
Quincy Institute: Militer AS picu dan perburuk kekerasan di Somalia

Pasukan keamanan berpatroli di luar gedung yang diserang oleh kelompok yang diduga merupakan militan Al-Shabab di Mogadishu, ibu kota Somalia, pada 21 Februari 2023. (Xinhua/Hassan Bashi)
Intervensi militer AS tidak saja berkontribusi dalam memperpanjang perang dengan kelompok militan Al-Shabab, tetapi juga menjadi bagian integral dari kelanjutan konflik yang tak terelakkan di Somalia, yang di dalamnya AS sama sekali tidak memiliki kepentingan keamanan vital yang dipertaruhkan.
New York City, AS (Xinhua) – Amerika Serikat (AS) tetap bertahan di Somalia dalam konflik yang tidak menunjukkan tanda-tanda akan berakhir dalam waktu dekat meskipun pemerintahan Biden berbicara tentang mengakhiri perang Amerika yang tak berujung, demikian disampaikan oleh Quincy Institute for Responsible Statecraft dalam sebuah artikel pada Jumat (5/5).Bantuan dan pelatihan, serta intervensi militer AS seluruhnya berkontribusi dalam memperpanjang perang dengan kelompok militan Al-Shabab, menurut artikel tersebut mengutip laporan baru mengenai Biaya Proyek Perang.Sejak didirikan pada tahun 2006, Al-Shabab telah memanfaatkan kelemahan pemerintah pusat Somalia, meskipun pemerintah semakin menguat dalam beberapa tahun terakhir, untuk mengendalikan sebagian besar wilayah yang tidak berpemerintahan. Kelompok ini mencapai puncaknya pada 2011 ketika menguasai sebagian ibu kota Mogadishu dan pelabuhan vital Kismayo.Sejak 2011, Al-Shabab telah melakukan lebih dari 150 serangan di Kenya, sekutu lama AS. Yang paling brutal adalah serangan Januari 2016 di kamp tentara Kenya di El Adde yang menewaskan 200 tentara, serangan April 2015 di kampus perguruan tinggi Kenya yang menewaskan 148 orang, dan serangan September 2013 di sebuah mal di Nairobi yang menewaskan sedikitnya 67 orang."Alih-alih mendekatkan negara itu kepada perdamaian dan stabilitas, kebijakan AS justru menjadi salah satu pemicu konflik," demikian tertulis dalam laporan itu."AS tidak hanya berkontribusi dalam konflik di Somalia, tetapi juga menjadi bagian integral dari kelanjutan konflik yang tak terelakkan di Somalia," yang di dalamnya AS sama sekali tidak memiliki kepentingan keamanan vital yang dipertaruhkan, papar laporan itu.Kebijakan AS saat ini memperburuk masalah keamanan Somalia alih-alih meredakannya, kata Quincy Institute."Pemerintahan Biden setidaknya harus mengakhiri keterlibatan langsung AS dalam perang di Somalia," tambahnya.Laporan: RedaksiBagikan

Komentar
Berita Terkait

Analisis – Kesepakatan damai AS-Iran jadi terobosan besar, risiko perang regional mereda
Indonesia
•
15 Jun 2026

Erdogan berencana bicara dengan Putin untuk perpanjangan Inisiatif Biji-bijian Laut Hitam
Indonesia
•
24 Jul 2023

Trump resmi jadi kandidat presiden Partai Republik usai kantongi suara delegasi yang cukup
Indonesia
•
17 Jul 2024

Usai teken MoU dengan AS, Iran buka Selat Hormuz dan gratiskan biaya kapal selama 60 hari
Indonesia
•
19 Jun 2026


Berita Terbaru

Fokus Berita – Gelombang protes Eropa ungkap retaknya kepercayaan publik terhadap pemerintah
Indonesia
•
20 Oct 2026

Prancis berlakukan jam malam di sejumlah kota usai kerusuhan, 2.397 orang ditangkap
Indonesia
•
20 Oct 2026

Program Pangan Dunia butuh 8,1 triliun rupiah untuk operasi di Gaza dan Tepi Barat, bantuan mulai dipangkas
Indonesia
•
20 Oct 2026

Analisis – Kekerasan oleh pemukim di Tepi Barat jadi ujian Israel jelang pemilu
Indonesia
•
20 Oct 2026
