Kenaikan harga energi akibat konflik Timur Tengah bebani rumah tangga dan perekonomian Belanda

Panel surya dipasang di atap gedung-gedung di Haarlem, Belanda, pada 10 September 2022. (Xinhua/Sylvia Lederer)

Harga energi di Belanda melonjak tajam, mendorong beberapa pemasok energi di negara itu menyesuaikan atau menarik kontrak energi harga tetap.

 

Den Haag, Belanda (Xinhua/Indonesia Window) – Di tengah meningkatnya ketegangan di Timur Tengah, harga energi di Belanda melonjak tajam, mendorong beberapa pemasok energi di negara itu menyesuaikan atau menarik kontrak energi harga tetap. Sejumlah lembaga penelitian telah memperingatkan biaya energi yang terus meningkat dapat membebani pertumbuhan ekonomi dan mendorong inflasi lebih tinggi pada 2026.

Kontrak berjangka gas alam Title Transfer Facility (TTF) Belanda untuk pengiriman April naik 3,27 persen menjadi 50,37 euro per megawatt-jam pada Kamis (5/3), naik dari 31,96 euro pada Jumat (27/2) pekan lalu, yang mewakili peningkatan 57,6 persen dalam empat hari perdagangan berturut-turut.

*1 euro = 19.597 rupiah

Harga bahan bakar di stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) juga merangkak naik. Harga bensin Esso Euro95 naik menjadi 2,35 euro per liter pada Kamis, naik 12 sen dibandingkan dengan Jumat pekan lalu, sementara harga solar Esso naik 30 sen menjadi 2,33 euro per liter, hanya empat sen di bawah rekor tertinggi yang tercatat pada 2022.

Lonjakan harga ini terjadi setelah meningkatnya ketegangan geopolitik menyusul serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada Sabtu (28/2), yang menimbulkan kekhawatiran tentang pasokan energi dari Timur Tengah. Untuk saat ini, pengiriman bahan bakar utama, termasuk gas alam cair dari Qatar, minyak mentah dari Arab Saudi, diesel dari Kuwait, dan minyak tanah dari Uni Emirat Arab, menghadapi ketidakpastian yang semakin meningkat di pasar global. Eropa mendapatkan sebagian besar bahan bakar tersebut dari Timur Tengah.

Menghadapi kenaikan biaya pengadaan yang pesat, banyak pemasok energi Belanda mulai menyesuaikan penawaran kontrak mereka. Sebagian besar perusahaan telah menaikkan harga untuk kontrak jangka tetap, sementara beberapa perusahaan lainnya untuk sementara menarik kesepakatan jangka panjang tetap untuk membatasi eksposur risiko.

Menurut platform perbandingan Overstappen.nl, beberapa penyedia layanan telah menaikkan tarif dan mengurangi insentif cashback untuk pelanggan baru. Pada saat yang sama, sejumlah kontrak jangka panjang telah dihapus dari situs jejaring mereka.

"Situasi ini mengingatkan kita pada periode awal perang di Ukraina, ketika harga energi juga melonjak tajam. Saat itu, bahkan untuk sementara waktu tidak mungkin untuk menandatangani kontrak energi dengan harga tetap," kata Rick Boenink, seorang pakar energi di Overstappen.nl, pada Rabu (4/3).

Perubahan tersebut telah berdampak pada kenaikan biaya hidup bagi rumah tangga di Belanda. Menurut Overstappen.nl, biaya energi bulanan rata-rata untuk rumah tangga beranggotakan dua orang yang menandatangani kontrak jangka tetap baru telah meningkat sekitar 36 euro dalam sepekan. Jika pekan lalu rumah tangga Belanda membayar sekitar 153 euro per bulan, kini biaya hidup telah naik menjadi sekitar 189 euro per bulan.

Kenaikan harga energi juga diperkirakan akan berdampak lebih luas terhadap perekonomian Belanda.

Menurut laporan yang dirilis oleh Rabobank, salah satu bank besar di Belanda, kenaikan biaya energi kemungkinan akan mendorong inflasi naik dalam beberapa tahun mendatang. Bank tersebut memperkirakan inflasi akan mencapai rata-rata 2,7 persen pada 2026 sebelum menurun menjadi 2,1 persen pada 2027.

"Ini berarti inflasi pada 2026 akan sekitar 0,3 poin persentase lebih tinggi daripada inflasi pada Januari 2026, yang menggambarkan betapa kuatnya perkembangan geopolitik dapat memengaruhi tekanan harga domestik," kata laporan tersebut.

Dampak tersebut meluas melampaui kenaikan langsung pada tagihan bahan bakar dan listrik. Biaya energi yang lebih tinggi juga meningkatkan biaya produksi bagi para produsen, yang sering kali diteruskan kepada konsumen melalui kenaikan harga makanan, barang industri, dan produk lainnya. Apa yang disebut ‘efek putaran kedua’ ini biasanya muncul dengan jeda waktu setelah guncangan harga energi.

Dalam jangka pendek, kenaikan biaya energi diperkirakan akan melemahkan daya beli rumah tangga dan mengurangi konsumsi swasta. Bisnis juga mungkin akan lebih berhati-hati dalam berinvestasi mengingat peningkatan biaya operasional dan memburuknya ketidakpastian geopolitik.

Sektor-sektor padat energi, seperti logam, pengolahan makanan, dan bahan kimia, dapat menghadapi penurunan daya saing internasional, yang berpotensi mengurangi permintaan ekspor Belanda.

Besarnya dampak ekonomi bagi Eropa dan Belanda pada akhirnya bergantung pada durasi konflik dan tingkat eskalasi, dan hal-hal tersebut pada akhirnya menentukan berapa lama perekonomian Belanda akan menghadapi kenaikan harga energi dan peningkatan ketidakpastian, tambah Rabobank.

Laporan: Redaksi

Bagikan

Komentar

Sathyra Sarchastica

07 Mar 2026

Belanda pun bisa tumbang.

Berita Terkait