Harga bahan bakar di Kamboja terus naik saat konflik masih berlanjut di Timur Tengah

Warga Kamboja berangkat menuju kampung halaman mereka di seluruh negeri menjelang festival Pchum Ben dari Phnom Penh, ibu kota Kamboja, pada 19 September 2025. (Xinhua/Sovannara)

Harga ritel bahan bakar minyak di Kamboja terus meningkat akibat eskalasi konflik di Timur Tengah.

 

Phnom Penh, Kamboja (Xinhua/Indonesia Window) – Harga ritel bahan bakar minyak di Kamboja terus meningkat akibat eskalasi konflik di Timur Tengah, demikian disampaikan Kementerian Perdagangan Kamboja dalam pengumuman pada Rabu (25/3) tengah malam waktu setempat.

Dalam pengumuman tersebut, Kementerian Perdagangan Kamboja menyatakan bahwa harga bensin reguler mencapai 5.450 riel Kamboja atau 1,36 dolar AS per liter mulai Kamis (26/3) hingga pemberitahuan berikutnya, naik tipis 0,92 persen dari 5.400 riel dalam tujuh hari terakhir.

*1 riel Kamboja = 4,20 rupiah

**1 dolar AS = 16.905 rupiah

Harga solar ditetapkan sebesar 7.100 riel atau sekitar 1,77 dolar AS per liter, naik 5,97 persen dari 6.700 riel, tambah pengumuman itu.

Masih pada Kamis, harga elpiji mencapai 3.200 riel atau sekitar 0,79 dolar AS per liter.

Sejak pecahnya konflik di Timur Tengah, harga bensin reguler, solar, dan elpiji di Kamboja masing-masing melonjak 41,5 persen, 84 persen, dan 60 persen, menurut Kementerian Perdagangan Kamboja.

Sejak pekan lalu, pemerintah Kamboja telah menurunkan bea impor dan pajak atas produk bensin dan solar, dengan tujuan mengurangi dampak kenaikan harga minyak internasional serta meringankan beban konsumen.

Negara di Asia Tenggara tersebut sepenuhnya bergantung pada minyak bumi dan solar impor, karena cadangan minyak di dasar lautnya belum dieksploitasi.

Laporan: Redaksi

Bagikan

Komentar

Berita Terkait