
Feature – Tentara AS akhirnya hengkang dari Irak setelah puluhan tahun, rakyat Baghdad bernapas lega

Para pengunjuk rasa Irak mengikuti demonstrasi menentang kehadiran pasukan Amerika Serikat di negara itu di Baghdad, ibu kota Irak, pada 24 Januari 2020. (Xinhua/Khalil Dawood)
Baghdad, Irak (Xinhua/Indonesia Window) – "Pasukan Amerika akhirnya pergi. Kami sudah begitu lama menantikan hari ini," tutur Ismail Mohammed, seorang pria berusia 80-an tahun, kepada saya di tepi Sungai Tigris di Baghdad. Suaranya bergetar karena terharu saat dia memandang ke seberang sungai.
Pada Rabu (30/9), koalisi yang dipimpin Amerika Serikat (AS) secara resmi mengakhiri misinya di Irak, menutup babak terbaru dari keterlibatan militer AS yang telah berlangsung selama lebih dari dua dekade di negara tersebut.
Bagi rakyat Irak, kepergian itu bukan sekadar tonggak penting dalam sejarah militer. Momen tersebut sarat akan kenangan dan luka. Bagi banyak orang, kepergian itu juga menghadirkan perasaan bahwa sesuatu yang telah lama hilang akhirnya kembali, yakni martabat.
Pemerintah Irak menetapkan hari libur nasional selama empat hari mulai Rabu untuk menandai ‘Hari-Hari Kedaulatan’.
Perdana Menteri Ali al-Zaidi mengatakan 1 Oktober menandai era baru bagi Irak, saat negara itu terbebas dari pasukan militer asing dan menjalankan kedaulatan nasional penuh atas wilayahnya.
Saat saya berjalan menyusuri Baghdad, terasa jelas bahwa "kedaulatan" bukan sekadar slogan politik. Bagi masyarakat biasa, kedaulatan dapat berarti sesuatu yang jauh lebih nyata, yakni pasukan asing tidak lagi terlihat hadir di tanah air mereka.
"Sejujurnya, setiap warga Irak ingin melihat pasukan AS pergi," kata Ahmed Ali. "Tidak ada warga Irak yang ingin negaranya diduduki. Kami berharap pendudukan atas negara kami akan berakhir."
Mahdi Saleh mengungkapkan perasaan serupa. "Sungguh menyakitkan bagi rakyat Irak melihat pasukan Amerika berada di negara kami," ujarnya. "Kini saya berharap rakyat Irak dapat bersatu dan mewujudkan solidaritas nasional."
Bagi banyak warga Irak, kehadiran pasukan asing selama bertahun-tahun menjadi pengingat akan babak sejarah kelam, yang bermula dari invasi pimpinan AS pada 2003 yang dilancarkan dengan dalih Irak memiliki senjata pemusnah massal. Namun, senjata-senjata tersebut tidak pernah ditemukan.
Perang itu menghancurkan perekonomian, sistem politik, dan tatanan sosial Irak. Konflik dan ketidakstabilan berlangsung selama bertahun-tahun setelahnya.
Bagi Hussein Ali, yang lahir sekitar masa invasi 2003, keberadaan pasukan AS menjadi bagian yang tak terpisahkan dari masa kecilnya.
"Ketika masih kecil, saya merasa takut setiap kali melihat tentara Amerika," kenangnya. "Itu adalah tahun-tahun penderitaan, pembunuhan, dan teror. Hampir setiap keluarga Irak mengalami penderitaan yang mendalam."
Penarikan pasukan AS pada 2011 tidak mengakhiri gejolak di negara tersebut. Kekosongan politik dan keamanan yang muncul setelahnya turut menciptakan kondisi yang memungkinkan kelompok ISIS memperluas pengaruhnya.
Pada 2014, kelompok ekstremis tersebut merebut Mosul, kota terbesar kedua di Irak, serta wilayah yang luas di bagian utara dan barat negara itu. Pasukan AS kemudian kembali sebagai bagian dari koalisi internasional yang memerangi kelompok tersebut.
Pada 2017, Irak menyatakan kemenangan atas ISIS. Namun, pasukan AS dan koalisi tetap berada di negara tersebut, secara resmi dalam peran sebagai penasihat dan pelatih. Bahkan setelah itu, ketidakstabilan masih berlanjut.
Sebagai jurnalis yang telah hampir tiga tahun bertugas di Irak, saya menyaksikan siklus yang meresahkan berlangsung di depan mata.
Kelompok-kelompok bersenjata menyerang pangkalan AS. Militer AS merespons dengan serangan udara. Ketegangan politik meningkat, kekhawatiran akan keamanan semakin besar, dan masyarakat sipil Irak harus menanggung akibatnya.
"Sekarang mereka akhirnya pergi, semua orang senang," kata Hussein Ali.
Dengan berakhirnya misi militer koalisi, Irak kini memasuki fase baru. Namun, kedaulatan tidak sama dengan stabilitas.
Kepergian pasukan AS dan koalisi tidak dengan sendirinya menyelesaikan perpecahan politik dalam negeri Irak, masalah kelompok-kelompok bersenjata, tantangan ekonomi yang dihadapi negara itu, maupun risiko kebangkitan kembali kelompok ekstremis.
Tantangan bagi Irak sekarang adalah mengubah kedaulatan menjadi sesuatu yang dapat dirasakan rakyat dalam kehidupan sehari-hari, yakni keamanan, pembangunan, dan masa depan yang lebih baik.
Sungai Tigris telah menjadi saksi berbagai perang, pergolakan, dan transisi politik. Kini, sungai kuno itu menanti untuk melihat bagaimana rakyat Irak akan menulis babak baru dalam perjalanan panjang sejarah mereka.
Laporan: Redaksi
Bagikan

Komentar
Berita Terkait

Serangan siber bobol data medis 19 juta warga Polandia, 2 terabita informasi dicuri
Indonesia
•
15 Aug 2026

78 orang tewas, 30 hilang akibat gempa bermagnitudo 7,8 di Filipina selatan
Indonesia
•
18 Jun 2026

China menentang keras pengerahan rudal balistik jangka menengah AS di Asia-Pasifik
Indonesia
•
19 Apr 2024

Akademisi Singapura kritik rencana tarif Trump, ada harga yang harus dibayar
Indonesia
•
14 Dec 2024


Berita Terbaru

Mengapa hubungan AS-China bisa memengaruhi stabilitas ekonomi dunia?
Indonesia
•
02 Oct 2026

Putin tuduh Barat bangun “tirai besi” baru, Rusia sebut kebijakan isolasi bakal gagal
Indonesia
•
02 Oct 2026

Elon Musk masuk Komando Perang Otonom AS, anggaran ‘drone’ tembus 1.331 triliun rupiah
Indonesia
•
01 Oct 2026

Pilot Flydubai diduga tikam kapten, pesawat menukik hampir 14.000 kaki dalam 30 detik
Indonesia
•
01 Oct 2026
