Feature – di tengah hingar-bingar gim, seniman Jakarta menjaga ruang bagi karya fisik

Foto menunjukkan suasana di stan Paguyuban Pedagang Kreatif Mature dalam ajang Jakarta Game On 2026 di The Brick Hall, Fatmawati City Center, Jakarta Selatan, pada 16 Oktober 2026. (Xinhua/Indalia Jayadinata)

Jakarta (Xinhua/Indonesia Window) – Mendengar nama ajang ‘Jakarta Game On 2026’, bayangan yang muncul di benak mungkin hanya layar monitor, lampu keyboard yang menyala terang, dan hingar-bingar kompetisi esports.

Namun, di tengah dominasi teknologi dalam festival gim yang digelar pada 16-18 Oktober 2026 di The Brick Hall, Fatmawati City Center, Jakarta Selatan itu, rupanya tetap ada ruang hangat bagi pelaku seni murni dan inovator produk fisik.

Pemandangan berbeda itu terlihat jelas di sebuah stan yang untuk pertama kalinya mengusung nama Paguyuban Pedagang Kreatif Mature.

Di stan tersebut, aroma kayu, goresan pensil, dan cat warna menjadi daya tarik utama yang ditawarkan Saepul Bahri, seniman dari Kilau Art Studio yang juga mendokumentasikan karya-karyanya lewat akun Instagram @rollingdoorartgallery dan @epularts.

Kehadiran stan tersebut berawal dari kolaborasi dengan Mature, media daring seni dan budaya yang melalui program podcast-nya mengajak para pekerja kreatif untuk unjuk gigi sesuai dengan tema acara.

Bagi Saepul, partisipasi para seniman dalam acara berlabel "teknologi informasi (TI) dan gim" ini justru untuk membawa keseimbangan visual.

"Acara ini kan namanya Jakarta Game On, jadi lebih ke gim atau TI. Tapi, aktivitas di sini tidak hanya soal gadget. Bisa juga soal apresiasi visual, keautentikan, dan karya freehand. Jadi sebenarnya saling support," katanya kepada Xinhua di lokasi penyelenggaraan.

Menurutnya, di balik kemegahan gim modern yang sepenuhnya terkomputerisasi, selalu ada fondasi craftsmanship atau keahlian tangan di belakang layar, dan keduanya saling melengkapi.

Hal itu ditunjukkannya lewat pajangan seni cukil kayu dan berbagai karya seni buatan anak-anak di stannya. Karya-karya tersebut dipajang murni sebagai apresiasi, meskipun dirinya tidak menutup pintu jika ada pengunjung yang tertarik membelinya. Stan itu juga menawarkan pengalaman autentik lewat pembuatan sketsa wajah di tempat (on-the-spot) dengan biaya 100.000 rupiah.

Harapan agar talenta lokal mendapat panggung yang lebih besar juga disampaikan pemerintah daerah.

"Ke depan, Jakarta diharapkan memiliki event gaming berskala internasional yang mampu menarik pelaku industri dan pengunjung dari berbagai negara, sekaligus memberikan panggung yang lebih besar bagi developer, IP, kreator, dan talenta lokal," kata Kepala Bidang Ekonomi Kreatif Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Provinsi DKI Jakarta Puji Hastuti dalam keterangan pers acara tersebut.

Salah satu contoh inovasi dan talenta lokal yang mendapat panggung adalah Arif Wicaksono dari Titantra Intermedia, yang berbagi ruang di stan yang sama dengan Saepul.

Kreator yang kerap membagikan karyanya lewat akun Instagram @bachoxs_ itu menawarkan solusi atas sebuah keresahan nyata di era serba digital, yaitu hilangnya rasa memiliki.

"Di dunia digital sekarang, misalnya untuk lagu yang tersedia di berbagai platform digital, rasa memilikinya itu tidak ada," ungkap Arif saat berbincang dengan Xinhua.

Berangkat dari kegelisahan tersebut, Arif berupaya menciptakan jembatan antara dunia fisik dan alam digital melalui produk berkonsep "phygital" (gabungan dari kata physical dan digital).

Dia menunjukkan dua kartu kecil berbahan karton dengan gambar cerita. Di baliknya, terdapat kode QR, kata sandi, serta nomor seri layaknya barang kolektor sungguhan. Misalnya, angka "6/60" pada kartu tersebut menandakan cetakan keenam dari total 60 eksemplar. Dengan memindai kode QR dan memasukkan kata sandi melalui ponsel pintar, pengguna dapat membaca keseluruhan cerita dari karya tersebut.

Inovasi ini dirancang eksklusif, dengan satu benda fisik hanya berlaku untuk mengakses konten digital di satu perangkat. Lewat jembatan fisik-digital inilah seorang penikmat karya tidak hanya menatap layar, tetapi benar-benar memiliki wujud fisiknya untuk dikoleksi.

Produk ‘phygital’ yang dibawa Arif saat ini masih berupa purwarupa atau versi demo. Ke depannya, dia berencana mengganti sistem kode QR dan beralih menggunakan teknologi komunikasi jarak dekat (near-field communication/NFC). Dengan begitu, kolektor tidak perlu lagi memindai kode QR, tetapi cukup menempelkan (tap) kartu tersebut ke ponsel pintar untuk mengakses konten di dalamnya secara instan.

Secara teknis, transisi dari produk fisik ke digital maupun penggabungannya diakui Arif tidak terlalu menyulitkan. Tantangan terbesar justru berada pada aspek pendanaan, khususnya yang berkaitan dengan biaya penyediaan peladen (server) dan pengembangan perangkat lunak pendukung.

Pada akhirnya, kehadiran Saepul dan Arif di ajang Jakarta Game On 2026 menjadi pengingat bahwa di era komputasi awan (cloud), karya autentik yang dapat disentuh akan selalu memiliki tempat istimewa.

Lebih dari sekadar ajang kompetisi gim, acara itu sekaligus menyuguhkan potret nyata sebuah ekosistem kreatif yang inklusif.

Menjelang perayaan ulang tahun Jakarta yang ke-500, perpaduan harmonis antara pesatnya inovasi digital dan pelestarian seni fisik semacam ini diharapkan dapat terus tumbuh, memperkaya identitas kota dan membawa industri kreatif setempat melangkah semakin mantap.

Selesai

Penulis: Indalia Jayadinata

Bagikan

Komentar

Berita Terkait