Asep Jembar, ‘si tukang arang’ pecinta lingkungan yang rintis bisnis dengan takwa

Pemilik 'brand' arang batok kelapa, House of Charcoal, Asep Jembar Mulyana, berbicara dalam 'sharing session' pada acara Kopdar Bisnis Komunitas Pengusaha Muslim Indonesia (KPMI) Korwil Bogor di Vivo Mall, Bogor, Jumat (26/9/2025). (Indonesia Window)
House of Charcoal, briket batok kelapa premium milik Asep telah beredar di seluruh dunia seiring makin banyaknya pembeli dari berbagai negara.
Bogor, Jawa Barat (Indonesia Window) – “Asep arang”. Begitulah Asep Jembar Mulyana mengenalkan dirinya.Arang memang telah menjadi bagian hidup pengusaha asal Sukabumi itu sejak 27 tahun silam. Dengan jenama, House of Charcoal, briket batok kelapa premium milik Asep telah beredar di seluruh dunia seiring makin banyaknya pembeli dari berbagai negara.Asep kini tak semata-mata jualan, tapi lebih intensif melakukan kampanye ‘Save The World by Coconut Charcoal’ guna membangun kesadaran untuk menjaga lingkungan.Kesuksesan bisnis dan jalan hidup Ketua Himpunan Pengusaha Briket Arang Kelapa Indonesia (HIPBAKI) itu adalah wajah nyata dari pameo ‘from zero to hero’.Bagaimana tidak, kemiskinan justru menjadi titik mula Asep menempa diri menjadi pribadi yang pantang menyerah, konsisten, dan yang paling penting menurutnya, “selalu hanya bergantung pada Allah (ﷻ)”.“Saya sudah khatam dengan kemiskinan, dengan rasa lapar. Miskin di masa saya kecil itu sampai-sampai saya sering makan nasi yang diguyur air panas dan ditaburi garam,” kenangnya dalam sharing session pada acara Kopdar Bisnis Komunitas Pengusaha Muslim Indonesia (KPMI) Korwil Bogor di Vivo Mall, Bogor, Jumat (26/9).Lahir sebagai anak dari keluarga miskin, Asep sudah menjadi petani sejak masih duduk di bangku SMP, saat dia berserta kedua orangtuanya merantau ke daerah transmigrasi di Palembang, Sumatra Selatan, yang bahkan harus menempuh perjalanan lima jam dengan speedboat untuk mencapai lokasi tersebut, urainya.Hidup susah membuatnya harus mencari cara bertahan. Dari Palembang, Asep muda ‘nekad’ ke Jakarta, meskipun harus menjadi pedagang asongan hingga kenek bus. Dengan uang yang tak seberapa terkumpul dari pekerjaan sana-sini, Asep dan orangtuanya hanya mampu tinggal di rumah yang terbuat dari karton-karton bekas, di bantaran Kali Manggarai.Meski begitu, tekad untuk keluar dari lingkaran kemiskinan tidak pernah padam.“Singkat cerita, saya akhirnya bisa bekerja di perusahaan besar seperti Salim Group dan Astra. Di perusahaan ini saya sempat dikirim ke luar negeri,” tuturnya.Namun titik balik hidup Asep justru terjadi ketika dia kembali kepada Al-Qur’an dan sunnah.“Saya hijrah. Tapi hijarah saya bukan hanya soal ibadah, tapi juga cara berpikir dan berbisnis. Kalau kita kejar dunia, akhirat akan menjauh. Tapi kalau kita kejar akhirat, dunia akan mengejar kita sampai kita kewalahan,” ucapnya.Sejak 1998, Asep memilih jalannya sebagai pengusaha arang batok kelapa. Baginya, ini bukan sekadar bisnis, melainkan kampanye menyelamatkan lingkungan. “Saya bukan jualan produk, tapi jualan kampanye lingkungan. Arang batok lebih ramah lingkungan dibanding arang kayu,” jelasnya.Walaupun memiliki jaringan pembeli di seluruh dunia, Asep tak pernah ikut pameran atau gencar promosi. ‘Anehnya’, undangan untuk berbicara di berbagai forum internasional justru berdatangan.Salah satu momen paling berkesan adalah ketika dia pertama kali menjadi pembicara tentang lingkungan di hadapan parlemen Papua Nugini, bersama para pakar dunia lainnya.“Terus terang, saat itu saya gemetar luar biasa. Materi sudah saya kuasai, tapi saya tidak lancar berbahasa Inggris, sementara di depan saya para pakar dan pejabat parlemen Papua Nugini,” kenangnya, seraya menambahkan tepuk tangan meriah dan jabat tangan erat justru menyambutnya setelah tampil bicara.Bagi Asep, kunci keberhasilan bukan hanya strategi bisnis, melainkan sejauh mana keyakinan seseorang kepada janji Allah. “Berbisnislah dengan Allah, karena Allah sudah menjamin keberhasilan untuk kita,” tegasnya.Dia juga menekankan pentingnya takwa dengan menjaga sholat wajib lima waktu tepat waktu, mengamalkan ibadah sunnah, serta melakukan bisnis dengan muamalah Islam.Asep kini memetik buah kerja keras di tengah kemiskinan yang menjepit bertahun-tahun lamanya.Arang – benda hitam nan kotor namun terus dicari orang – adalah ‘cap’ yang lekat dengan Asep Jembar Mulyana. Namun bagi dirinya, branding sejati bukanlah pada produk atau popularitas, melainkan pada Allah (ﷻ).“Attitude yang baik dan takwa adalah modal utama,” tutupnya.Laporan: RedaksiBagikan
Komentar
Berita Terkait

ADB tegaskan komitmen dukung integrasi dan kerja sama untuk atasi tantangan regional
Indonesia
•
29 May 2025

Produsen panel surya besar tingkatkan produksi karena biaya material turun
Indonesia
•
12 Jan 2023

Kemendag ekspor perdana kerajinan serat alam UMKM ke AS
Indonesia
•
17 Sep 2025

AS berencana bangun stasiun pengisian daya kendaraan, di jalan raya sepanjang 120.000 km
Indonesia
•
28 Sep 2022
Berita Terbaru

Feature – Tianlala bawa aroma dan manis teh susu dari China ke Indonesia
Indonesia
•
29 Jan 2026

Laba bersih Tesla anjlok 46 persen pada 2025
Indonesia
•
29 Jan 2026

Feature – Kelapa Indonesia lebih mudah masuki pasar China berkat jalur pengiriman dan kebijakan preferensial Hainan
Indonesia
•
28 Jan 2026

Penjualan EV di Indonesia naik 141 persen pada 2025, merek-merek China menonjol
Indonesia
•
27 Jan 2026
