
Dua spesies laut baru ditemukan di laut dalam Australia Barat

Foto yang disediakan oleh Organisasi Penelitian Ilmiah dan Industri Persemakmuran (Commonwealth Scientific and Industrial Research Organization/CSIRO) pada 17 Agustus 2020 ini menunjukkan seorang ilmuwan mengumpulkan informasi di Terumbu Karang Ningaloo, Australia. (Xinhua/Yue Dongxing)
Hiu Lentera Australia Barat (Etmopterus westraliensis) ditemukan di kedalaman 610 meter di area Taman Laut Gascoyne di lepas pantai Australia Barat.
Canberra, Australia (Xinhua/Indonesia Window) – Tim ilmuwan berhasil mengindentifikasi dua spesies laut dalam (deep-sea) baru, yakni hiu lentera (lanternshark) dan kepiting porselen (porcelain crab), yang ditemukan di lepas pantai Negara Bagian Australia Barat di Australia.Organisasi Penelitian Ilmiah dan Industri Persemakmuran (Commonwealth Scientific and Industrial Research Organization/CSIRO), badan sains nasional Australia, mengatakan dalam sebuah pernyataan pada Senin (6/10) bahwa kedua spesies tersebut diidentifikasi menggunakan spesimen yang dikumpulkan selama pelayaran yang dipimpin CSIRO pada 2022 menggunakan kapal penelitian Investigator.Hiu Lentera Australia Barat (Etmopterus westraliensis) ditemukan di kedalaman 610 meter di area Taman Laut Gascoyne di lepas pantai Australia Barat, tutur Will White, seorang pakar iktiologi dari Koleksi Ikan Nasional Australia (Australian National Fish Collection) CSIRO.Hiu bioluminesensi berukuran kecil ini memiliki mata yang besar untuk penglihatan laut dalam dan bersinar karena memiliki organ pemancar cahaya yang dikenal sebagai fotofor pada bagian perut dan sisi tubuhnya, yang menginspirasi namanya, tutur White.Penemuan kedua adalah kepiting porselen baru (Porcellanella brevidentata). Kepiting kecil berwarna putih-kuning opalesen ini hidup bersimbiosis dengan karang lunak yang disebut sea pen di sepanjang Pesisir Ningaloo, Australia Barat, di kedalaman hingga 122 meter, kata Andrew Hosie, kurator zoologi akuatik dari Museum Australia Barat."Kepiting porselen dikenal sebagai penyaring makanan, memakan plankton menggunakan bagian mulut yang dimodifikasi dengan bulu panjang untuk menyapu air guna mencari makanan kecil seperti plankton, alih-alih metode kepiting pada umumnya yang menangkap dan menjepit makanan dengan capitnya," kata Hosie.Hampir 20 spesies baru kini telah diidentifikasi dengan bantuan spesimen yang dikumpulkan dalam pelayaran pada 2022, dan para ilmuwan memperkirakan bahwa masih ada sekitar 600 spesies baru yang masih menunggu untuk diidentifikasi dari pelayaran tersebut, menurut pernyataan itu.Laporan: RedaksiBagikan

Komentar
Berita Terkait

Tim arkeologi China ‘hidupkan kembali’ manusia Zaman Neolitikum dengan teknologi rekonstruksi wajah
Indonesia
•
25 Sep 2024

Penemuan berlian bersama emas di Far North Kanada berikan petunjuk sejarah awal Bumi
Indonesia
•
07 Oct 2020

Perusahaan China dan luar negeri tingkatkan kerja sama untuk kurangi emisi karbon
Indonesia
•
09 Sep 2023

Dimethyl ether energi alternatif LPG
Indonesia
•
22 Jul 2020


Berita Terbaru

Superkomputer China LineShine puncaki TOP500, jadi yang pertama tembus 2 EFLOPS
Indonesia
•
26 Jun 2026

Terobosan AI medis! Teknologi ini bisa membantu mendeteksi skizofrenia lewat gelombang otak
Indonesia
•
25 Jun 2026

Masayoshi Son: SoftBank fokus pada AI, cip, infrastruktur, dan robotik untuk percepat ekspansi
Indonesia
•
25 Jun 2026

Feature – Hampir 40 tahun jelajahi hutan, profesor BRIN temukan tiga spesies baru kantong semar, selamatkan Nepenthes Indonesia
Indonesia
•
25 Jun 2026
