Kasus penembakan fatal oleh polisi meningkat di AS, banyak yang tak dilaporkan

Seorang petugas polisi berjaga di lokasi penembakan massal di Highland Park, Illinois, Amerika Serikat, pada 4 Juli 2022. (Xinhua/Vincent Johnson)
Penembakan yang dilakukan oleh polisi kepada warga kulit hitam lebih sering terjadi daripada yang tertera dalam data FBI, dengan jumlah lebih dari dua kali lipat dibandingkan dengan tingkat kejadian untuk warga kulit putih.
New York City, AS (Xinhua) – Pemerintah federal Amerika Serikat (AS) melaporkan kasus penembakan oleh polisi yang berakibat fatal dengan jumlah yang lebih sedikit setiap tahunnya, terlepas dari pemantauan yang terus dilakukan terhadap penggunaan kekuatan (use of force) oleh aparat kepolisian dan dana senilai jutaan dolar yang dikeluarkan guna mendorong aparat penegak hukum setempat untuk melaporkan data tersebut, demikian dilansir The Washington Post pada Selasa (6/12).Meski laporan federal mengindikasikan bahwa jumlah kasus penembakan yang dilakukan oleh polisi mengalami penurunan di negara itu sejak 2015, basis data Fatal Force dari The Washington Post menunjukkan hal sebaliknya. Aparat kepolisian menembak dan membunuh lebih banyak orang setiap tahun, mencapai rekor tertinggi pada 2021 dengan 1.047 kematian, menurut laporan itu."Basis data FBI hanya mencakup sekitar sepertiga dari 7.000 kasus penembakan fatal yang dilakukan oleh polisi selama ini, turun dari setengah saat The (Washington) Post mulai melakukan pelacakan," sebut laporan itu.Penembakan yang dilakukan oleh polisi di sedikitnya 2.250 departemen kepolisian dan sheriff tidak ditemukan dalam laporan federal selama tujuh tahun terakhir, menurut analisis basis data yang dikelola oleh surat kabar harian tersebut, yang mulai melacak kasus-kasus pembunuhan pada 2015."Data yang tidak disertakan itu menciptakan gambaran yang menyesatkan tentang pemerintah dalam hal penggunaan kekuatan oleh polisi, sehingga mempersulit upaya untuk menuntut pertanggungjawaban," menurut analisis tersebut.Data yang tidak lengkap juga menyamarkan kesenjangan rasial di antara para korban yang tewas di tangan polisi, yang skalanya lebih besar dari yang ditunjukkan oleh data federal. Penembakan oleh polisi dan berakibat fatal kepada warga kulit hitam lebih sering terjadi daripada yang tertera dalam data FBI, dengan jumlah lebih dari dua kali lipat dibandingkan dengan tingkat kejadian untuk warga kulit putih, tambah laporan itu.Laporan: RedaksiBagikan
Komentar
Berita Terkait

Beijing optimalkan kebijakan respons COVID di sekolah
Indonesia
•
07 Jan 2023

COP15 jadi momen krusial bagi umat manusia
Indonesia
•
07 Dec 2022

COVID-19 – AS dikritik karena luncurkan ‘booster’ tanpa uji klinis pada manusia
Indonesia
•
15 Sep 2022

Gangguan mental Gen Z pasca-COVID di AS naik jadi 42 persen
Indonesia
•
09 Nov 2022
Berita Terbaru

Perlintasan Rafah kembali dibuka, PBB harapkan lebih banyak negara terima pasien dari Gaza
Indonesia
•
03 Feb 2026

Mesir mulai terima pasien dan korban luka dari Gaza via perlintasan Rafah
Indonesia
•
03 Feb 2026

Feature – Menyusuri jejak masa lalu di Pecinan Glodok, dari klenteng, gereja, hingga tradisi teh China
Indonesia
•
02 Feb 2026

Berita buatan AI makin mendominasi, ‘think tank’ Inggris desak pemerintah susun aturan
Indonesia
•
02 Feb 2026
