
Duta Besar China tepis klaim "perangkap utang" di Afrika

Duta Besar China untuk Amerika Serikat (AS) Qin Gang (kanan) berbicara dalam sebuah acara bincang-bincang, yang merupakan bagian dari rangkaian diskusi yang diselenggarakan oleh Semafor, di Washington DC, AS, pada 12 Desember 2022. (Xinhua/Liu Jie)
Jumlah utang negara-negara Afrika kepada pemberi pinjaman swasta Barat tiga kali lipat dari utang mereka ke China, dan suku bunga pinjaman swasta dua kali lipat dari suku bunga pinjaman China, menjadi bukti bahwa "China bukanlah kreditur terbesar dari utang Afrika," dan "utang ke China hanya sebagian kecil."
Washington, AS (Xinhua) – Duta Besar China untuk Amerika Serikat (AS) Qin Gang pada Selasa (13/12) menepis klaim bahwa China menciptakan "perangkap utang" di Afrika, dengan mengatakan bahwa benua tersebut seharusnya menjadi tempat untuk kerja sama internasional, bukan arena persaingan bagi negara-negara besar untuk mendapatkan keuntungan geopolitik.Pernyataan itu disampaikan Qing menjelang konferensi tingkat tinggi (KTT) yang akan diselenggarakan oleh pemerintahan Presiden AS Joe Biden yang mengumpulkan para pemimpin dari 49 negara Afrika dan Uni Afrika di Washington."Bantuan investasi dan pembiayaan China ke Afrika bukanlah perangkap, itu keuntungan," kata Qin dalam sebuah acara bincang-bincang, yang merupakan bagian dari rangkaian diskusi yang diselenggarakan oleh Semafor jelang KTT AS-Afrika yang dijadwalkan digelar mulai Selasa (13/12) hingga Kamis (15/12). Semafor adalah perusahaan rintisan berita AS yang diluncurkan awal tahun ini."Selama beberapa dekade terakhir, China memberikan pinjaman untuk membantu Afrika dalam pembangunan ekonomi dan sosial. Pekerjaan konstruksi ada di mana-mana di Afrika," tutur Qin. "Anda dapat melihat rumah sakit, jalan raya, bandar udara, stadion. Jelas, tidak ada perangkat semacam itu. Ini bukan plot. Semuanya transparan, tulus."Mengutip sebuah studi yang diterbitkan pada Juli oleh Debt Justice, sebuah kelompok amal Inggris, Qin mengatakan jumlah utang negara-negara Afrika kepada pemberi pinjaman swasta Barat tiga kali lipat dari utang mereka ke China, dan suku bunga pinjaman swasta dua kali lipat dari suku bunga pinjaman China.Temuan-temuan itu, papar Qin, menjadi bukti bahwa "China bukanlah kreditur terbesar dari utang Afrika," dan "utang ke China hanya sebagian kecil."
Warga Kenya bernyanyi dan menari di samping salah satu lokomotif gelombang pertama untuk Jalur Kereta Sepur Standar (Standard Gauge Railway/SGR) Mombasa-Nairobi di Mombasa, Kenya, pada 11 Januari 2017. (Xinhua/Sun Ruibo)
Bagikan

Komentar
Berita Terkait

Kementerian ESDM buka lebar data migas
Indonesia
•
04 Feb 2020

Mesir akan lakukan pengeboran sumur migas senilai 1,2 miliar dolar AS selama tahun fiskal 2024/2025
Indonesia
•
16 Jul 2024

Minyak turun karena kekhawatiran ekonomi global dan larangan minyak Rusia
Indonesia
•
09 May 2022

Minyak naik di Asia setelah data menunjukkan stok AS turun mengejutkan
Indonesia
•
09 Feb 2022


Berita Terbaru

Fokus Berita – Dari Piraeus hingga Jakarta-Bandung, kisah visi Xi Jinping tentang pembangunan bersama
Indonesia
•
11 Aug 2026

Turkiye makin diminati wisatawan China, 245.000 berkunjung dalam enam bulan
Indonesia
•
11 Aug 2026

Feature – Dari lengan robot hingga AI, begini teknologi China yang mulai membidik Indonesia
Indonesia
•
10 Aug 2026

Jepang dihantam gelombang kebangkrutan, 1.028 perusahaan gulung tikar dalam sebulan
Indonesia
•
10 Aug 2026
