
‘Long COVID’ bertanggung jawab atas sepertiga pekerjaan yang tidak terisi di AS

Para pelanggan terlihat di Grand Central Market di Los Angeles, California, Amerika Serikat, pada 29 Juli 2022. (Xinhua)
Penelitian Brookings Institution yang diterbitkan pada pekan lalu menyebutkan sekitar 16 juta warga AS berusia antara 18 hingga 65 tahun mengalami gejala COVID hingga lama setelah terinfeksi.
Jakarta (Indonesia Window) – COVID-19 yang berkepanjangan atau long COVID bertanggung jawab atas sekitar sepertiga dari pekerjaan yang tidak terisi di Amerika Serikat (AS), menurut sebuah laporan CNBC, mengutip penelitian dari Brookings Institution.Penelitian Brookings Institution yang diterbitkan pada pekan lalu itu menyebutkan sekitar 16 juta warga AS berusia antara 18 hingga 65 tahun mengalami gejala COVID hingga lama setelah terinfeksi.Kondisi yang disebut long COVID tersebut dapat mencakup kabut otak (brain fog), kelelahan, masalah pernapasan, nyeri otot, sakit kepala, nyeri dada, dan bahkan kecemasan atau depresi. Semua gejala tersebut dapat menyulitkan seseorang untuk bekerja, menurut laporan itu.Penelitian itu memperkirakan bahwa 2 juta hingga 4 juta orang-orang tersebut saat ini kehilangan pekerjaan karena long COVID.Data terbaru dari Biro Statistik Tenaga Kerja AS menunjukkan bahwa terdapat 10,7 juta pekerjaan yang tidak terisi di AS. Pekerjaan yang hilang karena long COVID diperkirakan menyumbang sekitar sepertiga dari kelangkaan tenaga kerja yang terjadi di negara itu saat ini, demikian menurut laporan tersebut.Long COVIDPusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (The Centers for Disease Control and Prevention/CDC) AS menyebutkan bahwa kondisi pasca-COVID menimbulkan berbagai masalah kesehatan baru, lagi, atau berkelanjutan yang dialami orang setelah pertama kali terinfeksi virus penyebab COVID-19.Kebanyakan orang dengan COVID-19 menjadi lebih baik dalam beberapa hari hingga beberapa pekan setelah infeksi, sehingga setidaknya empat pekan setelah infeksi adalah awal saat kondisi pasca-COVID pertama kali dapat diidentifikasi.Siapa pun yang terinfeksi dapat mengalami kondisi pasca-COVID. Kebanyakan orang dengan kondisi pasca-COVID mengalami gejala beberapa hari setelah infeksi SARS CoV-2, tetapi beberapa orang dengan kondisi pasca-COVID bahkan tidak menyadari ketika mereka pertama kali terinfeksi.Tidak ada tes untuk mendiagnosis kondisi pasca-COVID, dan orang mungkin memiliki berbagai macam gejala yang bisa berasal dari masalah kesehatan lainnya. Hal ini dapat mempersulit penyedia layanan kesehatan untuk mengenali kondisi pasca-COVID.Sumber: XinhuaLaporan: RedaksiBagikan

Komentar
Berita Terkait

Badan Pengawas Obat AS tarik hampir 90.000 botol ibuprofen anak secara nasional
Indonesia
•
21 Mar 2026

Satu warga China dipastikan tewas dalam penembakan massal di California, AS
Indonesia
•
24 Jan 2023

Petani Eropa berjuang hadapi musim panas terpanas dan terkering dalam sejarah
Indonesia
•
23 Aug 2022

Lebih 500 juta orang di dunia terjebak kemiskinan ekstrem karena biaya kesehatan
Indonesia
•
14 Dec 2021


Berita Terbaru

Temu alumni program pelatihan China digelar di Jakarta, perkuat kerja sama Indonesia-China
Indonesia
•
13 Jun 2026

Ikon budaya pop asal China Labubu tampil dalam upacara pembukaan Piala Dunia 2026
Indonesia
•
13 Jun 2026

Main medsos 2 jam sehari bisa tingkatkan risiko depresi pada remaja, studi 10 tahun ungkap faktanya
Indonesia
•
13 Jun 2026

1,8 miliar orang di dunia kurang olahraga, WHO nilai china punya praktik yang efektif
Indonesia
•
12 Jun 2026
