Feature – Hainan olah 4.200 ton sampah per hari, hasilkan 1,7 juta kWh listrik

Foto dari udara yang diabadikan menggunakan drone pada 16 Maret 2025 ini memperlihatkan perangkat fotovoltaik di atap Pusat Konferensi Internasional Forum Boao untuk Asia (Boao Forum for Asia/BFA) dan sebuah hotel BFA di zona percontohan nol karbon Boao, di Boao, Provinsi Hainan, China selatan. (Xinhua/Pu Xiaoxu)

Haikou, China (Xinhua/Indonesia Window) – Dengan menarik tuas secara perlahan, seorang operator menggerakkan capit raksasa untuk mencengkeram tumpukan sampah di sebuah Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa). Capit tersebut mengangkat lebih dari lima ton sampah sekaligus, jumlah yang cukup untuk menghasilkan listrik yang digunakan satu rumah tangga pada umumnya dalam setahun.

Sampah tersebut kemudian dimasukkan ke dalam insinerator yang membakar pada suhu lebih dari 850 derajat Celsius. Pembangkit listrik di provinsi paling selatan China, Hainan, ini mengolah sekitar 4.200 ton sampah rumah tangga setiap hari, menghasilkan sekitar 1,7 juta kilowatt-jam listrik, kurang lebih setara dengan konsumsi listrik lebih dari 200.000 rumah tangga dalam sehari.

Transformasi sampah menjadi energi ini merupakan bagian dari eksperimen rendah karbon yang lebih luas di Hainan, yang dikenal dengan laut birunya, hutan tropis, dan sinar matahari yang melimpah.

Sejak 2021, Hainan telah menutup 16 tempat pembuangan akhir sampah rumah tangga. Dengan delapan PLTSa yang kini beroperasi, provinsi tersebut telah mencapai nol penimbunan sampah rumah tangga yang belum diolah, menghemat sumber daya lahan yang berharga sekaligus mengurangi emisi metana, gas rumah kaca yang kuat, yang dihasilkan oleh tempat pembuangan akhir.

Namun, menangani sampah dengan cara yang lebih ramah lingkungan hanyalah sebagian dari cerita. Hainan juga berupaya mengurangi sampah sejak dari sumbernya, dimulai dengan kantong plastik.

Perubahan tersebut dapat terlihat di sebuah pasar hasil pertanian di ibu kota provinsi tersebut, Haikou. Masing-masing dari 300 lebih kios memiliki catatan digital yang melacak tempat kantong belanja mereka dibeli, sementara sebuah sistem menghasilkan kode hijau, kuning, atau merah setiap hari untuk menandai apakah kantong-kantong tersebut memenuhi persyaratan lingkungan.

Sejak sistem digital tersebut diperkenalkan pada April lalu, penggunaan kantong yang sepenuhnya dapat terurai secara hayati (biodegradable) di pasar tersebut melonjak dari 18 persen menjadi 81 persen.

Seruan untuk menggunakan kantong biodegradable di pasar tersebut awalnya disambut dengan skeptisisme, bahkan beberapa pedagang menyembunyikan kantong yang tidak memenuhi syarat dari para pemeriksa.

Seorang pedagang daging bermarga Wu, yang telah bekerja di pasar tersebut selama tujuh tahun, termasuk di antara mereka yang skeptis, dengan mengira bahwa kantong yang lebih ramah lingkungan hanya akan lebih mahal.

"Baru setelah membandingkannya, saya menyadari bahwa kantong biodegradable di sini lebih murah daripada yang dijual di tempat lain atau secara daring, dan juga lebih tahan lama," kata Wu.

Pasar tersebut merupakan salah satu bagian kecil dari upaya yang mencakup seluruh provinsi. Hainan merupakan daerah setingkat provinsi pertama di China yang memberlakukan larangan di seluruh provinsi terhadap produk plastik sekali pakai yang tidak dapat terurai secara hayati melalui peraturan perundang-undangan.

Pada akhir 2025, alternatif untuk produk plastik yang dilarang tersebut mencapai rata-rata 80,2 persen di lokasi-lokasi utama termasuk sekolah, rumah sakit, pasar swalayan, dan pasar hasil pertanian.

"Sebuah 'pulau tanpa sampah' bukan sekadar tentang pengelolaan sampah, melainkan merupakan transisi hijau yang mencakup seluruh operasional sebuah kota," kata Wang Chenye, wakil kepala Akademi Ilmu Lingkungan Hainan.

Sekitar 100 kilometer dari Haikou, sebuah eksperimen rendah karbon juga sedang berlangsung di Boao. Zona percontohan nol karbon Boao, proyek pertama di China yang mencapai operasi nol karbon melalui pembaruan perkotaan, dibentuk dengan melakukan retrofit pada area yang sudah ada, bukan dibangun dari awal.

Di dalam dapur sebuah hotel di Pulau Dongyu, Boao, para koki mengayunkan wajan di atas tungku yang mendesis, tetapi tidak terlihat api sama sekali. Dapur-dapur hotel di seluruh pulau tersebut telah sepenuhnya beralih menggunakan listrik.

"Dapur yang sepenuhnya menggunakan listrik saja dapat memangkas emisi karbon dioksida sebesar 7,5 ton per hari," kata Luo Hu, seorang insinyur di COSCO SHIPPING Boao Co., Ltd., perusahaan yang terlibat dalam proyek zona percontohan nol karbon tersebut. Dia menambahkan bahwa pelacakan karbon telah diterapkan pada seperlima hidangan untuk membantu para pelanggan memahami jejak karbon dengan lebih baik.

Di seluruh Pulau Dongyu di Boao, hotel-hotel dan tempat konferensi telah menjalani renovasi hijau, sementara kendaraan dan kapal telah beralih ke energi baru. Secara keseluruhan, transformasi tersebut mencakup 18 proyek yang meliputi bangunan ramah lingkungan, energi terbarukan, dan transportasi yang lebih ramah lingkungan, menurut Luo.

"Melaksanakan retrofit nol karbon di tengah panas tinggi, kelembapan tinggi, dan topan yang sering terjadi berarti tidak ada model siap pakai yang dapat dijadikan acuan," kata Zeng Youwen, kepala insinyur cabang Hainan dari Akademi Perencanaan dan Desain Perkotaan China (China Academy of Urban Planning and Design).

Upaya tersebut telah membuahkan hasil. Zona tersebut kini menghasilkan lebih banyak listrik hijau daripada yang dikonsumsinya dan telah memasuki operasi nol karbon yang berkelanjutan.

Emisi karbon dioksida terkait energi dari bangunan dan infrastruktur kota di zona tersebut turun dari sekitar 11.350 ton pada 2019 menjadi hanya 14,6 ton pada 2025, atau berkurang 99,9 persen.

Hainan berupaya membawa praktik rendah karbon tersebut lebih jauh selama periode Rencana Lima Tahun ke-15 (2026-2030).

Berdasarkan rencana provinsi untuk pulau rendah karbon, Hainan berencana menyelesaikan pembangunan pulau rendah karbon sebelum 2045 dan mengurangi emisi CO2 tahunan sebesar 70 persen dari tingkat puncaknya. Rencana tersebut memetakan perubahan di sektor energi, industri, transportasi, dan bangunan, disertai upaya untuk memperkuat penyerap karbon di pulau tersebut.

Upaya tersebut sudah menghasilkan manfaat nyata di Desa Hegui, wilayah Lingao. Sekitar 48 hektare hutan mangrove, yang telah lama dihargai karena melindungi pantai dari gelombang, diperkirakan dapat menyerap 3.236,05 ton karbon selama tujuh tahun, yang berpotensi menghasilkan lebih dari 320.000 yuan bagi kas desa.

*1 yuan = 2.675 rupiah

"Hutan mangrove ini tidak hanya melindungi kami dari gelombang, tetapi juga menghasilkan uang melalui kredit karbon," kata Chen Hongwei, seorang pejabat desa tersebut. "Hal tersebut memberi kami alasan yang lebih kuat untuk melindunginya."

Laporan: Redaksi

Bagikan

Komentar

Berita Terkait