
CNN: Kota dengan pangkalan militer di AS berisiko alami kerugian ekonomi akibat ‘default’

Foto yang diabadikan pada 19 Januari 2023 ini menunjukkan gedung Capitol di Washington DC, Amerika Serikat. (Xinhua/Ting Shen)
Gagal bayar utang AS berarti kota-kota dengan pangkalan militer yang besar di negara ini berpotensi menghadapi kehancuran masif, meliputi pembayaran yang terlewat, peningkatan utang, dan penurunan pengeluaran yang signifikan yang akan memangkas pendapatan bisnis lokal.
New York City, AS (Xinhua) – Amerika Serikat (AS) berpotensi gagal membayar utangnya (default) dalam waktu kurang dari dua pekan, dan kota-kota dengan kehadiran militer yang besar berisiko mengalami badai ekonomi jika anggota parlemen tidak bertindak, ungkap laporan CNN baru-baru ini."Kegagalan membayar utang berarti pemerintah tidak akan dapat memenuhi semua kewajiban keuangannya, termasuk gaji yang dibayarkan kepada para pekerja federal dan pembayaran kepada penerima Jaminan Sosial," kata laporan itu.Sekitar seperenam dari pengeluaran pemerintah AS digunakan untuk pertahanan nasional, dengan seperempat dari itu dialokasikan untuk membayar personel militer, sebut laporan itu mengutip Kantor Anggaran Kongres AS (Congressional Budget Office)."Jika AS tidak dapat membayar tagihan pertahanan nasionalnya, kota-kota dengan pangkalan militer yang besar berpotensi menghadapi kehancuran masif, meliputi pembayaran yang terlewat, peningkatan utang, dan penurunan pengeluaran yang signifikan yang akan memangkas pendapatan bisnis lokal," papar laporan tersebut.Pembayaran apa yang akan diprioritaskan oleh Departemen Keuangan AS atau bagaimana cara departemen itu menangani utang pemerintah setelah kehabisan uang masih belum jelas, sebut laporan CNN."Para pekerja yang dibayar dengan gaji pemerintah, seperti personel militer, kemungkinan tidak akan diberhentikan jika default berlarut-larut, tetapi pembayaran gaji mereka mungkin akan tertunda, menurut analisis dari Brookings Institution. Hal itu dapat semakin merugikan perekonomian lokal yang sedang bergulat dengan gejolak pasar keuangan yang dapat berkembang bahkan sebelum kemungkinan default," tambah laporan itu.Sebelumnya, Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden memperingatkan konsekuensi buruk dari kemungkinan gagal membayar kewajiban utang (default) oleh pemerintah AS paling cepat pada 1 Juni.Berbicara di SUNY Westchester Community College di New York pada 10 Mei lalu, Biden mengatakan bahwa ekonomi AS akan jatuh ke dalam resesi dengan 8 juta warga AS kehilangan pekerjaan, dan reputasi internasionalnya akan rusak secara ekstrem jika terjadi gagal bayar utang.“Jika kita gagal membayar utang, seluruh dunia berada dalam masalah,” kata Biden.Warga Amerika akan menghadapi suku bunga yang lebih tinggi untuk kartu kredit, pinjaman mobil, hipotek, dan pembayaran untuk jaminan sosial, Medicare, tentara, dan veteran seluruhnya dapat dihentikan atau ditunda, ujar Biden.Laporan: RedaksiBagikan

Komentar
Berita Terkait

Eksekutif UOB: Hubungan ekonomi dan perdagangan China-ASEAN tak terpisahkan
Indonesia
•
12 Apr 2024

Upah nominal buruh tani naik 0,31 persen pada Februari 2022
Indonesia
•
15 Mar 2022

Taiwan kecam China atas larangan impor baru yang langgar aturan WTO
Indonesia
•
11 Dec 2022

Bank Sentral Eropa naikkan suku bunga sebesar 50 basis poin
Indonesia
•
16 Dec 2022


Berita Terbaru

FreeNow hadir di Morowali, investasi China diharapkan gerakkan ekonomi lokal
Indonesia
•
28 Oct 2026

Impor BBM Indonesia dari China bisa melonjak 8 kali lipat, dari 6,6 triliun rupiah jadi 54,45 triliun rupiah
Indonesia
•
28 Oct 2026

Arab Saudi simpan minyak mentah di Jurong Rock Caverns Singapura
Indonesia
•
26 Oct 2026

Danantara buka penjajakan dengan 11 perusahaan China, investasi PLTS dan hilirasasi mineral jadi sorotan
Indonesia
•
27 Oct 2026
