
Kekerasan terhadap anak di Australia meningkat, ini temuan studi terbaru

Anak-anak mengikuti lomba balap karung sebagai bagian dari acara 'color run' di Canberra, Australia, pada 11 Oktober 2026. (Xinhua/Chu Chen)
Sydney, Australia (Xinhua/Indonesia Window) – Kasus pelecehan seksual dan kekerasan dalam keluarga yang melibatkan anak-anak meningkat tajam di Australia antara 2014 dan 2024, dengan peningkatan kasus kekerasan yang makin cepat dalam tiga hingga lima tahun terakhir, ungkap sebuah penelitian di Australia.
Penelitian tersebut menemukan bahwa kasus pelecehan seksual meningkat sebesar 51 persen pada anak perempuan berusia 10-17 tahun dan 60 persen pada anak laki-laki dalam kelompok usia yang sama selama periode 2014-2024. Di kalangan anak laki-laki berusia 10-17 tahun, angka tersebut meningkat tajam sejak 2021, dengan kenaikan sebesar 15,7 persen per tahun, menurut pernyataan yang dirilis pada Rabu (14/10) oleh Universitas Sydney.
Tingkat kasus kekerasan dalam keluarga juga meningkat tajam sejak sekitar 2020, baik pada anak laki-laki maupun perempuan, dengan kenaikan tahunan berkisar antara 8 persen hingga 20 persen di berbagai kelompok usia dan jenis kelamin, sebut penelitian yang diterbitkan dalam jurnal JAMA Network Open itu.
Para peneliti menyebutkan sejumlah faktor yang mungkin berkontribusi, termasuk meningkatnya ketimpangan pendapatan, dampak pandemi COVID-19, tekanan biaya hidup, perubahan norma gender di dunia daring, kesenjangan dalam layanan dukungan, serta meningkatnya pelaporan kasus kekerasan.
Penulis utama dalam penelitian tersebut, Lucy Grummitt dari Pusat Matilda untuk Penelitian Kesehatan Mental dan Penggunaan Zat (Matilda Centre for Research in Mental Health and Substance Use) di Universitas Sydney, menyerukan peningkatan investasi dalam upaya pencegahan dan intervensi dini untuk melindungi anak-anak dari kekerasan.
Studi tersebut menemukan bahwa tidak ada perubahan yang signifikan dalam jumlah kasus rawat inap anak akibat cedera yang berkaitan dengan kekerasan, serta tidak ada peningkatan dalam jumlah kasus terkonfirmasi penganiayaan anak selama periode yang sama.
Namun, para peneliti memperingatkan bahwa penurunan jumlah kasus terkonfirmasi dapat mencerminkan terbatasnya kapasitas lembaga perlindungan anak dalam menyelidiki laporan kekerasan, bukan penurunan jumlah kasus kekerasan yang sebenarnya.
Laporan: Redaksi
Bagikan

Komentar
Berita Terkait

Feature – Mahasiswa Indonesia soroti teknologi AI dan pemindaian 3D china untuk lestarikan warisan budaya
Indonesia
•
23 Jul 2026

China tanggung biaya perawatan anak untuk dukung pertumbuhan populasi
Indonesia
•
14 Sep 2025

Singapura catat peningkatan jumlah pecandu narkoba muda
Indonesia
•
14 Feb 2025

Penyandang tuna rungu di Gaza sulap besi tua jadi karya seni yang elok
Indonesia
•
05 Aug 2022


Berita Terbaru

Gubernur Banten ajak Al-Khairiyah bersinergi tingkatkan kualitas pendidikan
Indonesia
•
17 Oct 2026

Minum kopi khop serentak dengan lebih dari 2.000 peserta cetak rekor MURI di HUT ke-438 Kota Meulaboh
Indonesia
•
13 Oct 2026

Feature – 50 juta eksemplar per tahun pada era kejayaan, komik Hong Kong kini mencari jalan bangkit
Indonesia
•
13 Oct 2026

Fokus Berita – Gempa 7,7 guncang Panama, lebih dari 40 gempa susulan picu kepanikan
Indonesia
•
11 Oct 2026
