
Tim ilmuwan berhasil tentukan waktu kepunahan massal 200 juta tahun lalu

Gambar ini menunjukkan pola proses runtuhnya ekosistem terestrial pada garis lintang yang berbeda pada akhir Periode Permian. (Xinhua)
Kepunahan massal kehidupan darat di garis lintang rendah dimulai 251,88 juta tahun silam, setidaknya 60.000 tahun lebih lambat dari kepunahan massal kehidupan laut, dan setidaknya 430.000 tahun lebih lambat dari kepunahan massal kehidupan darat di garis lintang tinggi.
Nanjing, China (Xinhua) – Sebuah tim peneliti yang dipimpin oleh para ilmuwan China berhasil menentukan waktu kepunahan massal kehidupan darat yang terjadi lebih dari 200 juta tahun silam, demikian menurut Universitas Nanjing.Penelitian tim tersebut mengungkapkan bahwa ekosistem yang berbeda merespons degradasi lingkungan dengan kecepatan yang berbeda, sehingga membantu menyusun proses kepunahan massal secara lebih akurat.Kepunahan massal pada akhir Periode Permian merupakan peristiwa kepunahan massal terburuk dalam sejarah geologi, memusnahkan lebih dari 80 persen spesies laut dan sekitar 90 persen spesies darat, kata Shen Shuzhong dari Universitas Nanjing, yang memimpin penelitian ini.Sebelumnya, para ilmuwan secara umum meyakini bahwa kepunahan massal terjadi sekitar 252 juta tahun yang lalu, namun penelitian terperinci mengenai prosesnya di berbagai wilayah dan ekosistem masih kurang, tutur Shen, yang juga akademisi dari Akademi Ilmu Pengetahuan China (Chinese Academy of Sciences/CAS).Kini, setelah lebih dari 10 tahun melakukan pengambilan sampel di lapangan dan penanggalan isotop (isotope dating) presisi tinggi, para peneliti dari China dan Amerika Serikat untuk pertama kalinya berhasil menentukan secara akurat waktu spesifik kepunahan massal organisme terestrial di wilayah garis lintang rendah pada akhir Periode Permian.Para peneliti juga membandingkan waktu kepunahan daratan dan lautan pada garis lintang yang berbeda, menunjukkan karakteristik ekosistem yang berbeda selama kepunahan massal.Pengambilan sampel dan penanggalan terbaru menunjukkan bahwa pada akhir Periode Permian, kepunahan massal kehidupan darat di garis lintang rendah dimulai 251,88 juta tahun silam, setidaknya 60.000 tahun lebih lambat dari kepunahan massal kehidupan laut, dan setidaknya 430.000 tahun lebih lambat dari kepunahan massal kehidupan darat di garis lintang tinggi.Para peneliti juga menganalisis perubahan keanekaragaman hayati pada garis lintang yang berbeda sebelum dan sesudah kepunahan massal, berdasarkan basis data paleontologi global.Hasilnya menunjukkan bahwa kepunahan massal di garis lintang rendah tidak hanya terjadi kemudian, tetapi juga memiliki tingkat kepunahan yang relatif rendah, yang mungkin mengindikasikan bahwa ekosistem terestrial di garis lintang rendah pada saat itu memiliki resistansi tekanan lingkungan yang lebih tinggi.Para ilmuwan dapat secara lebih akurat merestorasi proses kepunahan massal lebih dari 200 juta tahun silam berdasarkan hasil terbaru ini, ungkap Shen.Pada akhir Periode Permian, kepunahan massal organisme terestrial pertama-tama dimulai di garis lintang tinggi dan secara bertahap menyebar ke garis lintang tengah dan rendah.Keruntuhan ekosistem laut memiliki polanya sendiri yang unik dan terjadi lebih cepat, tambahnya.Penelitian ini telah diterbitkan di jurnal Science Advances baru-baru ini.Laporan: RedaksiBagikan

Komentar
Berita Terkait

China rilis standar nasional untuk terminologi kedokteran hewan tradisional
Indonesia
•
27 Aug 2023

China berhasil ekstraksi lithium dari danau garam
Indonesia
•
23 Jan 2026

Ilmuwan China temukan senyawa alami untuk hambat pertumbuhan kanker hati
Indonesia
•
06 Apr 2025

Tim peneliti China akan rilis peta geologis Bulan beresolusi tertinggi versi digital
Indonesia
•
11 Aug 2023


Berita Terbaru

19 patogen picu 9,7 juta infeksi dan 50.800 kematian per tahun di AS
Indonesia
•
28 Oct 2026

Amazon di Brasil lepaskan 1,17 miliar ton karbon lebih banyak daripada yang diserap per tahun
Indonesia
•
23 Oct 2026

96 persen terumbu karang dunia terancam kritis akibat pemanasan laut, Great Barrier Reef Australia bisa hancur pada 2075
Indonesia
•
23 Oct 2026

Feature – Menimbang klaim manfaat ‘peach gum’, hidangan penutup dari getah pohon persik
Indonesia
•
22 Oct 2026
