Lembaga sertifikasi halal China perkuat ekosistem halal Indonesia dari hulu hingga hilir

Pusat Industri Halal Kementerian Perindustrian Republik Indonesia dan Food and Drug Corporation Quality and Safety Promotion Association (FDSA) China menandatangani nota kesepahaman (Memorandum of Understanding/MoU) kerja sama pengembangan industri halal dalam ajang Halal Indonesia International Industry Expo (Halal Indo) 2025 di Jakarta pada 26 September 2025. (Sumber: Istimewa)

Saat ini ada 13 lembaga halal asal China yang memperoleh pengakuan dari BPJPH dengan lingkup kompetensi tidak hanya pada produk makanan dan minuman, tetapi juga sektor lain seperti kosmetik hingga layanan pengemasan dan distribusi.

 

Jakarta (Xinhua/Indonesia Window) – Indonesia dan China terus memperkuat kerja sama di bidang produk halal seiring terus meningkatnya hubungan dagang kedua negara, dengan China yang sejauh ini berkontribusi pada sekitar sepertiga dari total nilai impor nasional.

Dalam kerja sama baru-baru ini, Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH) Indonesia menandatangani Recognition Agreement (RA) dengan dua lembaga sertifikasi halal China, yakni FUIN Halal Certification Center dan Shanghai Museling Testing and Certification, sebagai pengakuan atas pemenuhan standar Sistem Jaminan Produk Halal Indonesia (SJPH).

Dengan demikian, saat ini telah terdapat 13 lembaga halal asal China yang memperoleh pengakuan dari BPJPH dengan lingkup kompetensi tidak hanya pada produk makanan dan minuman, tetapi juga sektor lain seperti kosmetik hingga layanan pengemasan dan distribusi.

Kesepakatan ini berlangsung hanya beberapa pekan setelah BPJPH menggelar pertemuan dengan 18 lembaga sertifikasi halal asal China di Jakarta pada 28 April, salah satunya FUIN Halal Certification Center. Pertemuan ini bertujuan memperkuat kerja sama produk halal antara kedua negara seiring kebijakan wajib halal yang akan mulai berlaku pada Oktober 2026.

BPJPH menyebut penguatan kerja sama dengan China saat ini telah mencakup ekosistem halal secara menyeluruh dari hulu hingga hilir, mulai dari proses inspeksi, inventarisasi, pengemasan, hingga distribusi produk.

Kepala BPJPH Ahmad Haikal Hasan menyebut China menjadi negara pertama yang diundang dalam diskusi khusus karena memiliki jumlah lembaga halal luar negeri (LHLN) terbanyak serta volume produk yang signifikan dalam hubungan perdagangan dengan Indonesia.

China sejak lama telah menjadi mitra dagang terbesar bagi Indonesia, dengan kontribusi sekitar sepertiga dari total nilai impor nasional. Nilai impor dari China sepanjang kuartal pertama tahun ini mencapai 22,1 miliar dolar AS, meningkat 17,3 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

*1 dolar AS = 17.743 rupiah

Tidak hanya dalam proses sertifikasi, kedua negara juga telah menjalin kerja sama di bidang pengembangan produk halal.

Dalam kerja sama yang disepakati pada September tahun lalu, Kementerian Perindustrian Indonesia bersama Food and Drug Corporation Quality and Safety Promotion Association (FDSA) akan berkolaborasi dalam pengembangan industri halal, investasi, peningkatan kapasitas, kajian bersama, hingga promosi industri halal.

Laporan: Redaksi

Bagikan

Komentar

Berita Terkait