Feature – Hutan gambut ternyata 'mesin pembuat hujan' alami, ilmuwan temukan fakta yang bisa ubah cara dunia melihat indonesia

Ilustrasi. (Henry Schneider on Unsplash)

Bogor, Jawa Barat (Indonesia Window) – Di langit Pulau Bengkalis, Riau, hujan seolah memiliki jadwalnya sendiri.

Siang hari, awan-awan gelap berkumpul di pedalaman pulau. Menjelang sore, hujan turun membasahi hutan dan rawa. Ketika malam datang, awan perlahan bergeser ke pesisir dan laut, lalu kembali menumpahkan air hingga menjelang fajar.

Pola itu berulang hampir setiap hari, seperti sebuah orkestra alam yang memainkan simfoni tanpa pernah terlambat.

Selama bertahun-tahun, fenomena itu hanya dianggap sebagai bagian dari dinamika cuaca tropis.

Namun, penelitian terbaru mengungkap bahwa ada ‘konduktor’ yang selama ini luput dari perhatian manusia. Bukan laut. Bukan angin semata. Melainkan hamparan hutan rawa gambut yang diam-diam menggerakkan siklus hujan.

Temuan tersebut dipublikasikan dalam jurnal ilmiah Climate Dynamics terbitan Springer Nature pada 2026.

Hasil penelitian itu mengubah cara pandang terhadap salah satu ekosistem paling penting di Indonesia.

Selama ini, hutan rawa gambut lebih dikenal sebagai penyimpan karbon raksasa yang membantu memperlambat perubahan iklim. Kini, para ilmuwan menemukan bahwa gambut juga bekerja seperti ‘mesin uap’ alami yang memperkuat pembentukan awan dan menjaga ritme hujan di kawasan tropis.

Penelitian dipimpin Kepala Pusat Riset Iklim dan Atmosfer BRIN, Albertus Sulaiman, bersama para peneliti dari Kyoto University, Kobe University, Hokkaido University, IPB University, dan GMIT Mongolia, dikutip dari situs jejaring Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Senin.

Mereka memilih Pulau Bengkalis sebagai laboratorium alam karena sebagian besar wilayahnya masih diselimuti ekosistem rawa gambut yang relatif utuh.

Untuk mengintip apa yang sebenarnya terjadi di atmosfer, tim memasang radar cuaca polarimetrik X-band buatan Jepang sejak Februari 2020. Alat ini mampu memetakan hujan setiap lima menit dengan resolusi hingga ratusan meter, menghadirkan gambaran yang sangat rinci tentang ‘napas’ atmosfer di atas pulau tersebut.

Data yang terkumpul selama Mei hingga Desember 2024 memperlihatkan sesuatu yang luar biasa konsisten. Hujan selalu lahir lebih dahulu di daratan pada siang hingga sore hari. Setelah matahari tenggelam, pusat aktivitas hujan bergeser ke pesisir dan laut. Siklus itu berlangsung nyaris tanpa jeda, seolah ada mekanisme tersembunyi yang terus menjaga iramanya.

Para ilmuwan kemudian mencoba mencari penyebabnya melalui serangkaian simulasi atmosfer. Mereka membandingkan tiga kondisi berbeda: wilayah pantai tanpa pulau, wilayah dengan pulau dan selat, serta wilayah pulau gambut yang mempertimbangkan karakteristik kelembapan khas lahan gambut.

Hasilnya mengejutkan.

Pulau Bengkalis ternyata bukan sekadar sebidang daratan yang dikelilingi laut. Keberadaannya menciptakan pertemuan angin dari laut dan selat secara bersamaan.

Namun, faktor yang membuat sistem itu bekerja jauh lebih kuat justru berasal dari permukaan gambut yang selalu basah.

Lahan gambut melepaskan uap air dalam jumlah sangat besar melalui proses evapotranspirasi. Ketika uap air itu naik dan mengembun menjadi awan, panas laten yang dilepaskan memperkuat arus udara ke atas. Arus tersebut kemudian menarik lebih banyak udara lembap dari laut menuju daratan. Semakin banyak uap air yang dilepaskan, semakin kuat pula sirkulasi atmosfer yang terbentuk.

Dengan kata lain, hutan gambut tidak sekadar menunggu hujan datang, tapi juga ikut membantu menciptakannya.

"Hutan rawa gambut bukan hanya gudang karbon, tetapi juga berfungsi seperti mesin uap alami yang memperkuat sirkulasi angin darat-laut dan membantu menjaga ritme hujan harian di wilayah pesisir tropis," ujar Albertus.

Temuan ini memberikan bukti baru bagi konsep ‘biotic pump’ atau pompa biotik, sebuah hipotesis yang selama puluhan tahun menjadi perdebatan di kalangan ilmuwan atmosfer. Teori tersebut menyatakan bahwa hutan tidak hanya dipengaruhi oleh cuaca, tetapi juga mampu mengendalikan sirkulasi udara melalui pelepasan uap air.

Di Bengkalis, teori itu tidak lagi hanya hidup dalam persamaan matematika. Radar cuaca, pengamatan lapangan, dan simulasi komputer menunjukkan pola yang saling menguatkan. Hutan benar-benar berperan aktif dalam membentuk hujan.

Penemuan ini juga mengubah cara kita memandang kerusakan gambut. Selama ini, kebakaran hutan gambut dipahami terutama sebagai bencana emisi karbon. Padahal, hilangnya gambut juga berarti hilangnya salah satu penggerak alami siklus air.

Saat gambut dikeringkan, ditebang, atau terbakar, pasokan uap air ke atmosfer ikut berkurang. Pembentukan awan melemah. Siklus hujan berpotensi berubah. Dalam jangka panjang, dampaknya dapat merambat ke pertanian, ketersediaan air bersih, hingga kestabilan iklim regional.

"Menjaga gambut bukan hanya menjaga karbon, tetapi juga menjaga hujan. Degradasi gambut berpotensi mengganggu siklus hidrologi regional dan dalam jangka panjang dapat memengaruhi stabilitas sistem iklim tropis," kata Albertus.

Karena itu, para peneliti mendorong agar mekanisme pengaruh gambut terhadap pembentukan hujan mulai dimasukkan ke dalam model iklim global. Mereka juga merekomendasikan pengukuran langsung fluks panas laten menggunakan metode ‘eddy covariance’ agar kontribusi gambut terhadap atmosfer dapat dihitung dengan lebih akurat.

Bagi Indonesia, temuan ini memiliki arti yang jauh melampaui dunia akademik.

"Pulau-pulau gambut dan hutan rawa gambut yang tersebar di tepi Pantai timur Sumatera, Kalimantan dan Papua, mungkin tampak kecil di peta, tetapi kontribusinya terhadap sistem iklim tropis sangat besar. Menjaga gambut berarti menjaga air, menjaga hujan, dan menjaga ketahanan Indonesia menghadapi perubahan iklim," pungkas Albertus.

Laporan: Redaksi

Bagikan

Komentar

Berita Terkait