
Makanan ultraproses kurangi konsentrasi dan tingkatkan risiko demensia

Ilustrasi. (Christopher Williams on Unsplash)
Makanan ultraproses (ultra-processed foods/UPF), dapat berdampak negatif pada kemampuan otak untuk fokus dan meningkatkan risiko berkembangnya demensia.
Melbourne, Australia (Xinhua/Indonesia Window) – Pola makan yang sarat dengan makanan ultraproses (ultra-processed foods/UPF), dapat berdampak negatif pada kemampuan otak untuk fokus dan meningkatkan risiko berkembangnya demensia, demikian menurut penelitian terbaru pada Jumat (24/4).
Studi tersebut menganalisis pola makan dan kesehatan kognitif pada lebih dari 2.100 orang dewasa Australia berusia paruh baya dan lebih tua yang bebas demensia. Studi tersebut menemukan bahwa peningkatan yang kecil sekalipun dalam asupan UPF setiap hari berkaitan dengan penurunan kemampuan berkonsentrasi yang terukur, terlepas dari kualitas pola makan secara keseluruhan, papar sebuah pernyataan dari Universitas Monash Australia.
Studi itu, yang telah dipublikasikan di dalam jurnal ‘Alzheimer's & Dementia: Diagnosis, Assessment & Disease Monitoring’, memperkuat adanya koneksi yang jelas antara manufaktur makanan industri dan penurunan fungsi kognitif, ujar penulis utama dalam studi ini, Barbara Cardoso dari Universitas Monash.
Cardoso mengatakan peningkatan 10 persen dalam asupan UPF, kira-kira setara dengan menambahkan sebungkus keripik per hari, berkaitan dengan "penurunan yang jelas dan terukur dalam kemampuan seseorang untuk fokus" serta skor yang lebih rendah dalam tes kognitif.
Para partisipan mengonsumsi sekitar 41 persen energi harian mereka dari UPF, seperti minuman bersoda, camilan asin kemasan, dan makanan siap saji, mendekati rata-rata nasional Australia sebesar 42 persen.
"Pemrosesan ultra pada makanan sering kali merusak struktur alami makanan dan memasukkan zat-zat yang berpotensi berbahaya, seperti bahan aditif buatan atau bahan kimia hasil pengolahan," ujar Cardoso. Dia menambahkan bahwa tingkat pemrosesan makanan itu sendiri, bukan hanya kualitas pola makan yang buruk, dapat memengaruhi fungsi otak.
Meskipun tidak ditemukan kaitan langsung dengan kehilangan memori, mereka menyebutkan bahwa penurunan konsentrasi dapat memengaruhi proses belajar dan pemecahan masalah seiring berjalannya waktu.
Laporan: Redaksi
Bagikan

Komentar
Berita Terkait

Aktuator buatan dalam negeri China tingkatkan kinerja teleskop FAST
Indonesia
•
13 Apr 2024

Kerja sama teknologi hijau hadirkan manfaat bagi negara-negara mitra BRI
Indonesia
•
10 Nov 2023

Ginkgo bertahan hidup selama 240 juta tahun
Indonesia
•
22 Sep 2019

Tes darah kini mampu deteksi kanker stadium dini menggunakan 4 protein utama
Indonesia
•
25 Mar 2026


Berita Terbaru

Huawei habiskan 319 triliun rupiah untuk riset, Mate XT 2 dan cip baru jadi hasilnya
Indonesia
•
07 Sep 2026

Jika es Antarktika menyusut, seberapa tinggi laut akan naik? Ilmuwan siapkan survei besar
Indonesia
•
08 Sep 2026

‘Power bank’ jadi tenaga eksoskeleton, teknologi ini bantu gerak hingga 35 persen
Indonesia
•
07 Sep 2026

Hongaria kucurkan 1,7 triliun rupiah untuk hutan baru, jutaan pohon bakal ditanam hingga 2030
Indonesia
•
06 Sep 2026
