IMF peringatkan harga energi tetap tinggi, minyak diproyeksi bertahan di level 100 dolar AS hingga 2027

Sejumlah kendaraan melintasi sebuah stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) di Gesundbrunnen, Berlin, Jerman, pada 30 April 2026. Eskalasi konflik di Timur Tengah mendorong lonjakan biaya hidup di Jerman. Data resmi yang dirilis pada 29 April 2026 menunjukkan tekanan inflasi yang kembali membayangi perekonomian terbesar di Eropa tersebut serta menimbulkan kekhawatiran atas pemulihannya yang rapuh. (Xinhua/Zhang Haofu)

Singapura (Xinhua/Indonesia Window) – Direktur Pelaksana Dana Moneter Internasional (IMF) Kristalina Georgieva pada Rabu (7/10) mengatakan bahwa sekalipun konflik di kawasan Teluk berakhir dalam waktu dekat, harga energi kemungkinan akan tetap tinggi untuk beberapa waktu.

"Kontrak berjangka minyak Brent, misalnya, kini memprediksikan harga minyak akan tetap tinggi hingga 2027," ujarnya dalam pidato pembuka menjelang Pertemuan Tahunan IMF dan World Bank Group 2026, yang akan berlangsung pada 12 hingga 18 Oktober di Bangkok, Thailand.

"Sejauh ini, guncangan harga energi cukup besar, tetapi masih terkendali berkat efisiensi energi, diversifikasi sumber bahan bakar, pelepasan cadangan, fleksibilitas rantai pasokan, serta respons alami permintaan dan penawaran yang berlangsung seperti biasa," ujar Georgieva.

Namun demikian, terlepas dari pasokan yang perlahan mulai pulih dari kawasan Teluk, harga minyak tetap berada di kisaran 100 dolar AS per barel, yang mencerminkan adanya risiko, tingginya biaya transportasi, serta sejumlah faktor lainnya.

*1 dolar AS = 17.880 rupiah

"Di samping itu, selisih harga antara minyak mentah dan produk olahan yang mencapai sekitar 100 dolar AS per barel akibat kurangnya kapasitas penyulingan secara global turut mendorong harga eceran solar dan produk olahan minyak lainnya ke level tertinggi sepanjang sejarah," katanya.

Pasokan gas alam dari kawasan Teluk juga masih sangat terganggu, yang mencerminkan terbatasnya opsi pengangkutan gas alam cair (LNG) selama ancaman keamanan terus membayangi pelayaran melalui Selat Hormuz, ujar Georgieva.

Gangguan tersebut menimbulkan dampak yang tidak merata di seluruh dunia, dengan Asia dan Eropa menjadi kawasan yang paling terdampak, ujarnya.

"Tekanan harga mungkin akan meningkat lebih lanjut seiring negara-negara mengisi kembali cadangan mereka dan permintaan meningkat dengan datangnya musim dingin di belahan bumi utara," kata Georgieva.

Laporan: Redaksi

Bagikan

Komentar

Berita Terkait