
Klinik di Jepang gunakan teknologi laser untuk pengobatan ortopedi, layani banyak pasien Indonesia

Presiden Office Promosi Ltd., Tokyo Japan, Richard Susilo. (Dok. pribadi)
Klinik Dr. Hisayuki Miyajima di Tokyo menjamin waktu pengobatan saraf terjepit yang jauh lebih singkat dibandingkan di fasilitas kesehatan lainnya, dengan pasien tak perlu menginap setelah menjalani operasi dengan teknologi laser.
Bogor, Jawa Barat (Indonesia Window) – Sebuah klinik khusus ortopedi terkenal di ibu kota Jepang, Tokyo, menawarkan layanan kesehatan mulai dari konsultasi, pengobatan hingga tindakan operasi untuk menyembuhkan saraf terjepit, dan semua dampaknya seperti kesemutan, sakit kepala, dan pincang, serta penyakit dalam lainya, dengan teknologi laser mutakhir.“Klinik ini milik Dr. Hisayuki Miyajima yang berusia 65 tahun. Dia sangat mendedikasikan ilmunya dalam pengobatan ortopedi, dan penyembuhan melalui operasi dengan teknologi laser tercanggih di Jepang,” papar Presiden Office Promosi Ltd., Tokyo Japan, Richard Susilo, dalam siaran pers yang diterima di Bogor, Kamis.Banyak pasien dari berbagai negara, termasuk dari Indonesia, yang datang ke klinik ini sembuh dan mengaku puas dengan layanan yang diberikan, imbuhnya.“Banyak masyarakat Indonesia yang merasa puas dengan layanan yang diberikan di klinik ini dan sembuh setelah dioperasi dengan teknologi laser. Tentu saja beliau menyambut baik semua pasien dari luar negeri, khususnya dari Indonesia. Setelah menjalani operasi, pasien cukup istirahat beberapa jam, tidak perlu menginap. Besoknya bisa pulang ke Indonesia,” lanjutnya.Menurut Richard, Dr. Miyajima yang merupakan lulusan Universitas Tokyo berbicara dalam Bahasa Jepang, namun di klinik tersebut tersedia penerjemah profesional di bidang medis guna memudahkan dan melancarkan komunikasi dengan para pasien.“Untuk urusan bahasa tidak ada masalah karena banyak orang Jepang paham dan fasih berbicara dalam Bahasa Indonesia. Selain itu, banyak juga orang Indonesia bekerja di layanan kesehatan di Jepang,” jelas Richard.Lebih lanjut dia menyatakan bahwa ada seorang rekan dokter dari Indonesia yang merupakan ahli urologi menyampaikan testimoninya tentang Dr. Miyajima. “Dia pernah menjadi rekan saya ketika saya bekerja sebagai peneliti kanker di Universitas Tokyo. Dia memiliki dua klinik di Tokyo dan menerapkan hidrolisis elektrolitik untuk dialisis, yang merupakan teknologi mutakhir. Saat ini dia juga sedang melakukan penelitian tentang gagal ginjal dan kanker di Universitas Tokyo.”Richard menjelaskan, layanan medis di klinik Dr. Miyajima telah terkenal di berbagai negara, sehingga untuk mendapatkan waktu pertemuan biasanya pasien harus menunggu sekitar tiga bulan.Namun, Richard mengatakan telah mendapatkan waktu pertemuan dengan Dr. Miyajima pada 18 April mendatang, yang dikhususkan bagi lima warga Indonesia yang ingin berobat sakit pinggang atau saraf terjepit.“Silakan kontak email: promosijp@gmail.com untuk mengikuti tour medis ke Tokyo ini,” katanya.“Dengan menggunakan peralatan yang canggih dan dikerjakan secara profesional, pengobatan di klinik Dr. Miyajima jauh lebih singkat dibandingkan di fasilitas kesehatan lainnya. Ada long-hour dialysis selama 6 jam per sesi, ada juga yang masing-masing 4 jam selama tiga kali sepekan,” pungkas Richard.Laporan: RedaksiBagikan

Komentar
Berita Terkait

PBB berhasil salurkan bahan bakar yang krusial ke dalam wilayah Gaza di tengah ketegangan
Indonesia
•
22 Jun 2025

London School peduli autisme melalui program pendidikan
Indonesia
•
15 May 2023

Masjid di Makkah dibuka kembali pada 21 Juni
Indonesia
•
20 Jun 2020

CDC perkirakan AS catat sedikitnya 25 juta kasus flu pada musim ini
Indonesia
•
22 Feb 2023


Berita Terbaru

Meriahkan Piala Dunia 2026, turnamen sepak bola Liga Akamsi digelar di Tambora, Jakarta
Indonesia
•
22 Jun 2026

Kisah perantau China ke Asia Tenggara jadi sensasi film, Indonesia termasuk bagian sejarahnya
Indonesia
•
21 Jun 2026

Feature – Aksi bersih-bersih suporter Jepang dipuji FIFA, tapi fakta di rumah tangga picu kontroversi
Indonesia
•
21 Jun 2026

Beijing, Shanghai, atau Wuhan? Memilih kota studi di China
Indonesia
•
20 Jun 2026
