
Feature – Impian 30 tahun terwujud, seniman keramik Indonesia akhirnya jejakkan kaki di ‘ibu kota porselen dunia’

Foto yang diabadikan pada 1 Juli 2026 ini menunjukkan Nurdian Ichsan, seniman keramik asal Indonesia, berfoto bersama karya desainnya di sebuah pusat kesenian di Jingdezhen, yang dikenal sebagai 'ibu kota porselen', di Provinsi Jiangxi, China timur. (Xinhua)
Nanchang, China (Xinhua/Indonesia Window) – "Karya ini berjudul 'Sumber: Sumur Jingdezhen' (Source: The Well of Jingdezhen)," ujar seniman keramik asal Indonesia, Nurdian Ichsan, dalam pameran karya anggota Akademi Keramik Internasional (International Academy of Ceramics/IAC).
"Melalui karya ini, saya ingin menyampaikan bahwa Jingdezhen, sebagai tempat lahirnya peradaban keramik, telah lama menarik perhatian masyarakat dari berbagai penjuru dunia berkat kekayaan warisan keramiknya." Di sampingnya, Nadya Savitri, sang istri yang juga seorang seniman keramik, tampak antusias mengamati karya-karya yang dipamerkan.
"Sumur ini tidak berisi air, tetapi memancarkan cahaya," kata Nurdian seraya menyusuri permukaan susunan bata yang bertekstur kasar dengan jemarinya. "Saya menempatkan porselen giok Jingdezhen di bagian tengah karya ini dan memasang sumber cahaya di bagian dasarnya, sebagai bentuk penghormatan terhadap warisan keramik kota ini yang begitu kaya serta kekaguman saya terhadap ibu kota porselen yang telah berusia ribuan tahun ini."
Kongres Akademi Keramik Internasional 2026 baru-baru ini diselenggarakan di Jingdezhen, Provinsi Jiangxi, China timur.
Mempertemukan lebih dari 400 seniman keramik asal lebih dari 40 negara, acara ini berfokus pada pelestarian dan inovasi budaya keramik.
Tahun ini genap 10 tahun Nurdian menjadi anggota IAC, sekaligus merupakan kehadiran pertamanya secara langsung dalam kongres tersebut. Untuk pertama kalinya, dia berhasil mengunjungi destinasi yang telah lama berada di urutan teratas daftar keinginannya, yakni Jingdezhen.
"Saat saya belajar seni tembikar, saya sangat menyadari betapa pentingnya peran Jingdezhen dalam sejarah seni keramik. Datang ke sini untuk merasakan langsung budaya keramiknya dan menciptakan karya saya sendiri selalu ada dalam daftar keinginan saya," kata Nurdian, "Hal yang paling mengesankan bagi saya adalah tradisi keramik yang begitu kaya ini masih terus berkembang di sini hingga saat ini."
Saat pertama kali tiba di Jingdezhen, seniman keramik dengan pengalaman hampir tiga dekade itu terpesona oleh ekosistem keramik kota tersebut, yang begitu hidup.
"Jumlah orang yang berkecimpung dalam industri keramik di sini sungguh luar biasa," katanya.
"Setiap pekan, berbagai kelompok berkumpul untuk memamerkan karya mereka, dan Anda benar-benar dapat merasakan daya tarik keramik yang begitu kuat di kota ini," ungkapnya.
Dia menambahkan bahwa warisan Jingdezhen yang telah ada sejak lama serta sistem produksi keramik buatan tangan yang masih tetap terjaga telah memberikan inspirasi kreatif yang belum pernah dia dapatkan sebelumnya.
Istri Nurdian, Nadya, memanfaatkan konferensi tersebut sebagai kesempatan untuk menjelajahi sendiri ‘ibu kota porselen’ itu.
“Nurdian sudah berkali-kali merekomendasikan Jingdezhen kepada saya, dan saya sungguh senang akhirnya bisa melihatnya secara langsung," katanya.
Dia mengatakan bahwa bahan keramik berkualitas tinggi di Jingdezhen menawarkan nilai yang sangat baik dibandingkan harganya, sesuatu yang jarang ditemukan di Indonesia, dan bahwa studio serta fasilitas setempat menawarkan berbagai kemungkinan eksperimen yang luas bagi penciptaan karya keramik.
"Jika saya menemukan kesempatan yang tepat, saya juga ingin mengajukan permohonan untuk datang ke sini dan membuat karya," tambahnya.
Sebagai seorang profesor di Fakultas Seni Rupa dan Desain Institut Teknologi Bandung (ITB), Nurdian mengakui bahwa tugas mengajarnya di Indonesia saat ini belum memungkinkannya untuk memiliki studio sendiri di Jingdezhen.
Meski demikian, dia sudah membayangkan masa depan setelah pensiun, ketika dia mungkin akan menetap di Jingdezhen untuk berkarya.
"Meskipun saya belum bisa mendirikan studio di sini karena harus kembali ke Indonesia untuk mengajar," katanya, "saya pasti akan merekomendasikan kepada mahasiswa saya untuk datang kemari. Bahan-bahan dan para perajin di sini dapat membantu mereka mewujudkan ide kreatif apa pun."
Dari negeri di garis khatulistiwa hingga tepian Sungai Changjiang, pasangan seniman keramik asal Indonesia itu akhirnya berhasil mewujudkan impian mereka untuk mengunjungi Jingdezhen melalui ajang pertemuan internasional tersebut.
Sebagai ‘ibu kota porselen’ yang telah berusia ribuan tahun, Jingdezhen terus menerangi aspirasi artistik para seniman keramik di seluruh dunia dengan keterbukaan dan inklusivitas yang menjadi ciri khasnya.
Laporan: Redaksi
Bagikan

Komentar
Berita Terkait

Ramadan 1447H– Kemenag sasar Gen Z lewat ‘ngabuburead’ di Masjid IKN
Indonesia
•
08 Mar 2026

PBB: India akan lampaui China sebagai negara terpadat pada 2023
Indonesia
•
11 Jul 2022

Cristiano Ronaldo jadi atlet dengan bayaran tertinggi sedunia sejak bergabung dengan Al-Nassr
Indonesia
•
05 May 2023

Pakar sebut bayi dan balita jadi korban tak terduga dari krisis fentanil di AS
Indonesia
•
12 Jul 2024


Berita Terbaru

Feature – Maryam Aqil, perempuan pengurus jenazah di tengah luka perang Lebanon
Indonesia
•
18 Aug 2026

Feature – Barongsai Merah Putih semarakkan HUT ke-81 RI, harmoni budaya Tionghoa dan Nusantara
Indonesia
•
17 Aug 2026

Opini – Memuliakan guru, menjaga akal bangsa
Indonesia
•
16 Aug 2026

Feature – Dari benteng berusia 2.000 tahun, perempuan Afghanistan menemukan jalan lewat seni
Indonesia
•
16 Aug 2026
