
Feature – Dulu penghasil opium, kini ladang Afghanistan dipenuhi gandum dan kentang

Sejumlah petani memanen gandum di sebuah ladang di Provinsi Logar, Afghanistan, pada 23 Juni 2026. (Xinhua/Saifurahman Safi)
Mohammad Agha, Afghanistan (Xinhua/Indonesia Window) – Di Distrik Mohammad Agha, Provinsi Logar, Afghanistan timur, wilayah yang dahulu menjadi tempat penanaman bunga popi ungu yang menggerakkan perdagangan heroin global, kini telah berubah menjadi hamparan luas ladang kentang dan gandum berwarna keemasan.
Empat tahun setelah Afghanistan memberlakukan larangan nasional terhadap penanaman bunga popi, produksi opium, dan perdagangan narkoba, para petani semakin banyak yang beralih dari tanaman ilegal tersebut ke gandum, kentang, dan komoditas pertanian legal lainnya.
Perubahan ini dilakukan dengan harapan tidak hanya memperoleh pendapatan yang lebih stabil, tetapi juga masa depan yang lebih berkelanjutan.
Bagi Bashir, seorang buruh tani musiman yang menjadi tulang punggung keluarga beranggotakan sepuluh orang, perubahan ini telah menyediakan lapangan pekerjaan sekaligus membawa ketenangan pikiran.
Sembari bekerja dengan tekun di ladang gandum yang siap dipanen, dia mengatakan bahwa pertanian legal memberikan manfaat bagi petani maupun masyarakat setempat.
"Menanam gandum jauh lebih baik daripada menanam bunga popi," kata Bashir kepada Xinhua. "Gandum memberikan sumber pendapatan yang legal dan menciptakan lapangan kerja bagi masyarakat setempat."
Dia meyakini manfaatnya tidak hanya terbatas pada aspek ekonomi, dengan mengatakan bahwa "penanaman bunga popi merusak lahan serta merugikan masyarakat."
Di seluruh Distrik Mohammad Agha, kisah-kisah serupa semakin umum terjadi.
Shabir Ahmad, yang menggarap lahan seluas sekitar 60 ekar (sekitar 24 hektare) bersama saudara-saudaranya, telah sepenuhnya meninggalkan penanaman bunga popi dan beralih menanam gandum, kentang, serta tanaman legal lainnya.
Dia mengatakan tidak memiliki keinginan untuk kembali ke cara bertani yang lama.
"Gandum dan kentang memberi kami mata pencaharian yang layak," katanya. "Penanaman bunga popi dapat menurunkan kesuburan tanah selama bertahun-tahun."
Selama musim panen, ladangnya mempekerjakan sekitar 15 buruh harian, yang memberikan penghasilan bagi puluhan anggota keluarga.
Empat tahun setelah larangan penanaman bunga popi diberlakukan pada April 2022, banyak petani mengatakan bahwa perubahan tersebut tidak hanya mengubah lahan pertanian mereka, tetapi juga komunitas mereka.
Menurut laporan terbaru dari Kantor Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk Urusan Narkoba dan Kejahatan (United Nations Office on Drugs and Crime/UNODC), Afghanistan telah mencapai salah satu penurunan paling signifikan dalam penanaman tanaman ilegal selama beberapa dekade terakhir.
Bagi petani veteran Allah Mohammad, yang telah menggarap lahan selama lebih dari tiga dekade sembari menghidupi keluarganya yang beranggotakan sepuluh orang, manfaat pertanian legal jauh melampaui lingkup rumah tangga individu.
"Pertanian yang legal memberikan manfaat bagi lebih banyak orang," ujarnya.
"Menanam bunga popi hanya memberikan manfaat terbatas bagi masyarakat setempat, tetapi pertanian legal menciptakan lapangan pekerjaan di sepanjang musim tanam, mulai dari penanaman dan irigasi hingga panen dan pengangkutan hasil pertanian."
Transisi sektor pertanian Afghanistan terjadi setelah puluhan tahun konflik, ketika produksi narkotika dan kecanduan meluas. Para pejabat memperkirakan bahwa sekitar 4 juta warga Afghanistan mengalami kecanduan narkotika selama dua dekade sebelum pemerintahan saat ini berkuasa.
Bagi Haji Khwani, keputusan untuk meninggalkan penanaman bunga popi sama pentingnya untuk melindungi generasi mendatang seperti halnya untuk mencari nafkah.
Di lahan pertanian seluas enam ekar (sekitar 2,4 hektare) miliknya yang berada di tepi jalan raya yang menghubungkan Kabul dengan provinsi-provinsi di Afghanistan bagian timur, dia kini menanam gandum, kentang, jagung, dan kacang-kacangan.
"Jika kami menanam bunga popi, anak-anak kami bisa terpapar narkoba," ujar Khwani kepada Xinhua. "Hal itu hanya akan menyebabkan semakin banyaknya kasus kecanduan di masyarakat kami."
Meski telah menunjukkan kemajuan, para petani mengatakan bahwa mempertahankan transisi tersebut akan membutuhkan dukungan yang berkelanjutan.
Banyak di antara mereka yang menyerukan kepada pemerintah maupun organisasi bantuan internasional untuk menyediakan pupuk kimia, benih bersertifikat, sistem irigasi modern, fasilitas penyimpanan air, serta akses pasar yang lebih baik agar pertanian legal tetap layak secara ekonomi.
Saat dunia memperingati Hari Internasional Melawan Penyalahgunaan Obat-obatan dan Perdagangan Gelap (International Day Against Drug Abuse and Illicit Trafficking), transisi Afghanistan dari ladang bunga popi menjadi penanaman gandum dan tanaman alternatif lainnya mencerminkan upaya yang lebih luas untuk menekan produksi narkotika sekaligus menciptakan mata pencaharian yang berkelanjutan bagi masyarakat pedesaan.
Menurut para petani, apakah kemajuan tersebut dapat dipertahankan tidak hanya bergantung pada penegakan larangan penanaman bunga popi yang berkelanjutan, tetapi juga pada investasi jangka panjang di sektor pertanian, infrastruktur pedesaan, dan perluasan peluang pasar.
Laporan: Redaksi
Bagikan

Komentar
Berita Terkait

Pakar serukan peningkatan kesadaran publik untuk atasi perubahan iklim di Eropa
Indonesia
•
08 Oct 2024

Warga Gaza jalani kehidupan bak di ‘neraka’di tengah pengepungan Israel
Indonesia
•
08 Nov 2023

Feature – Tren kesehatan praktis di kalangan Gen Z dorong perkembangan industri goji berry di Ningxia China
Indonesia
•
27 Jul 2024

Eropa dilanda cuaca ekstrem, sektor perjalanan alami gangguan
Indonesia
•
07 Jan 2025


Berita Terbaru

IOC bakal beri hibah Rp179 juta untuk setiap atlet Olimpiade, ini syaratnya
Indonesia
•
26 Jun 2026

Obesitas kini jadi 'musuh nomor satu' kesehatan Australia, hampir sepertiga orang dewasa terdampak
Indonesia
•
25 Jun 2026

Museum Tekstil Jakarta rayakan hari jadi ke-50 dengan pameran Wastra Tradisional Klasik
Indonesia
•
25 Jun 2026

Feature – Tren makanan kukus dan rebus meningkat di Jakarta, warga urban mulai tinggalkan gorengan
Indonesia
•
23 Jun 2026
