Menteri transmigrasi belajar dari China: Petani jangan cuma panen, tetapi juga punya pasar

Foto yang diabadikan pada 14 Oktober 2026 ini menunjukkan Menteri Transmigrasi Republik Indonesia Muhammad Iftitah Sulaiman Suryanagara (tengah) sedang berkunjung ke Chongqing, China barat daya. (Xinhua)

Chongqing, China (Xinhua/Indonesia Window) – Dalam kunjungan ke Akademi Ilmu Pertanian Chongqing pada 14 Oktober, delegasi Indonesia melihat langsung bagaimana teknologi dapat mengubah sektor pertanian melalui penggunaan robot untuk menabur benih, memindahkan bibit, hingga memanen sayuran berdaun.

Menteri Transmigrasi (Mentrans) Republik Indonesia (RI) Muhammad Iftitah Sulaiman Suryanagara menunjukkan ketertarikan yang besar terhadap peralatan cerdas tersebut, dan menanyakan bagaimana mesin-mesin itu menangani berbagai tahapan produksi, mulai dari penanaman hingga pemanenan dan pengemasan.

Zhang Yuhao, wakil presiden akademi tersebut, memperkenalkan peralatan kepada delegasi dan menjelaskan bagaimana sayuran berdaun dapat diproduksi melalui proses yang sangat termekanisasi, mencakup penaburan benih, pembibitan, pemindahan bibit, pemanenan, hingga logistik.

Iftitah memuji kemajuan teknologi tersebut dan berharap kerja sama serta pertukaran antara otoritas bidang pertanian Indonesia dan akademi tersebut dapat semakin erat.

Delegasi tersebut, yang merupakan bagian dari kelompok kedua pejabat transmigrasi Indonesia yang berkunjung ke China untuk program studi, juga mengunjungi area percontohan varietas sayuran baru, fasilitas akuakultur dengan sistem resirkulasi air cerdas, serta repositori sampel tanah Chongqing.

Di Indonesia, sektor pertanian memainkan peran penting dalam mendukung masyarakat di kawasan transmigrasi, sehingga teknologi-teknologi ini memberikan berbagai cara potensial untuk meningkatkan produktivitas dan mengembangkan sumber pendapatan yang berkelanjutan.

Iftitah mengatakan dirinya berharap kerja sama dengan mitra-mitra China tidak hanya terbatas pada investasi, tetapi juga mencakup transfer teknologi, pelatihan praktis, dan dukungan bagi para petani lokal.

"Kami tidak ingin para petani menanam durian, menikmati panen yang melimpah, lalu tidak tahu harus menjualnya ke mana," ujarnya.

Pernyataannya tersebut menyoroti tantangan yang dihadapi dalam pembangunan pertanian: peningkatan output saja tidak menjamin mata pencaharian yang lebih baik. Para petani juga membutuhkan fasilitas pengolahan, jaringan distribusi, dan pasar yang andal.

Indonesia memiliki lahan yang cocok untuk budi daya buah tropis, sementara China menawarkan teknologi pertanian, investasi, dan permintaan konsumen yang kuat. Iftitah berharap kedua negara dapat menggabungkan kekuatan tersebut untuk mengembangkan kerja sama di seluruh rantai nilai pertanian, dari budi daya dan pengolahan hingga penjualan.

Sulawesi, yang memiliki potensi besar untuk budi daya durian, menjadi salah satu prioritas pembangunan Indonesia. Papua merupakan wilayah lain dengan peluang investasi pertanian.

Dia berharap perusahaan-perusahaan China tidak hanya membawa modal, tetapi juga teknologi dan keahlian praktis, membantu masyarakat setempat meningkatkan kemampuan mereka dan berbagi manfaat pertumbuhan ekonomi.

Dia juga telah membahas perluasan kerja sama bilateral di bidang pertanian, pariwisata, dan perikanan dengan Chongqing.

Dia mengatakan bahwa dengan menghubungkan teknologi dan investasi dengan pertanian setempat dan permintaan pasar, kedua negara dapat menciptakan peluang bagi petani sekaligus memperkuat hubungan di bidang pertanian.

Di Desa Zhenwugong, lokasi percontohan revitalisasi pedesaan di Chongqing, delegasi melihat bagaimana pertanian dapat dikombinasikan dengan pariwisata untuk menciptakan peluang ekonomi baru.

Desa itu telah mengembangkan agrowisata yang menawarkan pengalaman memetik buah, di samping kegiatan lain seperti memancing, menikmati pemandangan, dan pendidikan sains.

Sambil mengamati perkembangan desa tersebut, Iftitah mencatat berbagai hal dalam buku catatannya. Kunjungan itu memberinya gambaran tentang bagaimana desa kecil di sebuah kota pedalaman China dapat mengembangkan sektor pertanian untuk menarik wisatawan sekaligus memanfaatkan potensi lokal sebagai sumber penghasilan bagi masyarakat setempat.

Desa tersebut menerima lebih dari 300.000 pengunjung setiap tahun. Pendapatan kolektif desa tersebut melampaui 1,1 juta yuan per tahun, sementara pendapatan bersih tahunan per kapita penduduk desa mencapai lebih dari 20.000 yuan.

*1 yuan = 2.699 rupiah

Iftitah mengatakan mereka akan membawa pengalaman pengembangan desa itu ke Indonesia dan mengkaji kemungkinan penerapan pendekatan serupa dengan menyesuaikannya dengan kondisi lokal.

Delegasi tersebut juga mengunjungi Liziba, yang dikenal dengan kereta ringan yang melintas menembus sebuah gedung hunian, dan Mountain City Alley, sebuah kawasan bersejarah yang memadukan lanskap perkotaan tradisional dengan gaya hidup kontemporer.

Iftitah menggambarkan Chongqing sebagai kota populer di kalangan wisatawan Indonesia dan menyatakan harapannya agar pertukaran antarmasyarakat semakin erat, dengan lebih banyak warga Indonesia mengunjungi China dan lebih banyak wisatawan China menjelajahi Indonesia.

Dari fasilitas pertanian cerdas hingga desa yang menggabungkan pertanian dan pariwisata, kunjungan itu memberikan contoh kepada delegasi bagaimana teknologi, industri, dan sumber daya setempat dapat bekerja sama untuk mendukung pengembangan pedesaan.

Iftitah berharap langkah selanjutnya adalah mengadaptasi pengalaman yang relevan dengan kondisi Indonesia dan merealisasikan gagasan bersama menjadi kerja sama konkret yang bermanfaat bagi petani dan masyarakat pedesaan di kedua negara. 

Laporan: Redaksi

Bagikan

Komentar

Berita Terkait