IMF proyeksikan ekonomi global tumbuh 3,1 persen pada 2026, AI jadi penopang

Foto yang diabadikan pada 16 April 2024 ini menunjukkan kantor pusat Dana Moneter Internasional (IMF) di Washington DC, Amerika Serikat. (Xinhua/Liu Jie)

Bangkok, Thailand (Xinhua/Indonesia Window) – Dana Moneter Internasional (IMF) pada Selasa (13/10) menaikkan tipis proyeksi pertumbuhan global 2026 menjadi 3,1 persen, naik 0,1 poin persentase dibandingkan proyeksi pada Juli. Kenaikan ini didorong oleh lonjakan investasi di bidang kecerdasan buatan (AI) yang menopang pertumbuhan sejumlah perekonomian dan mengimbangi dampak konflik di Timur Tengah terhadap perekonomian-perekonomian lainnya.

Dalam laporan terbaru World Economic Outlook yang berjudul ‘Ketahanan di Bawah Tekanan, Pilihan Mendesak’ (Resilience Under Strain, Urgent Choices), IMF memproyeksikan pertumbuhan global melambat dari 3,5 persen pada 2025 menjadi 3,1 persen pada 2026, sebelum kembali meningkat menjadi 3,4 persen pada 2027. Angka untuk 2027 tidak berubah dibandingkan proyeksi Juli dan 0,2 poin persentase lebih tinggi dibandingkan proyeksi April.

IMF menyatakan bahwa pertumbuhan semakin terkonsentrasi. Sebanyak 32 perekonomian kini menyumbang 95 persen pertumbuhan global, turun dari 54 perekonomian pada April. Sementara itu, proyeksi pertumbuhan sekitar 47 persen perekonomian direvisi turun.

IMF menilai perekonomian global tidak sekadar mengalami perlambatan atau percepatan, melainkan mengalami pergeseran pertumbuhan yang dipengaruhi oleh tingkat paparan masing-masing negara terhadap guncangan energi akibat perang dan permintaan terkait AI.

Negara-negara dengan kinerja ekonomi terkuat memiliki kerentanan yang terbatas terhadap gejolak energi dan keterkaitan yang kuat dengan rantai pasokan perangkat keras AI. Sebaliknya, negara-negara pengimpor energi yang memiliki keterkaitan minim dengan perkembangan teknologi, termasuk banyak negara berpendapatan rendah, menghadapi tekanan paling berat berupa kenaikan biaya impor, pelemahan mata uang, dan penurunan pendapatan riil.

Skenario dasar IMF mengasumsikan Selat Hormuz akan dibuka kembali pada Maret 2027, dengan kondisi secara umum diperkirakan kembali ke tingkat sebelum perang pada Oktober 2027. Sebelum perang, sekitar 25 persen dari total perdagangan minyak dunia yang diangkut melalui jalur laut melewati Selat Hormuz.

IMF memperkirakan penutupan Selat Hormuz akan memangkas pertumbuhan ekonomi global sebesar 0,9 poin persentase tahun ini jika tidak diimbangi oleh respons pasokan.

Namun, pengalihan jalur distribusi minyak dari kawasan Teluk, peningkatan produksi di wilayah lain, penggunaan cadangan minyak, serta berkurangnya intensitas penggunaan minyak dalam perekonomian global membuat dampak bersihnya diperkirakan sekitar 0,3 poin persentase.

IMF memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi Arab Saudi untuk 2026 sebesar 5 poin persentase dibandingkan perkiraan Juli, sehingga diperkirakan mengalami kontraksi 3,3 persen. Sementara itu, Bahrain, Irak, Kuwait, dan Qatar, sebagai negara produsen komoditas yang paling terdampak gangguan output dan distribusi energi, diperkirakan mengalami kontraksi ekonomi dua digit tahun ini.

IMF memperingatkan bahwa persediaan minyak terus menipis hingga mendekati level kritis yang berisiko memicu lonjakan tajam harga. Harga minyak diperkirakan mencapai rata-rata 95,74 dolar AS per barel pada 2026, melonjak sekitar 41 persen dibandingkan 2025, dan turun menjadi 87,39 dolar AS per barel pada 2027.

*1 dolar AS = 18.399 rupiah

Inflasi utama global kini diperkirakan akan naik dari 4,1 persen pada 2025 menjadi 4,7 persen pada 2026, sebelum kembali turun menjadi 4,1 persen pada 2027.

Dibandingkan dengan proyeksi April, IMF menaikkan proyeksi inflasi sebesar 0,3 poin persentase untuk 2026 dan 0,4 poin persentase untuk 2027.

Inflasi inti diperkirakan baru akan kembali ke level 2 persen pada akhir 2027 di Jepang dan Inggris, serta pada pertengahan 2028 di kawasan euro dan Amerika Serikat (AS).

Di antara perekonomian-perekonomian utama, pertumbuhan ekonomi AS diperkirakan mencapai 2,3 persen baik pada 2026 maupun 2027, didukung oleh konsumsi, kebijakan fiskal, dan investasi teknologi. Kawasan euro diperkirakan tumbuh 1,1 persen pada 2026 dan 1,2 persen pada 2027, mencerminkan berlanjutnya tekanan akibat tingginya harga energi dan lemahnya kepercayaan konsumen.

Pertumbuhan India diproyeksikan sebesar 7,0 persen pada 2026 dan 2027. Sementara itu, Jepang diperkirakan tumbuh 0,7 persen dan Inggris 1,3 persen pada 2026.

Laporan: Redaksi

Bagikan

Komentar

Berita Terkait