
Ilmuwan kembangkan nanopartikel yang membantu ahli bedah melacak dan membunuh kanker otak mematikan

Ilustrasi. (National Cancer Institute on Unsplash)
Sydney, Australia (Xinhua/Indonesia Window) – Sebuah tim peneliti mengembangkan nanopartikel yang diaktifkan oleh cahaya untuk membantu ahli bedah melihat dan mengangkat glioblastoma, jenis kanker otak yang paling mematikan, secara lebih berpresisi dan menghancurkan sel-sel kanker yang tersisa pascapembedahan.
Para peneliti dari Universitas Teknologi Sydney (University of Technology Sydney/UTS) Australia, Universitas Harvard Amerika Serikat, dan Universitas Henan China, menemukan platform nanozyme ‘double-punch’ yang dirancang untuk mengatasi kedua masalah itu sekaligus dengan satu alat nanopartikel cerdas, papar sebuah pernyataan UTS yang dirilis pada Kamis (6/8).
"Ini merupakan langkah penting dalam upaya mengurangi kekambuhan, yang masih menjadi salah satu tantangan terbesar bagi penderita glioblastoma," kata Shi Bingyang, profesor ketua di bidang pengobatan nano (nanomedicine) di UTS. Dia menggambarkan platform tersebut sebagai "panduan berpresisi bagi ahli bedah selama operasi, dan kemudian sebagai pengobatan pembersihan tertarget pascaoperasi."
Glioblastoma sulit diobati karena sel-sel tumor menyusup ke jaringan otak di sekitarnya, sehingga pengangkatan total melalui pembedahan menjadi sulit dilakukan tanpa merusak jaringan yang sehat.
Penyakit tersebut juga resisten terhadap pengobatan karena sawar darah-otak (blood-brain barrier) membatasi penyaluran berbagai jenis obat dan radioterapi, urai para peneliti. Mereka menambahkan bahwa tingkat kelangsungan hidup lima tahun hanya sekitar 7 persen.
Platform nanozyme itu menggunakan lembaran ultratipis yang direkayasa secara atomik untuk memungkinkan pencitraan tumor selama pembedahan serta fototerapi pascapembedahan menggunakan sinar inframerah-dekat yang sama, papar penelitian yang telah diterbitkan di dalam jurnal Science Translational Medicine tersebut.
Selama pembedahan, pewarna fluoresen membuat para ahli bedah dapat mengidentifikasi klaster-klaster sel tumor sekecil 44 mikrometer, sementara sebuah molekul penarget membantu nanopartikel tersebut menembus sawar darah-otak dan berakumulasi di sel-sel glioma, tutur Shi, seraya menambahkan bahwa pascapembedahan, nanopartikel yang sama diaktifkan kembali untuk menghancurkan sisa-sisa sel kanker.
Setelah pengujian berhasil dilakukan pada model mencit, dia mengatakan penelitian lebih lanjut akan diperlukan untuk mengonfirmasi kinerja pencitraan dan terapeutiknya pada otak manusia.
Laporan: Redaksi
Bagikan

Komentar
Berita Terkait

MWC 2024 dibuka dengan fokus pada inovasi 5G dan AI
Indonesia
•
27 Feb 2024

Pohon 'Pterocymbium macranthum' ditemukan untuk kali pertama di China
Indonesia
•
21 Mar 2023

COVID-19 – Penelitian: Golongan darah A lebih berpotensi terinfeksi
Indonesia
•
05 Mar 2021

800 perusahaan Taiwan pasok teknologi mobil listrik dunia
Indonesia
•
24 Mar 2021


Berita Terbaru

AI kini bisa merancang virus dari nol, ilmuwan berhasil menciptakan bakteriofag baru
Indonesia
•
07 Aug 2026

China rampungkan peta geologi Bulan skala 1:5.000.000, petakan lebih dari 13.500 kawah
Indonesia
•
07 Aug 2026

Jelang misi bawa pulang sampel Mars, China siapkan laboratorium perlindungan planet
Indonesia
•
06 Aug 2026

Bagian roket Falcon 9 SpaceX akan hantam Bulan, NASA pastikan Bumi aman
Indonesia
•
05 Aug 2026
