“Kenapa bukan aku yang jadi tuhan?”

“Kenapa bukan aku yang jadi tuhan?”
Ilustrasi. (ARadhwa)

Suatu saat, aku bertanya pada umiku, “Kenapa bukan aku yang jadi tuhan? Kenapa harus Allah ﷻ?”

“Memangnya kalo Radhwa jadi tuhan mau lakukan apa?”, tanya umiku santai.

Aku jawab panjang lebar, “Kalau jadi tuhan  aku mau lakuin sesuatu.  Misalnya, orang yang jahat akan kubasmi. Orang yang berperang atau bertengkar, akan kubuat saling menyayangi. Orang yang korupsi atau mencuri, akan kuberi azab. Orang yang jujur, akan kuperbanyak.  Pokoknya, akan kubuat semua penjahat jadi baik. Tidak ada bencana. Dunia jadi tenang. Bagus kan?”

Tapi, ayahku menyela.

“Tidak ada ujian kehidupan kalau begitu. Karena Allah ﷻ menciptakan manusia berbeda-beda untuk diuji, manusia bisa nggak bertindak dengan akal budinya?  Jadi, semua manusia bisa salah, tapi Tuhan tidak mungkin salah.”

“Itulah makanya Radhwa mau jadi tuhan, supaya tidak bikin salah.  Kenapa hanya Allah yang bisa jadi Tuhan?”, tanyaku sedikit protes.

Jawab ayahku, “Pada saat Radhwa bertanya ‘kenapa’, berarti  masih ada yang Radhwa tidak tahu, tidak mengerti.  Tuhan kok banyak tanya? Padahal, Tuhan itu Maha Tahu segalanya. Emang Radhwa Maha Tahu juga?”

Aku jadi malu, tapi mulai paham.

“Tuhan itu Creator, artinya Pencipta. Manusia itu creature, artinya ciptaan. Bisakah creature menciptakan creator? Atau, bisakah creature menciptakan dirinya sendiri?”, umiku ikut bertanya.

Aku pun terdiam sambil berpikir lagi. Hmmm…

Sementara orangtuaku mengobrolkan topik lain yang mereka lihat di tivi, aku jadi memikirkan apa yang mereka katakan.

Beberapa hari kemudian, aku dikirimi tulisan tentang 20 sifat wajib Allah, 20 sifat mustahil Allah ﷻ, dan sifat jaiz.

Sifat wajib Allah ﷻ salah satunya adalah Baqa, atau kekal.

Sifat mustahil Tuhan adalah mustahil mati dan mustahil sama dengan makhluk lain.

Banyak sifat Allah yang lain, tapi itu saja sudah menjawab pertanyaanku kenapa aku tidak mungkin jadi tuhan.

Setelah kupikir-pikir, jadi Tuhan itu ternyata berat sekali ya?

Tuhan tidak tidur, tidak makan, mustahil lemah, mustahil mati, dan sebagainya.

Bagaimana aku bisa jadi tuhan jika menahan lapar dan ngantuk saja tidak  bisa?

“Kalau menahan kentut, Radhwa bisa nggak?”, tanya umiku bercanda.

“Hahaha…,” aku ketawa ngakak.

Penulis: ARadhwa Sagena Hasyim (murid kelas 6; tinggal di Samarinda, Kalimantan Timur)

12 Komentar

  1. Radhwa anak yang kaya imajinasi. Sehingga akan banyak pertanyaan 2 yang muncul terkait logika versi imajinsinya. Beruntung Radhwa memiliki Umi dan ayah yang keren yang bisa menjawab semua tanya Radhwa.

    Semoga Radhwa terus berkarya sampai kapanpun melalui tulisan

  2. Masyaallah ….
    Anak sholehah nih sudah makin cakap dalam menulis.
    Semoga Allah memudahkan perjalananmu memikirkanNya.
    Baarakalloh ….

Berkomentar?

Please enter your comment!
Please enter your name here