
Ilmuwan sebut galaksi Bima Sakti ternyata "lebih ramping" dari perkiraan awal

Foto yang diabadikan pada 19 Juni 2015 ini menunjukkan Large Sky Area Multi-Object Fiber Spectroscopy Telescope (LAMOST) di stasiun pengamatan Xinglong milik Observatorium Astronomi Nasional di bawah Akademi Ilmu Pengetahuan China di Xinglong, Provinsi Hebei, China utara. (Xinhua/Wang Xiao)
Massa galaksi Bima Sakti yang diukur tim peneliti internasional, sekitar 550 miliar kali lipat massa matahari, atau hampir separuh dari nilai rata-rata yang diukur oleh tim-tim peneliti lainnya, yang tercatat sekitar 1 triliun kali lipat massa matahari.
Beijing, China (Xinhua) – Sebuah tim peneliti yang terdiri dari ilmuwan China dan asing telah mengukur massa galaksi Bima Sakti secara akurat dan mengungkapkan massanya sekitar 550 miliar kali lipat massa matahari.Hasil itu dipublikasikan dalam jurnal Monthly Notices of the Royal Astronomical Society baru-baru ini.Estimasi terbaru massa galaksi Bima Sakti tersebut hampir separuh dari nilai rata-rata yang diukur oleh tim-tim peneliti lainnya, yang tercatat sekitar 1 triliun kali lipat massa matahari."Hasil terbaru kami menunjukkan bahwa galaksi Bima Sakti mungkin 'lebih ramping' dari perkiraan kita sebelumnya," ujar Xue Xiangxiang, anggota utama tim penelitian tersebut sekaligus peneliti dari Observatorium Astronomi Nasional Akademi Ilmu Pengetahuan China (NAOC)."Ini berarti ada jauh lebih sedikit materi gelap yang tidak bercahaya namun memiliki gaya gravitasi di galaksi tersebut dibandingkan perkiraan awal," imbuhnya.Dikatakan Xue, massa itu sangat penting untuk memahami dinamika galaksi Bima Sakti. Namun, ada ketidakpastian yang tinggi dalam estimasinya karena keterbatasan observasi.Dalam penelitian ini, tim ilmuwan tersebut memperoleh hasil itu berdasarkan data dari Large Sky Area Multi-Object Fiber Spectroscopic Telescope (LAMOST), teleskop optik terkemuka di China, dan satelit Gaia milik Badan Antariksa Eropa (European Space Agency).Besarnya sampel data spektroskopi yang disediakan oleh LAMOST merupakan salah satu keunggulan utama penelitian ini dibandingkan studi-studi dari tim penelitian lainnya, tutur Xue."Tidak hanya besar dalam jumlah dan cakupan, sampel itu juga merekam posisi tiga dimensi (3D), kecepatan 3D, dan banyaknya logam dari setiap bintang," urai Xue.Tim peneliti tersebut terdiri dari sejumlah ilmuwan China Three Gorges University (CTGU), NAOC, Universitas Teknologi Swinburne di Australia, Universitas Jiao Tong Shanghai, dan lain-lain.Laporan: RedaksiBagikan

Komentar
Berita Terkait

Pemutihan karang akibat gelombang panas terdeteksi di perairan sekitar Taiwan
Indonesia
•
19 Jul 2024

Dua macan tutul salju langka tertangkap kamera di Yunnan, China barat daya
Indonesia
•
12 Nov 2024

Obat antikanker Rocbrutinib tunjukkan respons objektif 63,9 persen dalam uji klinis
Indonesia
•
06 Jun 2026

Siapa leluhur orang Indonesia? Peneliti temukan petunjuk penting di Sumatra dan Kalimantan
Indonesia
•
01 Jun 2026


Berita Terbaru

19 patogen picu 9,7 juta infeksi dan 50.800 kematian per tahun di AS
Indonesia
•
28 Oct 2026

Amazon di Brasil lepaskan 1,17 miliar ton karbon lebih banyak daripada yang diserap per tahun
Indonesia
•
23 Oct 2026

96 persen terumbu karang dunia terancam kritis akibat pemanasan laut, Great Barrier Reef Australia bisa hancur pada 2075
Indonesia
•
23 Oct 2026

Feature – Menimbang klaim manfaat ‘peach gum’, hidangan penutup dari getah pohon persik
Indonesia
•
22 Oct 2026
