
Peneliti Jepang sebut menuliskan ekspresi kemarahan di atas kertas bisa tenangkan diri

Ilustrasi. ( Glenn Carstens-Peters on Unsplash)
“Mengendalikan kemarahan di rumah dan di tempat kerja dapat mengurangi konsekuensi negatif dalam pekerjaan dan kehidupan pribadi kita.”
Jakarta (Indonesia Window) – Ketika Anda merasa marah atau kesal terhadap seseorang atau suatu hal, jangan membentak lawan Anda atau berteriak ke bantal, tapi tuliskankan perasaan Anda di atas secarik kertas, lalu cabik-cabik atau buanglah catatan tersebut. Ini adalah cara yang efektif untuk menenangkan diri, demikian temuan sebuah penelitian di Jepang baru-baru ini.“Kami berharap metode kami dapat menekan kemarahan sampai batas tertentu,” kata Nobuyuki Kawai, penulis utama penelitian yang diterbitkan pekan ini di jurnal Scientific Reports.“Namun, kami kagum bahwa kemarahan hampir bisa dihilangkan seluruhnya,” kata Kawai, seorang profesor ilmu kognitif di Universitas Nagoya.Sekitar 100 siswa mengambil bagian dalam percobaan ini, di mana mereka diminta untuk menulis opini singkat mengenai isu-isu sosial, seperti apakah merokok di tempat umum harus dilarang.Para peneliti memberi tahu mereka bahwa seorang mahasiswa doktoral di Universitas Nagoya akan mengevaluasi tulisan mereka.Namun terlepas dari apa yang ditulis para peserta, para evaluator memberi nilai rendah pada mereka dalam hal kecerdasan, minat, keramahan, logika, dan rasionalitas. Hal tersebut dilakukan untuk memancing perasaan marah para peserta penelitian dalam lima kategori yakni marah (angry), terganggu (bothered), kesal (annoyed), bermusuhan (hostile), dan jengkel (irritated).Mereka juga menerima tanggapan yang menghina, yang berbunyi: “Saya tidak percaya orang terpelajar akan berpikir seperti ini. Saya harap orang ini belajar sesuatu saat di universitas.”Para siswa kemudian menuliskan perasaan mereka, dan separuh dari mereka – “kelompok pembuangan” – merobek-robek kertas tersebut atau membuangnya, sementara separuh lainnya – “kelompok retensi” – menyimpannya dalam kotak penyimpanan transparan.Semua peserta “menunjukkan peningkatan tingkat kemarahan subjektif” setelah dihina, kata studi tersebut.Namun meskipun kemarahan kelompok retensi tetap tinggi, “kemarahan subyektif kelompok pembuangan menurun” hingga pada titik dinetralkan.Para peneliti berpendapat bahwa temuan mereka dapat digunakan sebagai bentuk pengelolaan kemarahan sementara.“Mengendalikan kemarahan di rumah dan di tempat kerja dapat mengurangi konsekuensi negatif dalam pekerjaan dan kehidupan pribadi kita,” kata mereka.Laporan: RedaksiBagikan

Komentar
Berita Terkait

Pankreas buatan bantu pengidap diabetes akhiri injeksi insulin harian
Indonesia
•
03 Feb 2026

Studi ungkap Sungai Kuning modern mulai terbentuk 1,25 juta tahun lalu
Indonesia
•
22 Aug 2022

Ilmuwan China berhasil temukan mineral Bulan baru, dinamakan Changesite-(Y)
Indonesia
•
10 Sep 2022

Badan Antariksa Eropa luncurkan wahana penjelajah bulan Jupiter
Indonesia
•
19 Apr 2023


Berita Terbaru

China perluas stasiun luar angkasa Tiangong, siap berubah jadi kompleks antariksa raksasa
Indonesia
•
24 Jun 2026

China klaim AI-nya tumbuh eksplosif! Konsumsi token harian capai 100 triliun
Indonesia
•
24 Jun 2026

Ada teknologi yang bisa memprediksi dunia dan vaksin yang melawan kanker, ini 10 inovasi terbesar 2026
Indonesia
•
23 Jun 2026

Terobosan AI untuk MRI kanker: Pemindaian lebih cepat, akurat, dan deteksi tumor lebih dini
Indonesia
•
23 Jun 2026
