhen Institutes of Advanced Technology/SIAT) di bawah naungan Akademi Ilmu Pengetahuan China membahas kemajuan eksperimen mereka di Shenzhen, Provinsi Guangdong, China selatan, pada 22 Februari 2025. (Xinhua/SIAT)
Nanozyme dapat membawa antibodi atau ligan yang mampu mengenali sel kanker, dan berkembang pada permukaan sel kanker melalui sirkulasi darah.
Shanghai, China (Xinhua/Indonesia Window) – Dalam imunoterapi kanker, sel-sel imun di dalam tubuh memerlukan ‘sinyal’ yang kuat dan cukup untuk menyerang sel-sel kanker. Namun, sel-sel kanker sangat mampu menyamarkan diri, dengan sinyal alami yang sangat sedikit pada permukaannya.Untuk mengidentifikasi sel kanker dengan akurat, tim peneliti yang dipimpin oleh Han Shuo dari Pusat Keunggulan Ilmu Sel Molekuler di bawah naungan Akademi Ilmu Pengetahuan China (Chinese Academy of Sciences/CAS) telah menerapkan teknologi pelabelan proksimitas dari penelitian biologi kimia untuk pengobatan penyakit.Mereka berhasil mengembangkan nanozyme rekayasa yang dapat merespons cahaya merah tua atau ultrasonografi, yang digambarkan sebagai "robot penanda nano" yang dapat mengidentifikasi sel kanker dengan akurat, papar Han.Nanozyme dapat membawa antibodi atau ligan yang mampu mengenali sel kanker, dan berkembang pada permukaan sel kanker melalui sirkulasi darah. Dengan memberikan instruksi melalui cahaya merah tua atau ultrasonografi, nanozyme dapat menandai sel kanker dengan jelas dan mengubahnya menjadi target.Para peneliti juga menyuntikkan molekul BiTE yang dibuat khusus ke tubuh tikus dalam eksperimen, yang tidak hanya mampu mengidentifikasi target, tetapi juga mengaktifkan sel T imun untuk membantu melawan kanker."Sistem penanda ini juga dapat mengaktifkan sistem kekebalan tubuh secara keseluruhan untuk membentuk memori jangka panjang, seolah-olah 'vaksin tumor' telah disuntikkan ke dalam tubuh," kata Han.Studi ini telah menunjukkan efek terapeutik yang baik pada model tumor tikus eksperimental dan sampel tumor klinis in vitro. Menurut Han, studi ini diharapkan dapat membuka jalan baru untuk pengembangan imunoterapi generasi berikutnya yang lebih pintar dan efisien.Studi tersebut diterbitkan secara daring pada Rabu (10/9) dalam jurnal Nature.Laporan: RedaksiBagikan

Komentar
Berita Terkait

Unggas air habiskan musim dingin di danau air asin terbesar di China meningkat
Indonesia
•
06 Jan 2023

Pengembangan kerangka logam-organik menangkan Nobel Kimia 2025
Indonesia
•
09 Oct 2025

NASA dan SpaceX luncurkan misi berawak keenam ke stasiun luar angkasa
Indonesia
•
03 Mar 2023

Menilik penerapan konsep rendah karbon di WAFI 2024, mulai dari ‘plantable leaflet’ sampai makanan ‘plant-based’
Indonesia
•
15 Oct 2024


Berita Terbaru

Akumulasi debu sejak 130.000 tahun silam dorong perubahan iklim di Asia
Indonesia
•
17 Mar 2026

Tim peneliti internasional kembangkan implan cetak 3D untuk perbaiki kerusakan jaringan
Indonesia
•
17 Mar 2026

Kapasitas nuklir global yang sedang dibangun capai rekor tertinggi dalam 40 tahun
Indonesia
•
13 Mar 2026

Wahana antariksa NASA kembali masuki atmosfer Bumi beberapa tahun lebih awal dari prediksi
Indonesia
•
13 Mar 2026
