
Esai – Di usia 16 tahun, saya memanggul senapan dan merindukan rumah

Para pendukung Houthi berpartisipasi dalam sebuah aksi unjuk rasa bersenjata di Sanaa, Yaman, pada 7 Oktober 2026, yang digelar untuk menentang keterlibatan Turkiye dan Pakistan bersama Arab Saudi dalam konflik Yaman. (Xinhua/Mohammed Mohammed)
Aden, Yaman (Xinhua/Indonesia Window) – Dulu, saya pernah membayangkan diri saya menjadi dokter, mengenakan jas putih. Namun, kemiskinan dan perang justru menempatkan senapan di tangan saya.
Nama saya Ali Ahmed. Saya berusia 16 tahun. Sejak Juni 2026, saya menjadi tentara di salah satu pasukan pro-pemerintah Yaman.
Gaji bulanan pertama saya sebesar 265 dolar AS. Angka itu rasanya membuktikan bahwa saya telah mengambil keputusan yang tepat.
* Rp1 dolar AS = 18.183 rupiah
Sebagai anak tertua dari tujuh bersaudara, saya merasa berguna untuk pertama kalinya setelah sekian lama. Saya mengirim uang ke rumah untuk membiayai tagihan pengobatan ayah saya dan membantu memenuhi kebutuhan makan adik-adik saya.
Ibu saya merasa lega, tetapi juga takut. Dia lebih dulu menyadari daripada saya bahwa gaji itu harus dibayar dengan harga tertentu. Saya tahu cara menarik pelatuk senapan, tetapi hanya sedikit yang saya ketahui tentang berperang.
Sekitar sebulan setelah mendaftar, saya dikirim ke garis depan di Distrik Hays, Kegubernuran Hodeidah.
Suatu malam, tentara Houthi mengepung posisi kami, dan rentetan tembakan mengoyak kegelapan.
Saya hampir tidak bisa melihat dari mana asal tembakan itu. Saya mengarahkan senjata ke arah kilatan cahaya dan menembak dalam kepanikan.
Tangan saya gemetar. Kaki saya gemetar. Jantung saya terasa seolah-olah hendak melompat keluar dari dada.
Dua pemuda dari Yaman selatan, seperti saya, tewas malam itu.
Saya tak bisa berhenti membayangkan ibu saya. Untuk pertama kalinya, saya benar-benar menyadari bahwa saya mungkin pulang bukan sebagai seorang putra, melainkan sebagai raga tanpa nyawa.
Perang dengan cepat mengajarkan pelajaran lain kepada saya. Empat teman saya tewas dalam sebuah serangan drone, dan kami harus mengumpulkan sisa-sisa tubuh mereka.
Sampai saat itu, bahaya selalu identik dengan kebisingan: tembakan, ledakan, dan teriakan. Setelah hari itu, saya belajar bahwa kesunyian juga bisa menakutkan. Kematian bisa datang tanpa peringatan.
Kehidupan di rumah yang dulu pernah saya benci, kini justru menjadi kehidupan yang sangat saya rindukan.
Saya akan dengan senang hati menghabiskan sepanjang hari mengantarkan pesanan dengan sepeda motor di bawah terik matahari, meski hanya memperoleh sedikit penghasilan, asalkan hal tersebut berarti saya bisa pulang dalam keadaan hidup.
Perang itu terus membayangi tidur saya. Bahkan di malam-malam yang sunyi, saya tetap terbaring sambil menunggu sesuatu terjadi. Pada akhirnya, saya menemui dokter karena tidak lagi bisa tidur nyenyak.
Obat-obatan membantu saya tidur, tetapi tidak bisa mengembalikan kedamaian yang saya rasakan sebelum perang.
Saya juga mulai memandang perang dengan cara yang berbeda.
Sebelum mendaftar menjadi tentara, saya belum pernah bertemu dengan tentara Houthi. Lalu, saya melihat tentara-tentara Houthi yang ditawan. Sebagian masih muda; yang lain tampak kelelahan atau ketakutan. Namun, mereka tampak familier. Mereka tampak seperti orang Yaman.
Saya tak bisa menahan diri untuk bertanya-tanya: Apakah mereka juga memiliki ayah yang sakit? Adik yang menanti makanan? Apakah mereka pernah membayangkan masa depan yang berbeda, seperti yang pernah saya bayangkan?
Ketika Anda melihat pihak lawan dari jarak beberapa langkah, bukan dari seberang medan perang, perang tidak lagi tampak sesederhana dulu.
Jika pertempuran berakhir besok, saya bisa duduk bersama seorang tentara Houthi dan minum teh. Tanpa senapan di antara kami, mungkin kami akan menemukan betapa banyak kesamaan yang dimiliki keluarga kami, dan betapa sedikitnya yang kami ketahui tentang orang-orang yang kami takuti.
Di garis depan, kami lebih banyak membicarakan rumah daripada politik. Kami membicarakan ibu, istri, anak-anak, dan makanan. Terkadang, kami saling meminta satu bantuan terakhir: jika salah satu dari kami tewas, carilah cara untuk menyampaikan kabar duka itu dengan lembut kepada ibu kami.
Saya tidak tahu kapan perang ini akan berakhir. Namun, saya tahu apa yang saya inginkan jika suatu hari nanti bisa pulang untuk selamanya.
Saya ingin duduk bersama keluarga di tepi laut, dengan sepiring nasi putih dan ikan serta segelas teh merah. Tidak lebih dari itu. Hanya kami semua, bersama-sama dan dalam keadaan aman.
Selesai
Penulis: Ali Ahmed
Catatan editor: Ali Ahmed berasal dari Aden, sebuah kota pelabuhan di Yaman bagian selatan. Dia bergabung dengan Giants Brigades pada 2026.
Pandangan yang diungkapkan dalam artikel ini merupakan pandangan penulis dan tidak tentu mencerminkan pandangan Kantor Berita Xinhua.
Bagikan

Komentar
Berita Terkait

Xi Jinping dan budaya Prancis: " Kebesaran hati yang lebih luas dari langit"
Indonesia
•
06 May 2024

Jejak Unit 9420 Jepang ternyata sampai Indonesia, sejarah perang biologis mulai terkuak
Indonesia
•
15 Aug 2026

Latihan militer internasional bertema perang ranjau digelar di Turkiye barat laut
Indonesia
•
30 Nov 2023

5 hingga 7 Pasien di Gaza berada di ambang kematian setiap hari akibat keterlambatan akses pengobatan di luar negeri
Indonesia
•
25 May 2026


Berita Terbaru

Sekitar 500.000 orang ikut demo di Prancis, 200.000 pengunjuk rasa padati Paris
Indonesia
•
01 Nov 2026

Netanyahu terdesak, oposisi unggul dalam ‘exit poll’, tetapi mayoritas masih buntu
Indonesia
•
28 Oct 2026

Fokus Berita – Pemilu Israel di tengah operasi militer, warga Palestina khawatir kehidupan kian sulit
Indonesia
•
28 Oct 2026

Kereta diizinkan melaju meski sinyal merah, menteri spanyol pertanyakan keputusan pusat kendali
Indonesia
•
29 Oct 2026
