
Sedikitnya 1.383 warga sipil tewas dalam kekerasan di wilayah pesisir Suriah

Seorang anggota pasukan keamanan Suriah berpatroli di sebuah jalan di kota pesisir Jableh, Provinsi Latakia, Suriah barat laut, pada 9 Maret 2025. Presiden sementara Suriah Ahmed al-Sharaa pada Ahad (9/3) mengumumkan pembentukan Komite Tinggi untuk Perdamaian Sipil, yang ditugaskan untuk terlibat langsung dengan masyarakat guna mengatasi kekhawatiran dan memastikan stabilitas di wilayah pesisir tersebut. (Xinhua/Str)
Kekerasan di wilayah pesisir Suriah dengan cepat meningkat menjadi bentrokan sektarian yang lebih luas, yang sebagian besar menargetkan kota-kota dan desa yang mayoritas penduduknya suku Alawite, sekte minoritas yang mendominasi struktur kekuasaan Suriah di bawah Assad.
Damaskus, Suriah (Xinhua/Indonesia Window) – Sedikitnya 1.383 warga sipil tewas dalam gelombang kekerasan baru-baru ini di wilayah pesisir Suriah, demikian laporan Observatorium Suriah untuk Hak Asasi Manusia (Syrian Observatory for Human Rights/SOHR) pada Rabu (12/3).Kekerasan tersebut meletus pada 6 Maret, dipicu oleh serangan terkoordinasi yang dilancarkan kelompok-kelompok bersenjata loyalis mantan presiden Bashar al-Assad terhadap pasukan keamanan di kawasan pesisir Latakia, yang menewaskan sedikitnya 16 personel keamanan, menurut Kementerian Pertahanan Suriah.Kekerasan dengan cepat meningkat menjadi bentrokan sektarian yang lebih luas, yang sebagian besar menargetkan kota-kota dan desa yang mayoritas penduduknya suku Alawite, kata Juru Bicara Kantor Komisaris Tinggi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk Hak Asasi Manusia (Office of the United Nations High Commissioner for Human Rights/OHCHR) Thameen Al-Kheetan pada Selasa (11/3).Dia menambahkan investigasi awal menunjukkan para pelaku meliputi para pejuang yang beraliansi dengan pemerintah sementara Suriah serta faksi-faksi pro-Assad. Komunitas Alawite merupakan sekte minoritas yang mendominasi struktur kekuasaan Suriah di bawah Assad.Sejauh ini observatorium yang berbasis di Inggris tersebut telah mencatat setidaknya 1.383 kematian warga sipil, dan memperingatkan tentang prosedur pemakaman yang tidak layak karena skala kekerasan yang terjadi telah membebani kemampuan lokal untuk menangani krisis tersebut.Lebih lanjut menurut SOHR, jumlah korban kemungkinan akan bertambah seiring semakin banyaknya jenazah yang ditemukan, dengan kematian terbaru tercatat di Latakia, Tartous, dan Hama.Ahmed al-Sharaa, presiden sementara Suriah, pada Ahad (9/3) memerintahkan pembentukan komite nasional independen untuk menyelidiki kekerasan dan meminta pertanggungjawaban para pelaku. Komite tersebut harus menyelesaikan misinya dalam waktu 30 hari.
Yasser Al-Farhan, juru bicara Komite Independen Nasional untuk Investigasi dan Pencarian Fakta, berbicara dalam sebuah konferensi pers di Damaskus, Suriah, pada 11 Maret 2025. (Xinhua/Ammar Safarjalani)
Bagikan

Komentar
Berita Terkait

Mesir dan Irak desak tekanan internasional untuk wujudkan gencatan senjata Gaza
Indonesia
•
29 Aug 2024

Tentara Israel bongkar struktur militer Hamas di Gaza utara
Indonesia
•
07 Jan 2024

Partai oposisi Korsel ajukan RUU untuk selidiki korupsi politik Presiden Yoon dan istri
Indonesia
•
13 Feb 2025

China desak pejabat AS bijaksana tangani isu terkait Taiwan
Indonesia
•
04 Feb 2023


Berita Terbaru

Xi undang 100.000 pemuda AS ke China dalam 5 tahun, panda juga segera tiba di Atlanta
Indonesia
•
25 Sep 2026

Puluhan delegasi pilih ‘walk out’ saat Netanyahu pidato di Sidang Majelis Umum PBB
Indonesia
•
25 Sep 2026

Telaah – Dari persaingan ke kerja sama, Xi dorong China-AS temukan cara hidup berdampingan
Indonesia
•
26 Sep 2026

Jumlah pengungsi Yaman tembus 129.438 orang, ribuan menyeberang ke Djibouti
Indonesia
•
23 Sep 2026
