
Studi ungkap peran interaksi laut-atmosfer perkuat gelombang dingin di Eurasia

Foto yang diabadikan menggunakan 'drone' ini menunjukkan para pekerja membersihkan salju di sebuah taman di Kota Rongcheng, Provinsi Shandong, China timur, pada 7 Februari 2025. (Xinhua/Li Xinjun)
Interaksi laut-atmosfer memperkuat gelombang dingin di Eurasia yang dipicu oleh hilangnya es laut Arktik.
Lanzhou, China (Xinhua/Indonesia Window) – Sebuah studi baru berhasil mengungkap peran kunci interaksi laut-atmosfer dalam memperkuat gelombang dingin di Eurasia yang dipicu oleh hilangnya es laut Arktik, menurut Northwest Institute of Eco-Environment and Resources (NIEER) di bawah Akademi Ilmu Pengetahuan China (Chinese Academy of Sciences/CAS).Studi ini dilakukan bersama-sama oleh para peneliti dari NIEER, Universitas Exeter, dan Universitas Lanzhou. Temuan studi tersebut telah dipublikasikan dalam jurnal npj Climate and Atmospheric Science, menurut NIEER.Dalam satu dekade terakhir, gelombang dingin musim dingin ekstrem sering melanda benua Eurasia, menimbulkan ancaman serius bagi nyawa dan harta benda masyarakat serta perkembangan sosial-ekonomi.Tim peneliti melakukan dua jenis eksperimen yang signifikan, yaitu eksperimen atmosfer yang hanya mempertimbangkan proses atmosfer dan eksperimen yang terintegrasi sepenuhnya dan melibatkan proses interaksi laut-udara.Pengujian yang sepenuhnya terintegrasi berhasil mereproduksi sinyal gelombang dingin yang mendekati pengamatan, sementara respons dalam eksperimen atmosfer sangat lemah, menurut studi tersebut.Analisis lebih lanjut menunjukkan bahwa mencairnya es laut memicu pemanasan abnormal suhu permukaan laut di Samudra Atlantik Utara dan Samudra Pasifik Utara melalui proses interaksi laut-atmosfer.Oleh karena itu, mencairnya es laut mendorong perpindahan panas atmosfer ke arah utara ke wilayah kutub, menyebabkan pemanasan yang signifikan di Arktik, dan dengan demikian menciptakan kondisi yang menguntungkan untuk terjadinya gelombang dingin, menurut studi tersebut.Studi ini memberikan landasan ilmiah yang penting untuk meningkatkan kapasitas prakiraan yang lebih luas untuk gelombang dingin ekstrem serta memperkuat upaya pencegahan dan mitigasi bencana. Studi ini juga memberikan perspektif baru mengenai perubahan cepat di Arktik dan mekanisme umpan balik iklimnya, mengingat latar belakang perubahan iklim, menurut NIEER.Laporan: RedaksiBagikan

Komentar
Berita Terkait

China bangun stasiun Bumi komunikasi laser untuk transmisi data satelit skala besar
Indonesia
•
18 Sep 2024

Ilmuwan ungkap penemuan ilmiah di Dataran Tinggi Qinghai-Tibet
Indonesia
•
21 Nov 2025

Konstelasi satelit komersial China akan sediakan layanan internet untuk Brasil
Indonesia
•
22 Nov 2024

China dan anggota ASEAN bentuk aliansi inovasi iptek untuk durian
Indonesia
•
22 Jul 2024


Berita Terbaru

Fokus Berita – Kamera profesional mulai terancam? Ponsel China hadirkan sensor 1 inci dan ‘zoom’ periskop
Indonesia
•
25 Sep 2026

Makam piramida era Romawi simpan adegan langka perjalanan Dewa Ra ke dunia bawah
Indonesia
•
25 Sep 2026

China operasikan 354.000 robot industri pada 2025, hampir 60 persen dari total dunia
Indonesia
•
24 Sep 2026

Dunia terbelah soal AI di PBB: Guterres desak aturan, Trump tolak pembatasan global
Indonesia
•
24 Sep 2026
