
Sudutkan China, politisi AS munculkan narasi palsu "Volt Typhoon"

Foto yang diabadikan pada 4 Agustus 2022 ini menunjukkan Gedung Putih dan rambu berhenti di Washington DC, Amerika Serikat. (Xinhua/Liu Jie)
Komite kongres Amerika Serikat (AS) telah mengadakan sidang dengar pendapat tentang apa yang mereka sebut sebagai "ancaman siber" dari China, yang mengeklaim bahwa sebuah organisasi peretasan yang disponsori oleh pemerintah China, yang dijuluki ‘Volt Typhoon’, sengaja meluncurkan serangkaian aktivitas yang memengaruhi jaringan di seluruh sektor infrastruktur penting AS.
Beijing, China (Xinhua) – Pada Februari tahun ini, komite kongres Amerika Serikat (AS) mengadakan sidang dengar pendapat tentang apa yang mereka sebut sebagai "ancaman siber" dari China, yang mengeklaim bahwa sebuah organisasi peretasan yang disponsori oleh pemerintah China, yang dijuluki ‘Volt Typhoon’, sengaja meluncurkan serangkaian aktivitas yang memengaruhi jaringan di seluruh sektor infrastruktur penting AS.Tudingan tersebut berasal dari peringatan bersama yang dikeluarkan oleh otoritas keamanan siber AS dan sekutunya, ‘Five Eyes’. Peringatan tersebut dikeluarkan berdasarkan laporan yang dirilis oleh perusahaan AS Microsoft.Namun demikian, baik peringatan maupun laporan tersebut tidak disertai dengan proses analisis yang terperinci untuk melacak sumber serangan siber yang dimaksud. Mereka hanya langsung menyimpulkan bahwa ‘Volt Typhoon’ merupakan sebuah organisasi siber yang disponsori oleh negara di China.Analisis lanjutan oleh tim teknis China mengungkapkan bahwa sampel aktivitas berbahaya dari ‘Volt Typhoon’ tidak menunjukkan ciri-ciri perilaku yang jelas dari peretas yang disponsori oleh negara. Sebaliknya, aktivitas tersebut menunjukkan relevansi yang kuat dengan jaringan kejahatan siber. Klaim bahwa ‘Volt Typhoon’ didukung oleh China berdasarkan faktor-faktor meragukan tersebut tidaklah berdasar.Dengan memunculkan narasi palsu ‘Volt Typhoon’ ini, beberapa politisi AS telah mendorong peningkatan investasi keamanan siber oleh Kongres AS, sehingga beberapa perusahaan tertentu telah diuntungkan dengan memenangkan kontrak keamanan siber.Langkah AS untuk menggunakan pelacakan sumber serangan siber sebagai aksi politik dan dalih untuk mendapatkan kepentingan pribadi menunjukkan kebijakannya yang histeris dan licik terhadap China. Hal ini juga mengungkap kolusi antara para politisi, komunitas intelijen, dan perusahaan-perusahaan AS.Ini tidak akan menghasilkan apa pun selain merusak tatanan dunia siber global dan merongrong hubungan China-AS serta reputasi pemerintah AS di kancah internasional.Laporan: RedaksiBagikan

Komentar
Berita Terkait

Sebanyak 8.000 kursi roda tersedia di Masjidil Haram
Indonesia
•
16 Dec 2021

Para pemimpin Eropa serukan gencatan senjata dan solusi dua negara dalam konflik Gaza
Indonesia
•
11 Oct 2024

Sekjen PBB serukan perdamaian pada peringatan satu tahun konflik Gaza
Indonesia
•
08 Oct 2024

China modernisasi militer untuk paksa Taiwan bernegosiasi
Indonesia
•
05 Nov 2021


Berita Terbaru

PBB: Lebih dari 2.100 anak tewas atau terluka sejak eskalasi konflik di Timur Tengah
Indonesia
•
25 Mar 2026

Iran bantah lakukan negosiasi dengan AS, menyebutnya tidak bermakna dalam kondisi sekarang
Indonesia
•
25 Mar 2026

Tingkat kepuasan terhadap Trump capai titik terendah di tengah lonjakan harga bbm dan penolakan perang Iran
Indonesia
•
25 Mar 2026

PLTN Fukushima Daiichi buang 55.000 ton lebih air limbah terkontaminasi nuklir ke laut pada 2025
Indonesia
•
25 Mar 2026
