
Peneliti identifikasi area otak yang berperan penting dalam respons observasional terhadap ancaman

Carnegie Mellon University (CMU) mengunggah desain ini di situs webnya untuk mempromosikan konsep brain hub. (Sumber: CMU)
Korteks prefrontal dorsomedial (dorsomedial prefrontal cortex/dmPFC) merupakan sebuah area otak pada tikus, manusia, dan hewan lainnya yang diketahui berperan penting dalam memproses informasi sosial dan menafsirkan ancaman.
Los Angeles, AS (Xinhua) – Sejumlah ilmuwan baru-baru ini berhasil mengidentifikasi sebuah area di dalam korteks frontal otak yang dapat mengoordinasikan respons hewan terhadap situasi yang berpotensi menimbulkan trauma, menurut sebuah studi terbaru yang dipimpin oleh Institut Kesehatan Nasional (National Institutes of Health/NIH) Amerika Serikat (AS).Memahami lokasi dan cara kerja sirkuit saraf yang melibatkan korteks frontal dalam mengatur fungsi semacam itu, serta cara sirkuit tersebut dapat mengalami malfungsi, bisa memberikan wawasan tentang perannya dalam kasus gangguan kejiwaan yang berhubungan dengan trauma dan stres pada manusia, kata NIH dalam sebuah rilis pada Senin (12/2).Pada model hewan untuk kasus stres dan trauma, mempelajari sumber ancaman potensial dengan mengamati respons hewan lain dalam menghadapi bahaya dapat menjadi cara yang efektif untuk menghindari petaka. Memahami perbedaan antara cara otak memproses pengalaman langsung ketika menghadapi gangguan dan dengan mengamati respons individu lain terhadap bahaya dapat menjelaskan faktor-faktor yang memengaruhi manusia dalam kasus gangguan kejiwaan yang berhubungan dengan trauma dan stres, papar NIH.Para ilmuwan meneliti aktivitas otak pada tikus yang menjalani pembelajaran rasa takut observasional, yaitu proses di mana hewan belajar tentang sumber bahaya dan meminimalkan risiko diri sendiri dengan mengamati respons individu lain saat menghadapi ancaman.Mereka berfokus pada korteks prefrontal dorsomedial (dorsomedial prefrontal cortex/dmPFC), sebuah area otak pada tikus, manusia, dan hewan lainnya yang diketahui berperan penting dalam memproses informasi sosial dan menafsirkan ancaman."Penelitian ini menggarisbawahi pentingnya penelitian neurobehavioral dasar dalam mendefinisikan sirkuit saraf yang berkontribusi pada elemen-elemen stres pascatrauma, yang merupakan pemicu utama gangguan kejiwaan dan khususnya gangguan penggunaan alkohol," kata Direktur Institut Penyalahgunaan Alkohol dan Alkoholisme Nasional AS George F. Koob."Dengan mengidentifikasi pola aktivitas otak yang mendasari cara hewan mempelajari ancaman dari individu lain, temuan ini pada akhirnya dapat menginformasikan pendekatan pencegahan dan pengobatan untuk gangguan penggunaan alkohol dan gangguan terkait stres atau trauma lainnya," jelas Koob.Laporan: RedaksiBagikan

Komentar
Berita Terkait

DeepSeek luncurkan model AI baru dengan efisiensi tinggi dan kinerja unggul
Indonesia
•
03 Dec 2025

China kembangkan membran baru yang dimodifikasi untuk desalinasi air laut
Indonesia
•
15 Mar 2023

China luncurkan satelit Geely-02
Indonesia
•
05 Feb 2024

China kembangkan fasilitas siklotron proton untuk uji radiasi luar angkasa
Indonesia
•
05 Jun 2023


Berita Terbaru

Kru Shenzhou-21 lakukan uji medis lanjutan dan eksperimen ilmu otak di luar angkasa
Indonesia
•
10 Mar 2026

Indonesia butuh 200 peneliti nuklir untuk dukung PLTN 2032
Indonesia
•
10 Mar 2026

Fokus Berita – Mikroplastik ditemukan di kedalaman 2.450 meter, berpotensi masuk rantai makanan manusia
Indonesia
•
07 Mar 2026

Indonesia kian rentan siklon tropis akibat suhu laut meningkat
Indonesia
•
07 Mar 2026
