Feature – Di perbatasan selatan Lebanon, Ramadan terasa muram di tengah rapuhnya gencatan senjata dan tekanan ekonomi

Para pedagang menunggu pelanggan di pasar menjelang bulan suci Ramadan di Tripoli, Lebanon, pada 17 Februari 2026. (Xinhua/Khaled Habashiti)

Di kota-kota perbatasan di Lebanon selatan, bulan Ramadan tiba di tengah dengungan mesin drone Israel yang terus terdengar alih-alih hiruk pikuk pasar malam seperti biasanya.

 

Beirut, Lebanon (Xinhua/Indonesia Window) – Di kota-kota perbatasan di Lebanon selatan, bulan Ramadan tiba di tengah dengungan mesin drone Israel yang terus terdengar alih-alih hiruk pikuk pasar malam seperti biasanya.

Dari generasi ke generasi, komunitas-komunitas tersebut mengandalkan perdagangan dan pertanian skala kecil. Kini, mereka menghadapi tekanan ganda, yakni gencatan senjata yang rapuh dan keruntuhan ekonomi yang membuat bahkan pembelian kebutuhan rumah tangga sederhana pun harus diperhitungkan dengan cermat.

Gencatan senjata antara Hizbullah dan Israel telah diterapkan sejak November 2024, tetapi hal itu tidak banyak membantu dalam memulihkan situasi normal. Tenggat waktu penarikan pasukan telah berlalu lebih dari setahun yang lalu, dan tentara Israel masih berada di beberapa titik di sepanjang wilayah perbatasan. Berbagai serangan sporadis terus berlanjut. Banyak toko hanya beroperasi sesekali, khawatir akan eskalasi.

"Serangan sangat membebani pikiran," ujar Jalal Shahrour (60), yang tinggal di dekat area perbatasan itu. "Namun, iman memungkinkan kami untuk bertahan."

Di Kota Dibbin, Lebanon timur, keramaian yang lazim terlihat sebelum bulan puasa telah lama berganti menjadi aktivitas perdagangan yang lesu. Tahun ini pun tidak berbeda. Khaled Issa (50) berdiri di toko kelontong miliknya pekan ini, menata beras dan tepung yang stoknya mulai menipis di etalase. Pada tahun-tahun sebelumnya, rak-rak tokonya dipenuhi barang-barang sebagai persiapan menyambut bulan Ramadan, ujarnya.

Tradisi berbelanja dalam jumlah besar sebagian besar telah menghilang. Para pelanggan kini membeli dalam jumlah kecil. Beberapa pelanggan meletakkan kembali barang-barang di meja kasir saat total belanja melebihi kemampuan mereka.

"Operasi militer harian, hilangnya para tetangga, dan harga, semuanya mengikis kebahagiaan (bulan Ramadan)," tutur Issa. "Bahkan aktivitas berbuka puasa sederhana pun telah menjadi sebuah tantangan."

Keruntuhan ekonomi Lebanon memperparah tekanan tersebut. Bank Dunia memperkirakan bahwa produk domestik bruto (PDB) riil negara itu telah menyusut hampir 38 persen sejak 2019. Pound Lebanon telah kehilangan lebih dari 97 hingga 98 persen nilainya sejak 2019.

Meski inflasi telah menurun dari puncaknya, angkanya tetap tinggi dan kemiskinan telah meluas. Harga pangan, khususnya, terus naik. Pada akhir 2025, inflasi untuk makanan dan minuman nonalkohol tercatat di kisaran 14,6 persen secara tahunan (yoy), menggarisbawahi kenaikan berkelanjutan biaya kebutuhan pokok bahkan saat harga konsumen secara keseluruhan menurun.

Bagi banyak keluarga, paket Ramadan tradisional, yang berisi minyak goreng, kurma, dan kacang-kacangan, kini menjadi pengeluaran yang signifikan. Di Bint Jbeil yang berlokasi di dekat perbatasan, beberapa rumah tangga mengurangi porsi makanan mereka.

Seorang ibu rumah tangga bernama Fatima Bazzi mengatakan keluarganya kini sebagian bergantung pada makanan kering hasil sumbangan. Daging semakin jarang tersaji di meja makan, digantikan oleh hidangan berbahan dasar beras dan kacang Arab.

Kendati demikian, beberapa ritual masih bertahan. Saat matahari terbenam, para tetangga masih saling bertukar piring kecil berisi makanan, memelihara rasa kebersamaan di masa yang tidak menentu.

"Kami berusaha menjadikan buka puasa sebagai momen kebahagiaan," ujar Bazzi, "meski ada kesedihan di sekitar kami."

Laporan: Redaksi

Bagikan

Komentar

Berita Terkait