Khamenei izinkan penandatanganan MoU perdamaian Iran dan AS meski memiliki perbedaan pendapat

Warga menghadiri pertemuan untuk menyatakan sumpah setia kepada pemimpin tertinggi Iran yang baru, Mojtaba Khamenei, di Lapangan Enghelab di Teheran, Iran, pada 9 Maret 2026. (Xinhua/Shadati)

Teheran, Iran (Xinhua/Indonesia Window) – Pemimpin Tertinggi Iran Mojtaba Khamenei pada Kamis (18/6) mengatakan bahwa meski memiliki pendapat yang berbeda, dia memberikan izin untuk penandatanganan nota kesepahaman (Memorandum of Understanding/MoU) perdamaian antara Teheran dan Washington.

Pernyataan tersebut disampaikan Khamenei dalam pesan yang ditujukan kepada rakyat Iran, yang disiarkan oleh media Iran, beberapa jam setelah Presiden Iran Masoud Pezeshkian dan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menandatangani MoU untuk mengakhiri perang.

Khamenei mengatakan para pejabat Iran terkait telah melakukan upaya yang cukup besar "berlandaskan belas kasih dan niat baik" dalam proses mencapai tahap ini. Dia juga menambahkan, "Tentu saja, presiden AS-lah yang menggunakan segala macam pengaruh untuk tujuan ini."

Khamenei menekankan, "Pada prinsipnya, saya memiliki pendapat yang berbeda, tetapi saya memberikan izin tersebut karena komitmen yang disampaikan oleh presiden (Iran) yang terhormat, sebagai ketua Dewan Keamanan Nasional Tertinggi (Supreme National Security Council/SNSC), atas nama dirinya dan anggota lainnya untuk melindungi hak-hak bangsa Iran dan front perlawanan, dan setelah dia menyatakan akan bertanggung jawab atas hal tersebut."

Khamenei menambahkan bahwa Pezeshkian dan anggota SNSC lainnya juga menyatakan bahwa jika AS berusaha mengajukan "tuntutan yang berlebihan," mereka tidak akan menerimanya.

Pemimpin tertinggi Iran itu menegaskan bahwa mulai saat ini, dirinya dan bangsa Iran yang "bermartabat" akan menunggu terpenuhinya syarat-syarat yang ditetapkan oleh Iran berdasarkan MoU tersebut, namun dia juga menyampaikan bahwa "negosiasi tatap muka yang akan digelar di masa depan tidak berarti menerima posisi musuh."

Iran, AS, dan Pakistan pada Senin (15/6) pagi mengumumkan finalisasi MoU untuk mengakhiri perang di semua front, termasuk di Lebanon. Presiden Iran dan AS telah menandatangani MoU tersebut secara elektronik pada Kamis pagi.

Pada 28 Februari, Israel dan AS melancarkan serangan gabungan terhadap Teheran dan kota-kota Iran lainnya. Iran membalas dengan gelombang serangan rudal dan drone yang menargetkan Israel serta pangkalan dan aset AS di kawasan Timur Tengah.

Laporan: Redaksi

 

Bagikan

Komentar

Berita Terkait