Feature – Saat banyak orang berhenti belajar di usia 40, mereka justru baru memulai

Ilustrasi. (Unseen Studio on Unsplash)

Jakarta (Xinhua/Indonesia Window) – Di usia ketika banyak orang mulai merasa nyaman dengan rutinitas yang sudah terbentuk, Zakiah Hasmawaty dan Riri Rafiani justru memilih kembali menjadi pemula.

Kiki, begitu Zakiah akrab disapa, mulai belajar memainkan cello pada usia 43 tahun, sementara Riri menekuni balet setelah memasuki usia 40-an tahun. Di tengah kesibukan bekerja dan berbagai tanggung jawab sehari-hari, keduanya memilih meluangkan waktu untuk sesuatu yang tidak mudah, menekuni keterampilan baru yang menuntut kesabaran, disiplin, dan kemauan untuk terus belajar.

Kiki mempunyai kegiatan mingguan yang sering menarik perhatian orang-orang di sekitarnya. Setiap akhir pekan, dia kerap terlihat menenteng cello dalam hardcase besar, beban yang jika ditotal beratnya bisa mencapai sekitar 10 kilogram. Instrumen itu dibawanya ke tempat latihan, kadang juga ke lokasi pertunjukan bersama komunitas. Bagi sebagian orang, pemandangan itu mungkin tidak biasa. Namun, bagi Kiki, cello telah menjadi bagian penting dari "petualangan" baru yang dipilihnya beberapa tahun terakhir.

Perjalanan belajar itu dimulai ketika tiga tahun lalu Kiki bergabung dengan Komunitas Biola Gartentone, sebuah komunitas belajar musik yang merangkul peserta dari berbagai kelompok usia dan latar belakang. Di sana, dia bertemu peserta dari berbagai usia, mulai dari pelajar hingga orang tua, yang sama-sama meluangkan waktu untuk belajar musik di sela kesibukan masing-masing.

Dari komunitas itulah dia mulai mengenal cello. Instrumen gesek berukuran besar itu langsung menarik perhatiannya karena karakter suaranya yang berbeda dari biola.

"Suara cello itu sangat khas, lebih rendah dan terdengar kuat," kata Kiki saat berbincang dengan Xinhua beberapa waktu lalu. "Dan saya ngerasa suaranya tuh sangat 'ganteng', sangat maskulin," imbuhnya sambil tertawa.

Masa-masa awal belajar diwarnai berbagai kesulitan. Meski telah memiliki pengalaman bermain biola, belajar cello tetap menghadirkan tantangan tersendiri. Ukuran instrumen yang jauh lebih besar membuatnya harus beradaptasi dengan posisi duduk, jangkauan tangan, hingga teknik menggesek bow yang berbeda. Belum lagi kebiasaannya membaca partitur seperti sedang memainkan biola. Butuh waktu berbulan-bulan hingga perlahan dia menemukan cara yang lebih mudah untuk memahami posisi not dalam permainan cello.

Meski demikian, tantangan terbesar justru datang ketika dia harus tampil di depan publik. Penampilan pertama bersama komunitasnya digelar di sebuah pusat perbelanjaan. Saat itu, rasa gugup begitu menguasainya hingga hampir tidak bisa menikmati permainan yang sedang dibawakan.

"Itu pengalaman yang tidak terlupakan," katanya. "Tapi setelah melewati yang pertama, saya jadi lebih berani."

Kiki mempunyai impian yang mendorongnya untuk terus berlatih. Karyawan swasta berusia 44 tahun itu berharap suatu hari nanti dapat memainkan ‘Cello Suite No. 1 in G Major, Prelude’ karya Johann Sebastian Bach. Dia mengaku jatuh hati pada karya itu ketika pertama kali mendengar interpretasi dari maestro cello dunia Yo-Yo Ma, yang menurutnya terdengar begitu lembut dan mengalir di telinga.

"Semoga suatu saat saya bisa memainkannya dengan baik," ujarnya.

Di bagian lain Jakarta, kisah serupa dijalani Riri. Setiap Rabu malam, dosen berusia 52 tahun itu berdiri di depan cermin studio balet, mengulang gerakan demi gerakan yang menuntut keseimbangan, kekuatan, dan ketepatan. Keringat, rasa pegal, dan kesalahan menjadi bagian dari proses yang terus dia jalani.

Ketika menemukan informasi tentang kelas ‘Ballet for Adults’ di Namarina sekitar tujuh tahun lalu, Riri tidak membutuhkan waktu lama untuk mengambil keputusan. Dia langsung mendaftar tanpa mengikuti kelas percobaan terlebih dahulu.

Jika banyak orang menganggap balet sebagai aktivitas yang identik dengan anak-anak atau remaja, Riri memiliki pandangan berbeda. Menurutnya, tantangan utama bukan terletak pada usia, melainkan pada kemauan untuk terus belajar.

Namun, bukan berarti prosesnya mudah. Balet menuntut tubuh yang kuat dan seimbang. Untuk menunjang latihan, dia bahkan rutin melakukan latihan beban. Di dalam kelas, dia juga harus menghadapi tantangan lain, yakni menghafal koreografi dan mengoreksi kesalahan-kesalahan kecil yang sering kali baru terlihat saat menonton rekaman latihan.

Ada masa ketika Riri merasa perkembangannya berjalan lambat. Setelah sekitar dua tahun berlatih, dia bahkan sempat mempertanyakan apakah akan meneruskan belajar. Keraguan itu memudar ketika suatu hari dia menyadari dirinya mampu dan bahkan dapat mempertahankan classical pose tanpa goyah bagaikan, mengutip istilahnya, "kapal kena ombak." Terlebih ketika dua instrukturnya melontarkan komentar senada tentang kemajuan yang ditunjukkannya. Momen tersebut menjadi titik balik yang membuatnya merasa, "Ternyata saya bisa."

Saat ini, Riri masih mengejar sebuah target yang menurutnya sangat menantang, yaitu menguasai pirouette. Gerakan berputar tersebut mungkin tampak sederhana bagi penonton, tetapi menurutnya merupakan perpaduan antara keseimbangan, kekuatan, koordinasi, dan keberanian.

"Itu bukan sekadar muter dengan satu kaki, lho, ada syarat-syarat untuk layak disebut sebagai pirouette," jelasnya antusias saat ditemui Xinhua di Namarina Setiabudi sebelum kelas dimulai pada Rabu (3/6).

Proses belajar yang dijalani Kiki dan Riri juga menghadirkan hal lain yang tidak kalah berharga, yakni komunitas. Di ruang latihan musik maupun studio balet, mereka menemukan orang-orang yang sama-sama bersedia meluangkan waktu, tenaga, dan kesabaran untuk berkembang. Di sana, usia menjadi sesuatu yang nyaris tidak relevan, karena semua datang dengan tujuan yang sama, yaitu belajar.

Kiki masih berlatih demi suatu hari dapat memainkan karya Bach yang dikaguminya. Riri masih berusaha menaklukkan pirouette yang selama ini menjadi target pribadinya.

Keduanya mungkin tidak sedang mengejar karier baru. Namun, melalui cello dan balet, mereka membuktikan bahwa keinginan untuk belajar tidak harus berhenti seiring bertambahnya usia. Bagi mereka, menjadi pemula bukan sesuatu yang perlu ditakuti, melainkan kesempatan untuk terus bertumbuh.

Laporan: Redaksi

Bagikan

Komentar

Berita Terkait