Feature – Ip Man Wing Chun Exhibition Jakarta tampilkan warisan bela diri legendaris

Foto kolase yang diabadikan pada 12 Februari 2026 ini menunjukkan alat-alat yang digunakan untuk latihan Wing Chun, seperti tongkat dan golok (kiri), serta manusia kayu (kanan), yang ditampilkan dalam Ip Man Wing Chun Exhibition oleh Wing Chun Friendship di K Mall, Menara Jakarta, di Kemayoran, Jakarta Pusat. (Xinhua/Noviyanti)

Jakarta (Xinhua/Indonesia Window) – Sebagai salah satu aliran seni bela diri tradisional China yang berpengaruh luas, Wing Chun Ip Man terus diwariskan lintas generasi. Semangat pelestarian tersebut tercermin dalam Ip Man Wing Chun Exhibition yang digelar oleh Komunitas Wing Chun Friendship di K Mall, Kemayoran, Jakarta Pusat, dari 24 Januari hingga 22 Februari. Perhelatan ini merupakan upaya untuk memperkenalkan seni bela diri tradisional China aliran Wing Chun garis Ip Man kepada masyarakat luas.

Awal mula Wing Chun

Dalam versi yang dipopulerkan oleh aliran Ip Man, Wing Chun diturunkan oleh seorang wanita bernama Yim Wing Chun. Kisah ini bermula dari seorang biksuni Shaolin bernama Ng Mui yang melarikan diri dari kejaran Dinasti Qing. Di sebuah desa di Yunnan, Ng Mui bertemu dengan Yim Yee dan putrinya, Yim Wing Chun.

Suatu hari, Wing Chun mengadu bahwa dirinya dipaksa menikah oleh seorang preman setempat. Menyadari bahwa turun tangan secara langsung bisa membahayakan persembunyiannya, Ng Mui memilih jalan lain. Dia mengajarkan teknik bela diri yang sederhana, efektif, dan efisien, yang dirancang agar seorang perempuan bertubuh lebih kecil mampu mengalahkan lawan yang lebih besar dan kuat.

Wing Chun berlatih dengan tekun hingga akhirnya berhasil mengalahkan preman tersebut. Ilmu itu kemudian diwariskan kepada suaminya, Leung Bok Cho, dan diteruskan secara turun-temurun hingga sampai kepada Leung Jan, seorang tabib dan pendekar terkenal di Foshan. Dari Leung Jan, ilmu ini diwariskan kepada Chan Wah Shun dan Leung Bik, dua nama penting dalam silsilah yang kelak membentuk perjalanan seorang tokoh besar, Ip Man.

Ip Man dan Wing Chun dunia

Ip Man, yang memiliki nama asli Ip Kaiman dan lahir di Foshan pada 1 Oktober 1893, mulai belajar Wing Chun sejak usia muda di bawah Chan Wah Shun. Setelah gurunya wafat, dia melanjutkan latihan bersama Ng Chung-sok dan kemudian menyempurnakan tekniknya bersama Leung Bik saat menempuh pendidikan di Hong Kong.

Kembali ke Foshan, Ip Man sempat bekerja sebagai perwira polisi pada era Kuomintang. Namun, situasi politik memaksanya hijrah ke Hong Kong pada 1949. Di sanalah dia mulai mengajarkan Wing Chun secara terbuka.

Tonggak sejarah penting terjadi pada 24 Agustus 1967 ketika Ip Man bersama murid-muridnya mendirikan Ving Tsun Athletic Association (VTAA) di Hong Kong. Organisasi ini menjadi asosiasi Wing Chun pertama dan tertua di dunia, sekaligus pusat resmi pelestarian Wing Chun garis Ip Man hingga saat ini.

Nama Ip Man semakin mendunia ketika kisah hidupnya diangkat ke layar lebar melalui film yang dibintangi Donnie Yen. Popularitas film tersebut turut mengangkat kembali minat dunia terhadap Wing Chun, seni bela diri yang juga pernah dipelajari oleh Bruce Lee.

Karakteristik Wing Chun

Secara harfiah, Wing Chun (Ving Tsun dalam ejaan Kanton) berarti ‘nyanyian musim semi.’ Seni bela diri ini menitikberatkan pada pertarungan jarak dekat dengan prinsip ekonomi gerak.

Ciri khas Wing Chun terlihat pada pukulan cepat beruntun yang dilancarkan secara simultan dengan pertahanan ketat. Tendangannya cenderung rendah dan efisien, sementara gerak kakinya dirancang untuk mempercepat penetrasi ke jarak dekat. Dalam praktiknya, serangan dan pertahanan dilakukan secara bersamaan, sehingga tidak ada gerakan yang terbuang sia-sia.

Teknik-teknik Wing Chun meliputi serangan tangan, tendangan, tangkisan, serangan berantai, teknik menjebak serta mengontrol lawan. Semua dilakukan dengan struktur tubuh yang stabil dan kondisi tetap rileks agar energi dapat disalurkan secara tepat. Selain itu, latihan pernapasan berbasis qigong juga menjadi bagian penting dalam membangun kekuatan internal dan keseimbangan tubuh.

Tak sekadar seni bela diri, Wing Chun juga memberikan manfaat yang signifikan bagi kesehatan fisik. Latihan rutin membuat tubuh menjadi lebih kuat, tangguh, dan fleksibel, sekaligus meningkatkan keseimbangan, koordinasi, serta kesehatan jantung dan tulang.

Selain manfaat fisik, Wing Chun juga berdampak positif pada mental dan emosional. Latihan ini melatih fokus, ketenangan, dan kendali diri, sekaligus meningkatkan kepercayaan diri dalam menghadapi situasi sulit.

Di sisi lain, latihan Wing Chun mengajarkan teknik pertahanan yang efektif, meningkatkan kewaspadaan, dan melatih reaksi cepat dalam menghadapi situasi darurat. Dengan kombinasi manfaat fisik, mental, dan praktis, Wing Chun menjadi seni bela diri yang lengkap dan aplikatif untuk berbagai kalangan.

Pengembangan di Indonesia

Di Indonesia, pengembangan aliran ini berada di bawah Federasi Wing Chun Indonesia yang terhubung dengan organisasi garis silsilah resmi. Tradisional Ip Man Wing Chun Indonesia sendiri berawal dari komunitas Brotherhood of Wing Chun (BoWC) Indonesia yang berdiri pada 2010.

Wing Chun Friendship sebagai afiliasi Tradisional Ip Man Wing Chun Indonesia dipelopori oleh Arie Febrianto dan Yohanes Baptista Aditya, serta didukung manajemen Andi Setiawan. Komunitas ini aktif membuka kelas dan membina pegiat Wing Chun yang ingin berkarier sebagai atlet maupun pengajar.

Arie Febrianto, selaku perwakilan Wing Chun Friendship, menegaskan pentingnya keabsahan garis silsilah. "Shifu (guru) kami, Shifu Martin Kusuma, belajar langsung dengan Ip Ching (putra Ip Man), sebelum beliau berpulang saat pandemi COVID-19. Shifu kami merupakan wakil asosiasi yang kami jalankan (Wing Chun Indonesia). Di atasnya ada VTAA dari Hong Kong langsung yang dipimpin oleh putra mendiang Ip Man, Ip Ching. Semua Shifu kami memiliki lisensi dari pusat," paparnya saat diwawancarai Xinhua pada 12 Februari lalu.

Dalam sistem pembelajaran di Wing Chun Friendship, terdapat tujuh tingkat yang harus dilalui secara bertahap. Menurut Arie Febrianto, fase paling menantang justru berada pada tingkat satu hingga tingkat tiga karena murid dituntut untuk benar-benar menghafal dan memahami rangkaian gerakan secara mendetail.

Berbeda dengan banyak bela diri lain yang menekankan latihan fisik berat, seperti push-up atau sit-up, Wing Chun lebih berfokus pada penguasaan teknik, struktur, dan koordinasi tubuh.

Menariknya, Arie Febrianto menyebut Wing Chun tidak hanya dipraktikkan sebagai seni bela diri, tetapi juga dimanfaatkan dalam pendekatan terapi alternatif.

"Wing Chun ini bukan sekadar bela diri, bisa juga untuk pengobatan alternatif semacam kiropraktik," kata Arie. "Ilmunya Wing Chun kami pergunakan untuk pengobatan dengan menggunakan teknik-teknik tertentu dan para praktisinya tetap harus memiliki sertifikat. Banyak lansia yang datang dengan keluhan kesehatan, seperti saraf kejepit, memberikan testimoni positif setelah berobat dengan teknik Wing Chun ini," jelasnya lebih lanjut.

Melalui pameran ini, Wing Chun tidak hanya diperkenalkan sebagai teknik pertarungan, tetapi juga sebagai warisan budaya yang sarat nilai disiplin, keseimbangan, dan penghormatan terhadap garis silsilah. Semangat pelestarian yang diusung komunitas ini menjadi pengingat bahwa tradisi dapat terus hidup dan berkembang ketika diwariskan dengan komitmen dan integritas.

Laporan: Redaksi

Bagikan

Komentar

Berita Terkait