Feature – Dari Guangxi ke Indonesia: Kisah perjuangan Shi Rufei wujudkan kemakmuran lewat teh Liu Bao di panggung internasional

Foto menampilkan Teh Liu Bao dan produk-produk budaya kreatif terkait melakukan debutnya di Indonesia dalam ajang Happy Chinese Year Carnival 2026 di Sekretariat ASEAN di Jakarta pada Februari 2026. (Sumber: Istimewa)

Nanning, China (Xinhua/Indonesia Window) – "Dari pegunungan berkabut di pedalaman Guangxi hingga panggung global, teh Liu Bao menapak jalan yang luas dalam pewarisan budaya takbenda, revitalisasi industri, dan kerja sama keterbukaan di sepanjang Jalur Kapal Teh Kuno (Ancient Tea Ship Route) yang telah berusia milenium," ujar Shi Rufei, deputi Kongres Rakyat Nasional (National People's Congress/NPC) China sekaligus sekretaris Partai di Pabrik Teh Heishishan di Liubao, wilayah Cangwu. Shi menyampaikan hal tersebut dengan emosi mendalam saat teh Liu Bao dari perusahaannya melakukan debut di Indonesia tahun ini.

Pada Februari, dalam ajang Happy Chinese Year Carnival 2026 yang diselenggarakan di Sekretariat ASEAN di Jakarta, Wei Lifang, kepala Rufei Liu Bao Tea Products, membawa teh tersebut ke negara Asia Tenggara. Menempuh perjalanan ribuan mil dari pegunungan Guangxi hingga ke stan pameran di Indonesia, daun teh mungil ini memikat masyarakat setempat melalui cita rasa yang lembut dan manis, keahlian tradisional yang telah melegenda, serta warisan budaya yang mendalam.

"Kami memamerkan sekitar 10 varietas teh Liu Bao beserta produk-produk budaya dan kreatif terkait di Jakarta, serta menyajikannya langsung kepada para tamu Indonesia. Banyak di antara mereka yang langsung melakukan pemesanan di lokasi," sebut Wei. Dikenal karena kualitasnya yang unggul, teh Liu Bao memperoleh sambutan yang baik di luar negeri dan menjadi jembatan budaya yang menghubungkan China dan ASEAN.

Kini, teh Liu Bao telah merambah pasar global dan muncul sebagai industri andalan yang mendorong perkembangan lokal, sebuah prestasi yang berakar pada dedikasi Shi Rufei selama bertahun-tahun terhadap pegunungan teh dan visinya untuk memimpin warga desa menuju kemakmuran.

Sebagai penduduk asli daerah penghasil teh, Shi tumbuh besar bersama teh dan memahami peran pentingnya bagi mata pencaharian masyarakat setempat. Di masa lalu, warga desa menjual daun teh mentah atau mengolahnya secara mandiri dengan metode yang tidak terstandardisasi, sehingga kerap menghadapi masalah harga rendah dan pasar yang tidak stabil. Memperluas jangkauan pasar pun menjadi tantangan mendesak bagi komunitas tersebut.

Berbasis di kawasan pegunungan, Shi mendirikan Pabrik Teh Heishishan sebagai pusat dan memelopori model kerja sama "perusahaan + koperasi + petani". Pabrik tersebut kini mencatatkan nilai produksi tahunan lebih dari 40 juta yuan, dan menciptakan lebih dari 1.800 lapangan kerja. Setiap tahunnya, pabrik itu menyerap lebih dari 150.000 kilogram daun teh segar, yang secara konsisten meningkatkan pendapatan bagi lebih dari 180 rumah tangga petani teh, termasuk 80 perempuan yang ditinggal suaminya merantau. Banyak pekerja migran telah kembali ke kampung halaman, pendapatan tahunan beberapa keluarga bahkan melonjak dari beberapa ribu yuan menjadi puluhan ribu yuan. Kota teh yang dulu terpencil itu kini tumbuh pesat dan mencapai kemakmuran berkat komoditas teh.

*(1 yuan = 2.447 rupiah

"Kami telah beralih dari sekadar menjual daun teh dan pemandangan indah menjadi menjual budaya teh," kata Shi. Dia telah mempromosikan pengembangan terintegrasi di seluruh rantai industri teh Liu Bao, mengeksplorasi pariwisata budaya berbasis teh, widyawisata (study tour), dan industri kesehatan guna meningkatkan nilai sektor tersebut. Di Desa Tangping, lokasi pabrik tersebut berada, perkebunan teh kini mencakup lebih dari 4.000 mu (sekitar 267 hektare), dengan kehadiran 2 perusahaan yang berdomisili, 9 koperasi, serta 17 usaha mikro teh yang diperkenalkan. Pendapatan ekonomi kolektif desa tersebut kini telah mencapai 472.700 yuan.

Shi memahami bahwa teh berkualitas tinggi harus tumbuh subur di pegunungan dan juga mampu menjangkau seluruh dunia. Dengan memanfaatkan warisan sejarah Jalur Kapal Teh Kuno dan peluang dari Inisiatif Sabuk dan Jalur Sutra (Belt and Road Initiative/BRI), dia telah membawa teh Liu Bao yang diolah dengan penuh ketelitian ke berbagai pameran internasional seperti di Indonesia, Prancis, Swiss, dan negara-negara lainnya.

Mulai dari pengelolaan kebun teh hingga pewarisan keahlian tradisional, serta dari pasar domestik hingga ekspansi global, pegunungan teh di Liubao tumbuh semakin hijau dan jalan menuju kemakmuran pun kian terbuka lebar. Di tengah perkembangan tersebut, Shi terus memikirkan bagaimana cara memanfaatkan efek merek secara lebih efektif untuk menghubungkan dan memberi manfaat bagi para petani, serta bagaimana cara mewariskan budaya teh kepada generasi yang lebih luas. Dengan pertanyaan-pertanyaan ini di benaknya, Shi terus melangkah di antara kebun teh, memimpin warga desa menuju kehidupan yang lebih baik dan berupaya agar aroma teh Liu Bao menyebar semakin luas dan bertahan lama.

Didorong oleh ‘warisan budaya takbenda plus’ dan pengembangan terintegrasi antara sektor pertanian, budaya, dan pariwisata, Wuzhou telah menarik wisatawan dari seluruh China dan mancanegara, seperti Korea Selatan, Jepang, Prancis, serta negara-negara ASEAN untuk merasakan pengalaman budaya teh yang mendalam. Data dari Biro Pengembangan Industri Teh Wuzhou menunjukkan bahwa luas perkebunan teh di kota tersebut mencakup 402.700 mu (26.846 hektare), dengan output teh melampaui 40.000 ton pada 2025 dan nilai produksi komprehensifnya diprediksi mencapai lebih dari 30 miliar yuan. Sementara itu, nilai merek publik regional ‘Teh Liu Bao Wuzhou’ (Wuzhou Liu Bao Tea) telah meningkat menjadi 9,522 miliar yuan. 

Laporan: Redaksi

Bagikan

Komentar

Berita Terkait