Feature – Menari jadi jalan penyembuhan bagi lansia dan penyintas kanker

Foto dokumentasi ini menampilkan koreografer Ayu Wardhani (kiri, tengah bawah) bersiap untuk tampil dalam Solo Menari 2026 di Surakarta, Jawa Tengah. (Xinhua/Istimewa)

Surakarta, Jawa Tengah (Xinhua/Indonesia Window) – Akhir April lalu, titik nol kota Surakarta semarak dengan aksi tari ribuan kipas dalam gelaran Solo Menari 2026. Di antara 1.700 penari, partisipasi dari dua kelompok turut mencuri perhatian, yaitu lansia dan individu penyintas kanker yang membawakan tari kolosal Aku Kipas. Kehadiran mereka seolah menyiratkan beragam cerita ‘hitam-putih’ kehidupan yang tersembunyi di balik warna-warni make-up dan kostum yang dikenakan.

"Tepuk tangan penonton kala menyaksikan mereka mungkin hanya secuil hal yang tampak di permukaan, sejatinya ada begitu banyak cerita yang mewarnai proses itu hingga dapat terlaksana hari ini," ujar Ayu Wardhani (39), penari sekaligus salah satu koreografer Solo Menari 2026, yang juga pendamping dua komunitas tersebut ketika berbincang dengan Xinhua pada Senin (2/6).

Faktanya, para penari tersebut bukanlah penari profesional berlatar belakang pendidikan seni. Mereka adalah anggota komunitas Kagama Beksan yang berisikan para wanita lanjut usia (lansia), dan komunitas Lovely Pink Solo (LPS) yang mewadahi penyintas kanker di Surakarta.

"Semangat mereka untuk tampil sangat luar biasa, mulai dari menghadapi beragam kendala saat latihan hingga tantangan keterbatasan fisik dan kondisi yang berbeda bagi masing-masing individu," lanjut Ayu.

Lantas, bagaimanakah awalnya kelompok yang rentan terhadap stigmatisasi tersebut dapat menjelma ‘perkasa’ dan unjuk gigi hingga ke gelaran pentas nasional?

Diakui Ayu, yang juga pemeran salah satu zombie pada film garapan Netflix berjudul ‘Abadi Nan Jaya’, awalnya dia terinspirasi kala mendalami konsep Amarta Movement pada 2018 lalu yang banyak dipraktikkan di mancanegara, di mana teknik tersebut oleh para pelakunya dinilai mampu ‘membebaskan’ jiwa lewat gerakan-gerakannya.

Ayu lantas mencoba untuk membagikannya ke lingkungan terdekat yang membutuhkan. Dia bertemu dengan berbagai individu dari beragam latar belakang namun memiliki ketertarikan sama yaitu ingin menari. "Ternyata alasan mereka menari utamanya karena mencari ruang untuk mendapatkan perhatian, pengakuan, penghargaan, dan kebahagiaan yang didapat dengan menari."

"Applause yang diberikan setelah menari mungkin terdengar sederhana, namun ternyata berdampak besar secara psikologis," ungkap Ayu menyimpulkan. "Menari menjadi daya dorong mereka untuk hidup lebih happy, lebih memasrahkan diri dalam menjalani kehidupan, memberikan ruang dan waktu sebagai salah satu jalan untuk mengatasi permasalahan pribadi yang dirasa membelenggu."

Seiring waktu, reputasi positif Ayu membuat dirinya dihubungi oleh banyak pihak, termasuk komunitas Kagama Beksan dan juga LPS. Peran Ayu menjadi lebih menantang karena latar belakang para individu di LPS sebagai penyintas kanker. Namun, Ayu bertekad membawa aktivitas tersebut tak hanya sekadar latihan, tetapi menuju panggung lebih besar untuk pentas di hadapan masyarakat.

Tari sebagai terapi

Ujian sesungguhnya tiba ketika menyanggupi partisipasi kedua komunitas tersebut dalam gelaran Solo Menari 2026. Dalam rentang waktu sempit hanya dua bulan, mereka berlatih bersama dan dituntut mampu membawakan tari kolosal Aku Kipas dalam adegan Bedhayan berdurasi total 30 menit.

"Awalnya tentu mereka ragu-ragu dengan kemampuan sendiri, banyak pula yang menarik diri dan tidak percaya diri sehingga harus ada proses tarik ulur," ujar Ayu mengungkap dinamika psikologis para peserta.

Ketika dihadapkan pada beragam pertanyaan wujud kecemasan mereka, Ayu punya jurus pamungkas lewat kalimat sederhana, "Biar itu nanti saya yang urus…" Meski demikian, ada satu hal yang diapresiasi Ayu yang menjadi modal dasar perjalanan dua komunitas tersebut, yaitu spiritualisme tinggi. "Pasrahnya mereka sudah di atas rata-rata manusia normal, jika berpulang ketika sedang pentas pun mereka mengaku siap," kenang Ayu.

Pendekatan dan kesabaran Ayu berbuah manis, sehingga latihan dapat berjalan karena konstruksi kognitif telah terbentuk secara positif, meski hambatan lain silih berganti muncul. Hambatan-hambatan tersebut, yang lazimnya tidak ditemui pada kelompok normal antara lain jumlah personel yang tidak pernah komplit karena jadwal berobat rutin, fisik peserta yang drop, motivasi yang fluktuatif, dan lainnya.

Secara teknis menari, pola lantai yang tak seragam menjadi latihan kesabaran untuk terus diulang guna mendekati gerakan sempurna, yang seiring waktu turut berdampak secara psikis. "Awal latihan, mimik atau ekspresi wajah mereka seperti orang lelah, secara bertahap ekspresinya mulai tersenyum dan tampak mulai banyak keceriaan. Pada akhirnya, gerakan yang salah saja bisa memantik keakraban karena mengundang gelak tawa," ucap Ayu.

Menurut alumni Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta tersebut, meskipun latihan dianggap paling penting, namun terdapat beberapa dinamika di luar aktivitas latihan yang justru turut mengerek moral mereka.

"Kondisi pribadi yang tidak sama dan beraneka ragam nyatanya justru menebalkan rasa tenggang rasa antarindividu, di mana masing-masing menjadi saling memahami dan menguatkan satu sama lain ketika menghadapi rintangan. Latihan tidak hanya pada gerak, namun juga menumbuhkan rasa dalam hati," ungkap Ayu.

Salah satu hal yang masih terngiang dalam ingatan Ayu adalah ketika salah satu lansia terkena musibah kecelakaan namun justru bersikeras tetap berlatih meskipun gerak tangan kirinya terkendala akibat dibalut gips.

Bagi mereka, pentas menjadi pertarungan batin dengan dirinya sendiri, mulai dari membangun rasa percaya diri, mengasah kemampuan, serta beragam faktor lain yang saling terkait. "Tiap individu memiliki kekhawatiran berbeda, ada yang concern dengan tampilan fisik, ketidaksempurnaan diri, hingga ragu dengan kemampuannya sendiri di depan orang lain," jelas Ayu.

Ayu mengakui bahwa solusi kesinambungan kelompok tersebut adalah pemakluman atas kondisi dan situasi yang terjadi. Kerap kali, sebagai koreografer, justru Ayu yang belajar dari peserta karena menyesuaikan diri, mulai dari fleksibilitas jadwal, pemberian materi yang lebih perlahan dan sederhana demi efektivitas serta kelancaran latihan.

"Mereka yang kondisinya tidak sempurna justru menjunjung tinggi proses berkesenian dan melestarikan kebudayaan. Kehadiran mereka, tenaga, dan konsentrasinya layak menjadi contoh bagi kita yang kondisinya 'normal'. Menurut saya, para seniman muda wajib meniru sikap legowo, penerimaan terhadap situasi, dan semangat luar biasa mereka," pungkas Ayu yang saat ini tengah bersiap untuk gelaran selanjutnya pada September, yaitu Festival Payung Indonesia.

Sudut pandang psikologi

Aktivitas menari menjelma menjadi terapi bukanlah hal baru. Menurut Satwika Rahapsari Ph.D, akademisi dan peneliti dari Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada, terapi berbasis gerak tarian atau dance movement therapy sendiri telah diakui secara global.

Meski demikian, di luar terapi gerak dan tari yang dilakukan oleh psikoterapis atau psikolog klinis untuk tujuan kurasi gangguan kesehatan mental, masyarakat pun dapat merasakan manfaat terapeutik tari meski tanpa menggunakan framework terapi gerak dan tari dari psikolog, ujar Satwika yang juga tercatat sebagai seorang registered dance movement therapist (R-DMT).

"Gerakan dalam menari bersifat terapeutik yang akan memberikan hal positif kepada pelakunya. Dari sisi neurobiologis, tubuh bergerak secara ritmik, mengikuti irama dan timbul rasa senang. Hal ini akan memicu aktivitas neurotransmitter yang mendukung kesehatan, seperti hormon serotonin, dopamin dan norepinefrin untuk mendongkrak mood, berenergi, fokus dan konsentrasi," ungkapnya.

Pada prinsipnya, menurut Satwika yang mendalami konsentrasi keilmuan neurosains perilaku, aktivitas lain pun seperti olahraga, melukis dan lainnya juga memiliki dinamika terapeutik serupa. Namun, Satwika menambahkan, menari merupakan salah satu aktivitas kompleks yang mengolah banyak aspek di dalamnya, seperti tubuh, gerakan, ritme, hingga unsur kognitif.

"Menari berarti menghafalkan gerakan yang berarti mengolah memori dan kognitif, juga melibatkan unsur ritmik, sehingga ada unsur emosi, sosial dan lain-lain. Terdapat pula unsur keindahan," ujar Satwika kepada Xinhua.

Menurutnya, hal di atas sekaligus menerangkan mengapa para lansia dan penyintas kanker mengaku mendapatkan aktualisasi dan ketenangan psikologis yang mereka dambakan dengan menari.

"Dampak terbesar bagi cancer survivor adalah hilangnya rasa kontrol atas tubuhnya. Ketika menari mereka belajar gerakan baru, mengontrol tubuhnya kembali untuk merasakan sesuatu yang indah. Prosesnya akan terjadi secara gradual dan efikasi diri pun akan tumbuh kembali. Saat menari akan muncul unsur mindfulness-nya dan itu sudah terbukti baik untuk kesehatan mental," jelas Satwika.

Efikasi diri merupakan keyakinan atau kepercayaan diri seseorang terhadap kemampuannya untuk mengatur, merencanakan, dan menyelesaikan suatu tugas guna mencapai tujuan tertentu, sedangkan mindfulness adalah kemampuan dasar manusia untuk sepenuhnya hadir, menyadari di mana dirinya berada dan apa yang sedang dilakukan tanpa menjadi terlalu reaktif atau terbebani oleh apa yang terjadi di sekitarnya.

Pada akhirnya, efektivitas menari sangat tergantung pada motivasi, sehingga seseorang yang berangkat dengan motivasi penuh akan memperoleh lebih banyak manfaat dibandingkan yang kurang termotivasi. "Namun apa pun itu, seseorang yang menari akan tetap mendapatkan manfaat terlepas dari seberapa besar motivasinya, mengingat aktivitas tersebut bersifat positif," tutup Satwika.    

Laporan: Redaksi

Bagikan

Komentar

Berita Terkait