
Konektivitas pembayaran digital Indonesia-China akan dongkrak pariwisata domestik

Sebuah pusat belanja di Jakarta, pada 20 Februari 2025. (Indonesia Window)
Konektivitas pembayaran digital akan memfasilitasi transaksi antarnegara dengan lebih efisien, terutama bagi Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM), serta mendorong pertumbuhan sektor pariwisata.
Jakarta (Xinhua/Indonesia Window) – Tak lama lagi, wisatawan asal China yang berlibur ke Indonesia akan dapat berbelanja secara lebih mudah dan cepat hanya dengan memindai kode respons cepat (quick response/QR), begitu pun sebaliknya bagi wisatawan Indonesia di China. Pelaku industri dan pakar optimistis kolaborasi ini akan berdampak positif terhadap pariwisata domestik.Bank sentral kedua negara telah memulai uji coba terbatas (sandbox) terkait konektivitas pembayaran berbasis kode QR sejak 17 Agustus, dan dikampanyekan kembali dalam pertemuan gubernur dari dua bank sentral negara itu di Beijing pada Kamis (11/9). Uji coba ini melibatkan Asosiasi Sistem Pembayaran Indonesia (ASPI) dan UnionPay Internasional China.Dalam pernyataannya pada Agustus lalu, Bank Indonesia (BI) menyampaikan bahwa konektivitas pembayaran digital ini akan memfasilitasi transaksi antarnegara dengan lebih efisien, terutama bagi Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM), serta mendorong pertumbuhan sektor pariwisata.Sekretaris Jenderal Asosiasi Perusahaan Perjalanan Wisata Indonesia (ASITA) Budijanto Ardiansjah menuturkan bahwa inisiatif tersebut merupakan langkah yang positif untuk mendorong sektor pariwisata domestik, sembari menyatakan jumlah kedatangan wisatawan China ke Indonesia telah mengalami pemulihan, yakni tercatat hampir 1,2 juta orang pada tahun lalu.Terlebih lagi, Budi menguraikan bahwa beberapa wisatawan China yang berkunjung ke Indonesia kerap meminta penyediaan pembayaran digital, mengingat budaya pembayaran non-tunai sudah sangat umum di China."Dengan adanya konektivitas pembayaran digital ini diharapkan pengeluaran untuk belanja mereka di Indonesia akan lebih besar karena pembayaran yang lebih mudah," ujar Budi kepada Xinhua.Hal senada juga disampaikan oleh Azril Azahari, pakar pariwisata yang juga Ketua Ikatan Cendekiawan Pariwisata Indonesia (ICPI). Dia mengatakan bahwa kemudahan sistem pembayaran digital ini menjadi kabar yang positif bagi pariwisata domestik karena diharapkan dapat mendorong wisatawan China agar lebih banyak berbelanja saat berlibur ke Indonesia.Berdasarkan catatan Badan Pusat Statistik (BPS), rata-rata pengeluaran wisatawan asal China pada tahun lalu mencapai 1.188 dolar AS per kunjungan, relatif lebih tinggi dari rata-rata pengeluaran pelancong dari negara-negara Asia lainnya.*1 dolar AS = 16.405 rupiahKendati demikian, Azril memberikan catatan kepada pemerintah terkait perlunya membuat terobosan kebijakan untuk menarik lebih banyak wisatawan China, salah satunya dengan menghadirkan paket wisata yang dirancang khusus sesuai kebutuhan dan minat mereka. China merupakan satu dari lima negara teratas dalam hal jumlah wisatawan mancanegara yang berkunjung ke Indonesia sepanjang tahun lalu.Sebelumnya, Indonesia telah lebih dulu menjalin kerja sama pembayaran lintas negara berbasis kode QR dengan negara-negara Asia lainnya seperti Thailand, Malaysia, Singapura, dan telah diperluas dengan Jepang bulan lalu.Laporan: RedaksiBagikan

Komentar
Berita Terkait

BI pertahankan suku bunga acuan 3,5 persen
Indonesia
•
23 Jun 2022

China dan Indonesia ambil langkah baru dalam kerja sama karbon biru
Indonesia
•
22 Jul 2025

Laba industri China turun dalam 2 bulan pertama 2023, namun diperkirakan pulih
Indonesia
•
27 Mar 2023

Bank Investasi Infrastruktur Asia perkirakan pendanaan iklim capai 50 miliar dolar AS pada 2030
Indonesia
•
26 Oct 2021


Berita Terbaru

Kasus korupsi di Singapura menurun pada 2025
Indonesia
•
30 Apr 2026

Atasi lonjakan harga bahan bakar, Thai AirAsia kurangi jadwal penerbangan hingga 30 persen
Indonesia
•
30 Apr 2026

Perubahan tarif akan tambah 1,1 triliun dolar AS ke defisit anggaran ASdalam 10 tahun
Indonesia
•
30 Apr 2026

UEA keluar dari OPEC, sejalan dengan visi ekonomi jangka panjang
Indonesia
•
30 Apr 2026
