
Hutan tampak tetap sehat saat kekeringan, studi justru temukan ancaman tersembunyi

Foto dari udara yang diabadikan menggunakan 'drone' pada 11 Juli 2024 ini menunjukkan sebuah kendaraan wisata sedang melintas di taman hutan sungai Shangganling di Yichun, Provinsi Heilongjiang, China timur laut. (Xinhua/Zhang Tao)
Guangzhou, China (Xinhua/Indonesia Window) – Sebuah studi global terbaru menemukan bahwa pohon-pohon di hutan tidak banyak mengubah kerja internalnya ketika menghadapi kekeringan dalam jangka waktu panjang, yang menunjukkan bahwa pepohonan di hutan mungkin tidak mampu menyesuaikan diri dengan kondisi yang lebih kering semudah yang sebelumnya diharapkan oleh beberapa ilmuwan.
Hasil penelitian ini memberikan dasar ilmiah yang kuat bagi upaya konservasi hutan.
Dipimpin oleh tim ilmuwan dari Kebun Raya China Selatan (South China Botanical Garden/SCBG) di bawah naungan Akademi Ilmu Pengetahuan China (Chinese Academy of Sciences/CAS), studi tersebut didasarkan pada 40 eksperimen yang dilakukan di berbagai hutan di seluruh dunia.
Hasil penelitian itu baru-baru ini telah diterbitkan di dalam jurnal Proceedings of the National Academy of Sciences (PNAS).
Untuk memperoleh hasil yang realistis, tim peneliti menggunakan metode khusus. Mereka memasang talang di bawah kanopi hutan untuk menampung sebagian air hujan sebelum mencapai tanah. Dengan demikian, jumlah air yang sampai ke tanah berkurang, sementara pepohonan tetap berada di lingkungan alaminya.
Metode tersebut memberikan gambaran yang jauh lebih akurat mengenai respons pepohonan di hutan terhadap kekeringan dibandingkan eksperimen menggunakan tanaman dalam pot atau perbandingan area-area dengan tingkat curah hujan alami yang berbeda.
Para peneliti mengamati 24 karakteristik berbeda pada pohon, termasuk kemampuan mengangkut air, ketahanan terhadap kekeringan, serta kemampuan menyerap karbon dioksida untuk pertumbuhan.
Mereka meneliti hutan dengan beragam iklim dan kondisi kekeringan. Secara keseluruhan, pohon-pohon itu menunjukkan perubahan yang sangat kecil pada karakteristik-karakteristik tersebut. Bahkan ketika kekurangan air berlangsung dalam waktu lama, sistem hidraulik dan kemampuan fotosintesis pepohonan di hutan sebagian besar tetap tidak berubah.
Menurut Liang Xingyun, peneliti dari SCBG sekaligus penulis utama studi ini, minimnya perubahan tersebut justru dapat membantu pohon memanfaatkan periode hujan secara maksimal. Ketika hujan kembali turun, pohon dapat segera kembali menyerap karbon karena kapasitas fotosintesisnya tetap terjaga sepenuhnya.
Namun, kestabilan tersebut juga membawa risiko. Studi itu menemukan bahwa pepohonan di hutan tidak meningkatkan kemampuan untuk melawan kerusakan akibat kekeringan, sementara kadar air pada pohon menurun. Akibatnya, batas aman antara kondisi air normal dan titik ketika sistem pengangkutan air mulai mengalami kerusakan menjadi jauh lebih sempit.
Dengan kata lain, pohon beroperasi semakin dekat dengan ambang bahaya tanpa menjadi lebih kuat dalam menghadapi ancaman kekeringan panjang.
Ye Qing, peneliti dari SCBG sekaligus penulis korespondensi dalam studi tersebut, menjelaskan bahwa hanya karena pepohonan di hutan mampu mempertahankan fungsi normalnya, tidak berarti pohon-pohon itu menjadi lebih aman.
Pepohonan itu memang masih bisa memanfaatkan periode basah, tetapi ketika kekeringan semakin parah, mereka akan terdorong semakin dekat ke titik kerusakan.
"Studi ini menantang anggapan umum bahwa pepohonan di hutan secara bertahap akan beradaptasi dengan iklim yang semakin kering. Temuan ini memberikan landasan yang lebih baik bagi para ilmuwan untuk memprediksi respons hutan terhadap kekeringan di masa depan dengan memperbaiki asumsi yang digunakan dalam model komputer," imbuh Ye.
"Lebih penting lagi, penelitian ini menunjukkan bahwa bahaya nyata bagi hutan mungkin bukan kekurangan karbon, melainkan menyusutnya batas aman dalam sistem air mereka. Dengan kekeringan yang diperkirakan akan makin sering dan makin parah, memahami keterbatasan kemampuan beradaptasi ini akan menjadi sangat penting untuk melindungi hutan pada tahun-tahun mendatang," kata Liang.
Laporan: Redaksi
Bagikan

Komentar
Berita Terkait

Gara-gara internet tak diputus, AI Anthropic 'menyusup' ke sistem tiga organisasi nyata saat uji keamanan siber
Indonesia
•
31 Jul 2026

Reptil laut dari zaman dinosaurus diidentifikasi di China selatan
Indonesia
•
08 Apr 2022

Terobosan baterai ‘ultra-low temperature’ dukung ‘drone’ tuntaskan uji terbang di suhu minus 36 derajat celsius
Indonesia
•
17 Mar 2025

Satelit relai China beroperasi lancar, siap dukung misi Bulan global
Indonesia
•
20 May 2025


Berita Terbaru

Setelah 9 tahun dikembangkan, vaksin selesma ini mulai tunjukkan harapan
Indonesia
•
28 Aug 2026

Olahraga 'American football' berisiko picu cedera otak: 1 dari 4 mantan pemain NFL derita gangguan otak degeneratif
Indonesia
•
27 Aug 2026

Terapi sel baru China bantu perbaiki gagal jantung, 90 persen pasien pulih dalam 12 bulan
Indonesia
•
27 Aug 2026

Cangkir kertas sekali pakai ‘biodegradable’ justru bisa lepaskan 4,3 juta nanopartikel plastik per mililiter
Indonesia
•
27 Aug 2026
