
Ilmuwan kembangkan sensor bioelektronik fleksibel untuk pantau jantung dan otak

Foto dokumentasi yang diabadikan pada 1 April 2020 ini menunjukkan para peneliti bekerja di sebuah laboratorium Universitas Queensland (University of Queensland/UQ) di Brisbane, Australia. (Xinhua/Universitas Queensland)
Sydney, Australia (Xinhua/Indonesia Window) – Para insinyur biomedis di Australia telah mengembangkan sebuah sensor cahaya yang sepenuhnya fleksibel dan mampu mendeteksi perubahan sinyal listrik tubuh secara akurat.
Sensor baru tersebut, yang sejauh ini baru diuji pada hewan, berpotensi mengubah cara pemetaan tubuh manusia dengan memberikan wawasan yang lebih jelas dan akurat mengenai aktivitas listrik, demikian menurut sebuah pernyataan yang dirilis pada Senin (3/8) oleh Universitas New South Wales (University of New South Wales/UNSW) Australia.
"Implan bioelektronik adalah perangkat yang dapat ditempatkan di dalam tubuh untuk memantau sinyal listrik dari organ seperti jantung dan otak," kata Reem Almasri dari Fakultas Rekayasa Biomedis UNSW, penulis utama studi itu yang dipublikasikan dalam jurnal npj Flexible Electronics.
Perangkat yang dikenal sebagai sebuah ‘optrode’ mengubah sinyal listrik tubuh secara langsung menjadi sinyal cahaya dan mencapai tingkat viabilitas sel sebesar 98,4 persen dalam pengujian, yang menurut para peneliti dapat membuka jalan bagi teknologi pemantauan jangka panjang yang lebih aman dan minim invasif.
Berbeda dengan implan tradisional berbasis silikon dan logam, di mana desain kakunya dapat menyebabkan kerusakan jaringan, pembentukan jaringan parut, dan penolakan implan, serta kabel logamnya rentan terhadap gangguan listrik, sensor baru ini dirancang untuk meniru kelembutan jaringan manusia.
Para peneliti menyatakan bahwa sensor ini "mengatasi tantangan-tantangan tersebut dan menandai sebuah lompatan besar ke depan menuju generasi berikutnya dari bioelektronika implan."
"Dengan teknologi kami, kami dapat memperkecil ukuran sensor hingga puluhan mikron, sekitar setengah lebar rambut manusia, tanpa kehilangan kualitas sinyal atau menimbulkan gangguan listrik tambahan," ujar Almasri, seraya menambahkan bahwa uji laboratorium tidak menemukan tanda-tanda toksisitas maupun kontaminasi.
Selain jantung dan otak, para peneliti mengatakan teknologi ini dapat diadaptasi untuk memantau usus, otot, atau bahkan sel-sel individu.
Laporan: Redaksi
Bagikan

Komentar
Berita Terkait

Feature – Konservasi lahan basah tingkatkan perlindungan burung migran di China Barat Laut
Indonesia
•
12 Feb 2025

Spesies tokek baru ditemukan di China selatan
Indonesia
•
19 May 2025

Muatan ilmiah dari satelit ‘reusable’ dan ‘returnable’ pertama China dikirim ke pengguna
Indonesia
•
25 Oct 2024

Peneliti China eksplorasi strategi pengobatan kanker dengan material fungsional fluoresen
Indonesia
•
09 Mar 2023


Berita Terbaru

Ilmuwan temukan akselerator partikel terkuat di galaksi, energinya lampaui perkiraan
Indonesia
•
03 Aug 2026

Ilmuwan temukan gen gandum liar yang bisa hasilkan biji lebih besar dan bergizi
Indonesia
•
03 Aug 2026

Australia konfirmasi kematian massal pertama akibat flu burung H5N1
Indonesia
•
03 Aug 2026

Gara-gara internet tak diputus, AI Anthropic 'menyusup' ke sistem tiga organisasi nyata saat uji keamanan siber
Indonesia
•
31 Jul 2026
