
Fokus Berita – 17,9 kuadriliun rupiah investasi dan 500.000 lapangan kerja: Jejak besar BRI China di dunia

Dekorasi bunga yang menandai Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Forum Kerja Sama China-Afrika (Forum on China-Africa Cooperation/FOCAC) 2024 terlihat di area Xidan, Beijing, ibu kota China, pada 29 Agustus 2024. (Xinhua/Li Xin)
Beijing, China (Xinhua/Indonesia Window) – Saat kota metropolitan Shenzhen di China selatan bersiap menjadi tuan rumah Pertemuan Para Pemimpin Ekonomi Kerja Sama Ekonomi Asia-Pasifik ke-33 pada November, China sekali lagi mengulurkan tangan menyambut para pemimpin dari seluruh dunia.
Selama bertahun-tahun, China telah menjadi tuan rumah serangkaian pertemuan diplomatik besar yang mempertemukan para pemimpin dunia. Lebih dari sekadar platform untuk dialog, kesempatan-kesempatan ini telah menunjukkan visi China untuk kerja sama global dan menawarkan sekilas pendekatan Presiden Xi Jinping terhadap diplomasi.
Bagi Xi, menjadi tuan rumah bagi para pemimpin dunia dimulai dengan keramahtamahan.
Pada Mei 2023, di ulang tahunnya yang ke-70, Presiden Kazakhstan Kassym-Jomart Tokayev tiba di kota kuno Jalur Sutra, Xi'an, untuk kunjungan kenegaraan ke China dan menghadiri penyelenggaraan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) China-Asia Tengah yang pertama. Dalam pembicaraan mereka, Xi menyampaikan ucapan selamat ulang tahun kepada tamunya.
"Pada kesempatan istimewa ini, kunjungan Anda menunjukkan betapa kuatnya hubungan bilateral kita dan menegaskan kembali ikatan unik Anda dengan China," ujar Xi sambil tersenyum.
"Terima kasih," jawab Tokayev dalam bahasa Mandarin, yang dikuasainya dengan fasih.
Ada pepatah kuno China yang berbunyi, "Bukankah sungguh menyenangkan ketika teman datang berkunjung dari jauh?"
Baik menyambut teman lama maupun yang baru pertama kali berkunjung, perhatian Xi telah menjadi ciri khas diplomasi China sebagai tuan rumah, membantu memupuk kepercayaan dan persahabatan timbal balik.
Namun pertemuan-pertemuan ini lebih dari sekadar keramahtamahan.
Di masa-masa ketidakpastian global, pertemuan-pertemuan tersebut juga telah menjadi tempat di mana China menyerukan dialog, keterbukaan, dan kerja sama sembari menyampaikan usulannya untuk mengatasi tantangan bersama.
Pada 2016, China menjadi tuan rumah KTT Kelompok 20 (Group of 20/G20) untuk kali pertama. Dipimpin oleh Xi, KTT itu menandai tonggak sejarah dalam tata kelola ekonomi global.
Dalam KTT itu, pembangunan ditempatkan sebagai prioritas utama dalam agenda kebijakan makro global untuk pertama kalinya.
KTT tersebut, yang mempertemukan negara berkembang dalam jumlah terbesar sepanjang sejarah, juga menyaksikan diadopsinya rencana aksi untuk memajukan implementasi Agenda Pembangunan Berkelanjutan PBB 2030, serta komitmen kolektif pertama untuk mendukung industrialisasi di Afrika dan negara-negara kurang berkembang.
Inisiatif-inisiatif ini, bersama dengan dokumen hasil KTT tersebut, mencerminkan komitmen China terhadap pembangunan bersama dan kemakmuran bersama.
Di tengah dunia yang saat ini menghadapi konflik yang kian meningkat, serta maraknya hegemonisme, proteksionisme, dan berbagai tantangan global lainnya, Xi telah menggunakan serangkaian acara diplomatik besar yang diselenggarakan oleh China untuk menyampaikan usulan-usulan pentingnya.
Inisiatif Keamanan Global diluncurkan dalam Forum Boao untuk Asia (Boao Forum for Asia/BFA) pada 2022, disusul oleh Inisiatif Peradaban Global di Pertemuan Tingkat Tinggi Partai Komunis China (Communist Party of China/CPC) dalam Dialog dengan Partai-Partai Politik Dunia (Dialogue with World Political Parties High-level Meeting) pada 2023, Inisiatif Tata Kelola Global dalam KTT Organisasi Kerja Sama Shanghai (Shanghai Cooperation Organization/SCO) di Tianjin tahun lalu, dan seruan baru untuk menerapkan Inisiatif Pembangunan Global dalam konferensi yang menandai peringatan 70 tahun Lima Prinsip Hidup Berdampingan secara Damai (Five Principles of Peaceful Coexistence) pada 2024.
Usulan-usulan ini telah didukung oleh aksi-aksi konkret. Di balik setiap KTT terdapat sebuah jadwal diplomatik intensif yang dipimpin langsung oleh Xi.
Pada 2 September 2018, menjelang pembukaan KTT Forum Kerja Sama China-Afrika (Forum on China-Africa Cooperation/FOCAC) di Beijing, Xi menggelar 11 pertemuan bilateral dengan para pemimpin Afrika, di mana setiap pertemuan berlangsung dengan ketepatan waktu.
Di KTT G20 Hangzhou pada 2016, Xi menghadiri 13 pertemuan dan berbagai rangkaian acara dalam waktu kurang lebih 80 jam.
Pada kesempatan tersebut sang presiden menyampaikan 11 pidato dan menemui 27 pemimpin negara asing. Di KTT SCO Qingdao pada 2018, dia mengikuti lebih dari 20 acara resmi dalam dua hari.
Jadwal yang sangat padat itu tidak hanya menyoroti intensitas keterlibatan diplomatik China, tetapi juga komitmen pribadi Xi untuk memajukan dialog dan kerja sama internasional.
China tidak hanya berupaya untuk mengajukan gagasan, tetapi juga mewujudkannya menjadi aksi nyata.
Sejak Inisiatif Sabuk dan Jalur Sutra (Belt and Road Initiative/BRI) diluncurkan pada 2013, inisiatif tersebut telah menghasilkan investasi global senilai hampir 1 triliun dolar AS dan menciptakan sedikitnya 500.000 lapangan kerja di negara-negara mitra. Di Afrika dan banyak belahan dunia lainnya, kerja sama BRI yang berkembang pesat itu secara luas dianggap sebagai jalan menuju kemakmuran.
*1 dolar AS = 17.913 rupiah
Menyusul kesuksesan pelaksanaan Sepuluh Rencana Kerja Sama (Ten Cooperation Plans), Delapan Inisiatif Utama (Eight Major Initiatives), dan Sembilan Program (Nine Programs), Xi mengumumkan posisi baru dalam hubungan China-Afrika serta 10 aksi kemitraan pada KTT FOCAC 2024 di Beijing, membuka babak baru dalam upaya bersama mewujudkan modernisasi.
Selama bertahun-tahun, berbagai acara diplomatik besar yang diselenggarakan oleh China telah menandai sebuah perjalanan, yang di dalamnya China dan seluruh dunia telah melangkah maju bersama.
Saat China menyambut dunia di Shenzhen, negara tersebut juga memperbarui komitmennya untuk bekerja sama dengan negara-negara di seluruh dunia guna membangun konsensus yang lebih luas mengenai perdamaian dan pembangunan, memperkuat keterbukaan dan kerja sama, serta membuka babak baru dalam membangun sebuah komunitas dengan masa depan bersama bagi umat manusia.
Laporan: Redaksi
Bagikan

Komentar
Berita Terkait

Analisis – Langkah proteksionis UE hanya akan jadi bumerang
Indonesia
•
29 May 2026

Sekjen OPEC peringatkan kelangkaan minyak global akibat sanksi Rusia
Indonesia
•
11 Mar 2022

Inflasi Jerman naik tipis, tekanan harga jasa terus berlanjut
Indonesia
•
10 Aug 2024

Warga berpenghasilan menengah paling terdampak oleh anggaran baru Inggris
Indonesia
•
24 Nov 2022


Berita Terbaru

OPEC ubah ramalan minyak dunia: 2026 melambat, 2027 justru melonjak
Indonesia
•
13 Aug 2026

Bali dan Yunnan-China bangun model desa hijau, dari sawah organik hingga lampu tenaga surya
Indonesia
•
13 Aug 2026

Hongqi masuk Indonesia, merek mobil China berusia 68 tahun dengan 1,6 juta pengguna
Indonesia
•
13 Aug 2026

Cadangan minyak strategis AS anjlok dari 726 juta barel jadi di bawah 300 juta barel, terendah dalam 43 tahun
Indonesia
•
13 Aug 2026
