G20 butuh solidaritas dan kerja sama lebih kuat untuk atasi krisis global

Foto yang diabadikan pada 12 November 2022 ini menunjukkan logo Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Kelompok 20 (G20) ke-17 di luar Apurva Kempinski, venue utama KTT G20 di Bali. (Xinhua/Wang Yiliang)
Solidaritas G20 diharapkan semakin kuat untuk mengatasi krisis global, termasuk perubahan iklim dan ekonomi global yang kini tertatih-tatih menuju jurang di tengah bangkitnya kembali proteksionisme, unilateralisme, dan hegemonisme.
Bali (Xinhua) – Sejarah dipenuhi oleh krisis, dan dari krisis itu dunia bangkit sebagai tempat yang lebih aman dan lebih baik. Masa-masa kritis itu menunjukkan bahwa persatuan dan kerja sama global adalah kekuatan penting untuk mengubah keadaan.Di seluruh dunia, pandemik COVID-19 yang berkepanjangan terus merajalela. Ekonomi global tertatih-tatih menuju jurang, dan bangkitnya kembali proteksionisme, unilateralisme, dan hegemonisme menjadi ancaman besar bagi perdamaian dan pembangunan dunia, belum lagi berbagai macam tantangan global mendesak lainnya seperti perubahan iklim.Ketika para pemimpin dari 20 ekonomi utama dunia bersiap untuk bertemu di Bali, tidak dapat dipungkiri bahwa penting bagi mereka untuk mengirimkan pesan yang jelas tentang menjunjung tinggi solidaritas G20 serta menolak pola pikir menang-kalah (zero-sum) dan konfrontasi blok.Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Kelompok 20 (G20) di Bali, yang mengusung tema ‘Pulih Bersama, Bangkit Lebih Kuat’ (Recover Together, Recover Stronger), mengungkapkan realisme bahwa hanya dengan mendorong dan menyinergikan upaya internasional, umat manusia akan mampu mengatasi berbagai tantangan berat saat ini dan menjadi sejahtera di masa depan.KTT G20 di Bali digelar di tengah kekhawatiran terkait resesi ekonomi yang menghantui banyak wilayah di dunia. Di saat sederet faktor bergabung untuk menciptakan prospek ekonomi global yang suram, upaya berbahaya beberapa negara untuk menabur perpecahan dan membentuk lingkaran dan blok kecil dan eksklusif harus menjadi perhatian utama.Saat ini, dunia juga sangat membutuhkan ekonomi-ekonomi utama ini untuk memperkuat koordinasi kebijakan makroekonomi. Negara maju tertentu terus membuat kebijakan moneter yang agresif tanpa pertimbangan yang cukup mengenai dampaknya di belahan dunia lain, terutama di negara berkembang.Pemulihan ekonomi global yang lebih kuat membutuhkan kerja sama yang saling menguntungkan dan keterbukaan yang lebih besar. Sebagai ekonomi-ekonomi terdepan di dunia, negara-negara G20 perlu mengirimkan pesan yang jelas untuk menentang unilateralisme, proteksionisme, dan apa yang disebut sebagai keyakinan yang salah terkait pemisahan (decoupling).Mereka juga harus berkomitmen untuk membangun ekonomi dunia yang terbuka dan memfasilitasi arus talenta dan teknologi, faktor-faktor penting dalam mendorong kekuatan pertumbuhan baru dalam pemulihan yang kuat dan berkelanjutan.
Foto yang diabadikan pada 11 November 2022 ini menunjukkan logo dan dekorasi untuk Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Kelompok 20 (G20) ke-17 mendatang di luar sebuah venue untuk KTT tersebut di Bali. (Xinhua/Xu Qin)
Bagikan
Komentar
Berita Terkait

Putra mahkota Saudi tegaskan Ibnu Abdul Wahhab bukan Arab Saudi
Indonesia
•
04 Mar 2022

Serangan ‘drone’ dari Lebanon oleh Hizbullah lukai 6 orang di Israel utara
Indonesia
•
09 Aug 2024

ICC keluarkan surat penangkapan untuk Netanyahu, Gallant, dan komandan Hamas Deif
Indonesia
•
22 Nov 2024

Menlu Rusia sebut AS gagal menekan tatanan dunia multipolar
Indonesia
•
27 Dec 2022
Berita Terbaru

Menlu Rusia: Remiliterisasi Jepang ancam stabilitas Asia-Pasifik
Indonesia
•
04 Feb 2026

Pasangan Clinton setuju bersaksi di komite DPR AS terkait penyelidikan Epstein
Indonesia
•
04 Feb 2026

Penembak mantan PM Jepang Shinzo Abe ajukan banding atas hukuman seumur hidup
Indonesia
•
04 Feb 2026

Presiden Iran perintahkan dimulainya dialog nuklir dengan AS
Indonesia
•
03 Feb 2026
