
Peneliti China kembangkan model kualitas udara canggih untuk simulasi polusi

Kendaraan dan orang-orang berlalu-lalang di jalanan yang diselimuti kabut asap akibat memburuknya kualitas udara di New Delhi, ibu kota India, pada 9 November 2021. (Xinhua/Partha Sarkar)
Model kualitas udara baru memungkinkan simulasi lebih akurat untuk dua polutan utama, yakni materi partikulat halus dan ozon tingkat permukaan (ground-level ozone).
Beijing, China (Xinhua/Indonesia Window) – Tim peneliti China berhasil mengembangkan model kualitas udara baru yang memungkinkan simulasi lebih akurat untuk dua polutan utama, yakni materi partikulat halus dan ozon tingkat permukaan (ground-level ozone).Diberi nama Emission and Atmospheric Processes Integrated and Coupled Community Model (EPICC), model ini menyediakan perangkat yang lebih canggih untuk memahami serta mengatasi tantangan polusi udara yang kompleks, terutama di kawasan yang berkembang pesat.Berbeda dengan model kualitas udara sebelumnya yang umumnya dikembangkan oleh peneliti perorangan atau tim kecil – sebuah pendekatan yang kerap membatasi kemajuan secara keseluruhan – inisiatif ini mengadopsi kerangka kerja kolaboratif. Para ilmuwan membentuk ‘Kelompok Kerja Model EPICC’ yang terdiri atas 59 peneliti dari 13 institusi, termasuk Institut Fisika Atmosfer (Institute of Atmospheric Physics/IAP) yang berada di bawah naungan Akademi Ilmu Pengetahuan China (Chinese Academy of Sciences/CAS), Universitas Tsinghua, dan Universitas Peking.Model kualitas udara berperan penting dalam mempelajari formasi, transportasi, dan transformasi polutan di atmosfer bawah, yang mendukung perancangan strategi pengendalian polusi yang efektif. Meski model-model terkemuka secara historis banyak berasal dari Amerika Serikat, para peneliti mengatakan bahwa model tersebut tidak selalu sesuai dengan karakteristik polusi China, yang mencakup asap batu bara, kabut asap fotokimia, dan kabut pekat yang parah.Model EPICC mengintegrasikan temuan ilmiah terbaru mengenai proses-proses utama di atmosfer. Dirancang dengan struktur modular, model ini memungkinkan komponen diperbarui atau dipertukarkan dengan mudah. Model ini juga memasukkan representasi kimia tingkat lanjut, seperti pembentukan sulfat yang dikatalisis mangan serta interaksi antara aerosol dan sinar matahari.Menurut kelompok kerja tersebut, uji kinerja menunjukkan bahwa EPICC versi 1.0 secara signifikan meningkatkan akurasi simulasi materi partikulat berdiameter 2,5 mikrometer atau lebih kecil (PM2.5) dan ozon. EPICC versi 1.0 mengatasi kelemahan umum pada model sebelumnya, yang cenderung menyepelekan polusi sulfat dan memperkirakan konsentrasi ozon musim panas lebih besar dari kondisi sebenarnya."Model ini dapat berfungsi sebagai alat pendukung pengambilan keputusan yang lebih efektif, tidak hanya bagi China, tetapi juga bagi negara-negara berkembang pesat lainnya yang menghadapi persoalan polusi udara kompleks serupa," tambah kelompok kerja tersebut.Penelitian yang memerinci model baru ini telah dipublikasikan di dalam jurnal Advances in Atmospheric Sciences.Laporan: RedaksiBagikan

Komentar
Berita Terkait

China luncurkan sistem operasi PC buatan dalam negeri pertama yang miliki fitur AI
Indonesia
•
10 Aug 2024

Sehelai rambut bisa buktikan kekuatan ikatan ibu dan anak
Indonesia
•
05 Feb 2026

Robot mikro terestrial-aerial nirkabel terkecil di dunia mampu berlagak seperti ‘Transformer’
Indonesia
•
23 Apr 2025

Dengan teknologi insinerasi, sampah diubah jadi energi di PLTSa China
Indonesia
•
10 Jul 2025


Berita Terbaru

Feature – Bayi panda raksasa Rio siap diperkenalkan ke publik mulai akhir Mei
Indonesia
•
24 May 2026

Kaya umbi-umbian, masyarakat Indonesia bisa nikmati mi non-terigu yang sehat
Indonesia
•
24 May 2026

Peneliti Indonesia kembangkan kapal listrik pengangkut sampah untuk kawasan mangrove
Indonesia
•
24 May 2026

Teknologi ‘Organic Rankine Cycle’ ubah panas buangan dari jadi energi listrik
Indonesia
•
24 May 2026
