
Peneliti temukan beberapa bagian otak lebih rentan terhadap tumor

Ilustrasi. (Robina Weermeijer on Unsplash)
Mutasi pada bagian otak lalat buah tempat Chinmo aktif memiliki kemungkinan jauh lebih besar untuk berkembang menjadi kanker, sementara mutasi serupa tidak membentuk tumor di tempat Chinmo tidak ada.
Melbourne, Australia (Xinhua/Indonesia Window) – Peneliti di Australia mengidentifikasi faktor-faktor biologis yang membuat bagian-bagian tertentu dari otak lebih rentan terhadap pertumbuhan tumor, memberikan wawasan baru tentang bagaimana kanker otak muncul.
Dengan menggunakan model lalat buah, para peneliti melakukan pengujian mengapa mutasi penyebab kanker memicu tumor di beberapa area otak, tetapi tidak di area lainnya, demikian menurut pernyataan yang dirilis pada Kamis (21/5) oleh Peter MacCallum Cancer Center (Peter Mac) di Melbourne.
Penelitian tersebut, yang telah diterbitkan di dalam jurnal Amerika Serikat Proceedings of the National Academy of Sciences, mengidentifikasi sebuah protein bernama ‘Chinmo’ sebagai faktor penentu utama dalam pembentukan tumor.
Tim peneliti menemukan bahwa mutasi pada bagian otak lalat buah tempat Chinmo aktif memiliki kemungkinan jauh lebih besar untuk berkembang menjadi kanker, sementara mutasi serupa tidak membentuk tumor di tempat Chinmo tidak ada.
"Kita dapat mengubah nasib sel-sel pembawa mutasi yang sama persis melalui pengaktifan atau penonaktifan Chinmo," ujar Profesor Louise Cheng dari Peter Mac, yang laboratoriumnya melaksanakan penelitian tersebut, seraya mengusulkan cara-cara potensial untuk melakukan intervensi.
Para peneliti juga menemukan bahwa Chinmo diatur oleh hormon steroid yang terlibat dalam perkembangan otak, menyoroti bagaimana waktu perkembangan dan sinyal hormonal memengaruhi risiko kanker.
Temuan-temuan ini dapat membantu para ilmuwan mengidentifikasi "faktor-faktor kompetensi" serupa pada manusia yang memicu pembentukan kanker, serta mengembangkan strategi pencegahan kanker dengan menargetkan kondisi-kondisi tersebut secara terapeutik, tutur Cheng.
Laporan: Redaksi
Bagikan

Komentar
Berita Terkait

Sejumlah penemuan arkeologi perkaya kebudayaan Terusan Besar Beijing-Hangzhou
Indonesia
•
15 Aug 2022

Populasi rusa milu yang terancam punah di cagar alam China berkembang pesat, capai 8.000 ekor
Indonesia
•
05 Jul 2024

Ericsson: Operator telekomunikasi China adopsi teknologi 5G dengan cepat
Indonesia
•
02 Mar 2023

Emisi metana TPA sampah global kini dapat diukur dengan satelit
Indonesia
•
02 Aug 2025


Berita Terbaru

19 patogen picu 9,7 juta infeksi dan 50.800 kematian per tahun di AS
Indonesia
•
28 Oct 2026

Amazon di Brasil lepaskan 1,17 miliar ton karbon lebih banyak daripada yang diserap per tahun
Indonesia
•
23 Oct 2026

96 persen terumbu karang dunia terancam kritis akibat pemanasan laut, Great Barrier Reef Australia bisa hancur pada 2075
Indonesia
•
23 Oct 2026

Feature – Menimbang klaim manfaat ‘peach gum’, hidangan penutup dari getah pohon persik
Indonesia
•
22 Oct 2026
