PBB desak Taliban pertimbangkan kembali implementasi pembatasan akses perempuan terhadap pelatihan medis

Warga Afghanistan menunggu dalam antrean untuk menerima bantuan kemanusiaan di Kabul, ibu kota Afghanistan, pada 5 November 2024. Ketika Afghanistan bersiap menghadapi musim dingin yang berat di tengah sanksi dan kemiskinan, banyak warga Afghanistan yang hidup dalam kemiskinan berharap menerima bantuan kemanusiaan guna mempersiapkan diri menghadapi bulan-bulan dingin yang akan datang. (Xinhua/Saifurahman Safi)
Implementasi pembatasan akses wanita dan anak perempuan untuk mengikuti pelatihan medis di Afghanistan mengkhawatirkan PBB.
PBB (Xinhua/Indonesia Window) – Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mendesak otoritas Taliban untuk mempertimbangkan kembali implementasi pembatasan akses wanita dan anak perempuan untuk mengikuti pelatihan medis di Afghanistan, demikian disampaikan seorang juru bicara (jubir) sekretaris jenderal (sekjen) PBB pada Rabu (4/12)."Kami masih terus memantau situasi di Afghanistan," kata Stephane Dujarric, jubir Sekjen PBB Antonio Guterres, dalam sebuah taklimat pers harian. "Kami sungguh-sungguh khawatir dengan sebuah laporan mengenai perintah dari otoritas de facto Taliban yang melarang wanita dan anak perempuan mengikuti kelas di institusi-institusi medis swasta."Sejumlah media melaporkan bahwa Taliban memerintahkan institusi-institusi swasta maupun publik untuk berhenti memberikan kursus medis bagi wanita dan anak perempuan. Lima institusi di Afghanistan mengatakan bahwa Taliban telah menginstruksikan mereka untuk tutup hingga pemberitahuan lebih lanjut.Jika diimplementasikan, peraturan tersebut akan memberlakukan pembatasan lebih lanjut terhadap hak-hak wanita dan anak perempuan untuk mendapatkan pendidikan dan akses ke layanan kesehatan, ujar Dujarric.Pada akhirnya, peraturan tersebut akan berdampak buruk pada sistem perawatan kesehatan dan pembangunan Afghanistan, imbuhnya.Jubir sekjen PBB itu mendesak otoritas Taliban agar mempertimbangkan kembali implementasi perintah tersebut mengingat dampak negatif yang akan ditimbulkannya terhadap wanita dan anak perempuan Afghanistan maupun semua orang di negara tersebut.Laporan: RedaksiBagikan
Komentar
Berita Terkait

Texas laporkan kemungkinan kematian pertama akibat cacar monyet di AS
Indonesia
•
31 Aug 2022

Kotak hitam pesawat Nepal ditemukan, korban tewas bertambah jadi 69 orang
Indonesia
•
17 Jan 2023

Hong Kong akan tarik lebih banyak mahasiswa dari luar negeri
Indonesia
•
16 Oct 2024

Hampir separuh pengguna internet di Australia jadi korban kejahatan siber
Indonesia
•
14 Aug 2025
Berita Terbaru

Feature – Kisah dua mahasiswa Indonesia jajal kereta cepat, nikmati liburan Festival Musim Semi di China
Indonesia
•
07 Feb 2026

Kegiatan budaya Imlek China digelar perdana di Kantor Pusat ASEAN
Indonesia
•
07 Feb 2026

Feature – Lansia di China nikmati masa pensiun dengan jadi ‘content creator’
Indonesia
•
05 Feb 2026

Perlintasan Rafah kembali dibuka, PBB harapkan lebih banyak negara terima pasien dari Gaza
Indonesia
•
03 Feb 2026
